di meja bundar
di meja bundar
sumpah yang patah
dikebiri harapan
serupa mendung
yang urung hujan
"kau lelaki yang hebat, sahabatku,
mengapa kau lakukan ini padaku?"
pertanyaan itu kebas
karena piring yang pecah
tak punya rupa
selain sampah
adakah yang tertinggal?
selain sumbing kenangan
dan sayat sesak
Seusai Perang
gigi parang yang kau ayunkan
tak lebih tumpul dari akalmu
Munafik
kuda hitam yang kelam meraungraung ingin kawin ketika perang berkecamuk sementara kau ya kau kau yang kau yang kau kaukan merengekrengek ingin melaju terjun beradu nyali dengan pasukan lawan seolah kemenangan akan memberimu surga
tapi kau tau itu tidak benar
tidak pernah benar
dan bukan sesuatu yang benar
perang adalah maling
yang pelan pelan
membawa pilu
untuk dibanting ke dahimu
lebih keras
Tidak ada komentar:
Posting Komentar