Sabtu, 21 April 2012

Rhea







Dear Rhea yang baik.


Mari kita bicara tentang laut. Kita bicara tentang ibu dari segala peradaban. Dalam sejarah evolusi dunia, laut adalah rahim yang melahirkan mahluk darat, yang kelak oleh para Darwinis akan dirunutkan sebagai sebuah nubuat masa lalu. Laut juga tempat dimana segala manusia pergi dan pulang. Di pantai-pantainya yang panjang dan luas ia telah melabuhkan para penakluk, pesakitan, budak, penjajah dan juga para pelarian. Laut adalah apa yang kau sebut awal dan akhir.


Tapi tentu catatan ini akan menjadi sangat basi dan menyebalkan jika kita hanya berbincang tentang laut. Karena sejatinya laut juga tak pernah meminta untuk dikisahkan. Ia hanya menunggu. Mendengar. Dan membiarkan dirinya menjadi segala limbah dan sampah berhilir. Saya kira kita lebih banyak berkisah tentang daratan daripada laut. Padahal ia lebih banyak menerima segala kurang kita. Daripada daratan yang kerapkali mengecewakan harapan-harapan.


Seperti itu ya Rhea? Laut selalu menjadi objek afeksi manusia dari masa ke masa. Sesuatu yang menakutkan juga indah. Sesuatu yang Transenden namun juga Profan. Sesuatu yang  Seperti kata Gibran "For life and death are one, even as the river and the sea are one." Laut juga yang merebut nyawa para pelaut dan membiarkan para kekasihnya menjadi janda. Laut pula yang menenggelamkan sebuah pulau untuk kemudian kelak melahirkan daratan di sisi lain dunia.


Tetapi laut pula yang berkisah tentang sebuah vakansi yang kelak disebut sebagai petualangan mencari dunia baru. Kita tak akan pernah mengenal dunia baru dengan segala peradabannya jika laut tak membiarkan dirinya ditindih para pelancong. Jika saja Bangsa Bugis tak melaut dan membuat kerdil para kelasi Portugis. Kita juga mungkin tak akan pernah menjadi manusia-manusia hitam yang ditakuti sebagai Boogie Man oleh peradaban barat. 


Rhea. Maaf jika kemudian dalam tulisan ini aku meracau tentang laut. Aku tak begitu kenal kau. Kita hanya bertemu sesekali. Tak pernah berbincang panjang. Tak pernah bertukar umpatan kutuk. Namun aku bisa melihat bahwa kau adalah sebenar-benarnya kawan. Seseorang yang bisa mendengar dan mendengar dan mendengar dengan sangat baik tanpa harus berkata-kata. Seseorang yang dalam diamnya telah mampu memberikan ketenangan bagi orang lain.


Kamu tahu? Bahwa seringkali kita terjebak pada kata-kata. Manis tapi juga meregangkan bengis yang tersimpan rapi. Tapi kamu sadar itu semua bukan? Bahwa kamu yang kerapkali menjadi lautan bagi segala sumpah serapah, cerita sedih, dan juga rutuk kebencian sudah tamat mendengar itu semua. Kamu telah menjadi lautan bagi kawan juga sahabat yang tak tahu lagi kemana mereka harus mengalirkan sungai perasaannya. 


Kukira kawanmu juga tak adil. Tapi aku juga tak tahu siapa yang kau anggap kawan atau yang menganggapmu kawan. Mereka berhutang waktu dan telinga untuk mendengar. Juga mereka kerap berhutang penjelasan mengapa dikala sedih kau harus tampil di depan. Namun saat ada kebahagiaan kau disingkirkan (atau dilupakan) jauh jauh. Ya, seperti kata Epictetus  “Untuk menyenangkan orang lain kerap kali kau kehilangan apa yang menjadi keinginanmu," dan itu aku temukan sebagai sebuah kebusukan.


Namun apalah kau ini jika menjadi manusia yang larut dalam pamrih. Kau bisa dicintai dengan demikian rupa juga karena menjadi laut yang tak pernah ingin merubah rasa sungai menjadi asin. Seperti yang kubilang. Aku tak dekat dengan kau. Sehingga dalam menulis inipun aku tak bisa banyak bercerita. Hanya sekedar meraba-raba dari sesekali pertemuan kita. Dalam pertemuan yang singkat itu aku menemukan bahwa kau adalah seorang manusia yang telah matang karena kisah orang lain.


Juga demikian perihal usia manusia. Kematangan kukira lahir dari banyak perdebatan, banyak luka dan juga banyak kesedihan. Bukan kebahagiaan yang membentuk peradaban manusia namun tragedi yang lahir dari banyak lakon yang terlalu tengik. Laut, seperti juga kau, telah banyak menerima badai juga arus yang begitu hebat. Kamu teguh mendengar cerita dan keluh kesah kawanmu, yang kukira tidak terjadi sebaliknya. Terkadang kita sebagai manusia kerap dhaif saat usai menderita.


Kita seringkali lupa berbagi kepada mereka yang membuat kita bangkit berdiri. Kita seringkali lupa untuk membalas atau setidaknya memberikan balasan atas sebuah bantuan. Tapi seperti sebuah pepatah lama "Eine Hand wäscht die andere"  Tangan yang satu akan membersihkan tangan yang lainnya. Tentu tak bisa hidup tanpa orang lain. Tapi bukan berarti Rhe, kamu harus selalu ada untuk orang lain. Ah... Viele Köche verderben den Brei. Bukan begitu Rhea?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar