Jumat, 29 Maret 2013

Sepucuk Surat Untuk Tuhan

Tuhanku apakah kau disana?

Maksudku. Apakah kau masih disana. Duduk sendirian di ars. Dilapisan langit keberapa entah kau berada. Atau sedang duduk sendiri menghangatkan kaki di neraka. Mempersiapkan segalanya untuk hari akhir. Kau tahu? Seperti seorang penyelia mempersiapkan sebuah pesta. Kau tentu tak ingin ada yang salah atau kurang sempurna. Tapi apakah begitu Tuhan? Maksudku apakah haruskah manusia sekali lagi dihukum atas apa yang ia lakukan di dunia. Kukira diciptakan sebagai manusia adalah siksaan itu sendiri. Tapi sekali lagi. Aku hanya mahluk. Tahu apa soal masalah keTuhanan?

Bertahun-tahun aku bertanya untuk apa neraka diciptakan. Kalau surga jelas untuk bersenang-senang. Tapi neraka? Bukankah itu adalah sumber penderitaan. Apakah Kau masokis Tuhan. Maksudku, kau tahu, menyukai melihat penderitaan mahluk lain. Konon ada kelakar dari salah satu ciptaanmu yang brilian. Santo Agustinus. Ia berkata "Tuhan menciptakan neraka untuk menyiksa mereka yang membangkang. Tapi tempat itu kosong. Karena Tuhan begitu penyayang. Ia bahkan tak tega memasukkan iblis ke dalamnya," apakah itu benar Tuhan?

Kukira kita sama-sama tahu bahwa cinta selalu mengalahkan kebencian. Kau lebih dari apapun di seluruh mayapada ini tahu itu Tuhan. Eh tunggu dulu. Kau kenal aku kan Tuhan? Ciptaanmu yang entah ke berapa. Kau ingat bukan? Atau kau telah lupa karena terlalu banyak yang kau ciptakan di jagat raya ini. Barangkali Kau lupa Tuhan. Aku Arman Dhani. Saat ini menganggur dan sudah lama tak pernah menyembahmu. Mengapa? Kau tentu tahu alasannya. 

Tapi sudahlah. Membahas alasan mengapa aku tak lagi beribadah akan sama tak pentingnya dengan alasan mengapa seseorang yang menabrak mati orang dan bayi bisa lepas begitu saja. Tuhan apakah kau ada disana ketika Rasyid Radjasa menabrak mati seorang bayi? Apakah kau ada disana ketika malaikat maut mengangkat roh ringkih bayi itu? Apakah kau melihat matanya? Apakah kau merasakan apa yang dirasakan ibunya? Apakah kau tahu Tuhan?

Lebih dari itu. Apakah kau pernah merasa kehilangan Tuhan?

Apakah kau tahu rasanya kehilangan karena kematian. Kau yang Al Baqi yang maha abadi pernahkah merasakan kehilangan? Apa perasaanmu Tuhan ketika kekasihmu, pacarmu yang kau sayang, Muhammad meninggal. Apakah kau menderita Tuhan? Apakah kau lega karena ia akhirnya ada di sisimu. Atau kau malah bersedih? Apakah kau tahu rasanya bersedih Tuhan? Apakah kau pernah menangis? Kalau kau tak ingin menjawab tak apa Tuhan. Kita punya rahasia masing-masing.

Kau tentu rahasiaku. Kau adalah yang maha mengetahui bukan? Tapi cukup tentangku Tuhan, jika kau tak sibuk. Maukah kau mengajariku cara menghadapi kehilangan? Bagaimana cara agar manusia bisa tegak dan tetap sadar hidup seperti apa adanya ketika ia kehilangan. Kukira aku harus protes. Begini. Perasaan yang kau sematkan pada tiap-tiap manusia salah satunya adalah mencintai. Perasaan jenis ini seringkali hadir dengan efek samping. Kau tahu Tuhan? Seperti cemburu. Kau sendiri bukankah Tuhan yang tak mau diduakan. Tak mau ada Tuhan lain yang disembah. Tapi mengapa kau ciptakan perasaan ini Tuhan?

Apakah kami manusia harus belajar menjadi Kau Tuhan? Belajar bahwa dibalik segala Maha Mu kau adalah Sesuatu yang juga bisa memiliki perasaan. Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pendendam, Maha Pemurah, Maha Sabar. Tapi apakah kau bahagia Tuhan? Apakah Kau bahagia dengan segala kekuasaan dan kekuatanmu yang tiada terbatas itu. Apakah Kau tersenyum saat ini Tuhan? Apakah Kau puas dengan segala apa adanya kami. Dengan segala kebencian yang kami miliki dan segala kerusakan yang kami buat. Apakah Kau masih mencintai kami Tuhan?

Tuhan. Apakah kau membenci satu umat dan mencintai umat yang lain? Apakah satu umat lebih istimewa dari yang lain? Apakah satu umat berhak menyakiti umat yang lain? Tuhan apakah Kau membenci salah satu dari mereka lantas kau berikan hak pada umat yang lain untuk menghancurkan rumah ibadah orang lain. Tuhan apakah kau Muslim? Apakah kau Katolik? Tuhan apakah kau Hindu? Apakah Kau membenci umat yang kau pikir tak seragam dengan jalan kehendakmu? Apakah kau membenci kami Tuhan?

Tuhan. Jika kelak aku masuk surga, bolehkah aku jadi Katolik? Jika aku selamat dari neraka, bolehkah aku jadi pengikut Budha? Tuhan. Jika aku masuk surga. Bolehkah aku meminta agar teman-temanku yang bukan islam masuk di dalamnya? Bukankah kau bilang segala permintaan di surga akan kau kabulkan? Jika demikian. Bolehkah aku mencintai mereka yang bukan islam? Jika kita memang harus seragam. Bukankah ini hanyalah perkara mudah. Kau hanya perlu berkata maka "Jadilah".

Tuhan. Mengapa kau membenci penyair?

Tuhan. Aku sangat menyukai puisi. Barangkali firmanmu adalah sajak yang paling indah yang pernah kubaca dalam hidupku. Firmanmu adalah bait puisi yang tak akan pernah usai aku cerna maknanya. Tapi Tuhan. Mengapa kau buat juga aku membenci penyair? Dengan cara yang tak terduga kau ajarkan aku cara membenci sajak. Perihal laku degil hina yang dilakukan penyair-penyair tua pada wanita. Tuhan apakah itu caramu mengingatkanku untuk tak lagi percaya pada kemurnian kata-kata?

Tuhanku. Aku belum pernah semarah ini dalam hidupku. Oke mungkin aku pernah marah padaMu ketika kau memutuskan memanggil almarhum kakakku. Tapi kemarahan ini lebih dari kemarahan yang pernah aku rasakan sebelumnya tuhan. Kau tak hanya berhasil membuatku membenci penyair. Kau mampu membuatku berpikir bahwa kata-kata sudah jatuh pada titik nadir paling jijik. Sehingga aku membenci diriku sendiri yang mencintai puisi. Tuhan bukankah ada hal yang lebih penting ketimbang membuka mataku atas kecintaanku yang buta pada puisi?

Tuhan. Aku berjanji tak akan lagi membaca puisi. Atau lebih baik. Aku berjanji tak akan lagi menyentuh puisi. Tapi kumohon padamu. Muliakanlah mereka yang dihinakan karena puisi. Muliakanlah mereka yang dipermainkan dan dilecehkan melalui puisi. Tuhanku yang baik. Penyair yang tiada banding. Bukankah sifatmu Ar Rafik sebagai yang membuat mulia? Tuhanku yang baik. Selamatkanlah puisi dari perilaku hina para penyusunnya. Itu saja.

Eli! Eli! Lama sabachtani. Tuhanku. Tuhanku. Mengapa Kau tinggalkan aku?

Tuhanku. Aku kadang lelah padaMu. Lelah menyebut namaMu dalam doa-doaku. Lelah berharap padaMu dalam dzikir-dzikirku. Tuhanku. Apakah akhir akhir ini kau pernah mengabulkan doa? Apakah kau hanya mengabulkan doa beberapa orang saja? Atau hanya satu kaum saja? Apakah karena ia bukan umatmu. Meski ia menderita dan dinista kau tak akan mengabulkan doanya. Bagaimana jika aku adalah kaum minoritas yahudi di Arab Saudi. Apakah Kau akan mendengar doaku? Tuhan apakah kau pilih kasih?

Tuhan. Apakah kau pernah merasa sangat tak berdaya. Ketika segala apa yang kau bisa tak melahirkan apa-apa kecuali kekecewaan. Ketika segala apa yang kau perbuat tak merubah apapun selain penistaan. Tuhan. Apakah kau di sana? Ketika beberapa orang Ahmadiyah diusir dari rumahnya? Apakah kau ada disana ketika salah satu dari umatmu yang konon paling zuhud menebaskan parangnya ke tubuh Ahmadi yang lemah tak berdaya. Lantas mati meregang nyawa. Apakah ia Kau masukan neraka?

Tuhan apakah kau ada di sana juga? Ketika tubuh lemah Bilal Bin Rabbah di siksa? Ketika ia dimuliakan dan menjadi pengikut awal mula. Atau kau hanya memilih mebantu orang-orang yang kau anggap benar dan menafikan sisanya? Tuhan pernahkah kau merasa ditinggalkan? Seperti sudah memberikan kesempatan, memberikan rahmat, memberikan berkat dan memberikan segalanya. Namun yang kau peroleh malah kufur nikmat, laku syirik dan perbuatan fasik. Apakah kau mendendam tuhan?

Aku tahu. Menjadi Tuhan tak pernah mudah. Barangkali disana Kau disana dengan seluruh uban dan kerut di kening Mu, sudah kelelahan melihat perilaku manusia. Barangkali disana Kau dengan mata yang berat melihat perilaku manusia dan kau hanya bisa menghela nafas sendirian. Barangkali disana Kau dengan nafas yang berat sudah semakin renta dan semakin pesimis ghairu ummah yang kau ramalkan datang masih jauh panggang dari api. Umatmu semakin lupa cara mencintai dan kebencian adalah sebagian dari dakwah. Islam makin terasing dan citramu makin garang.

Apakah kau kesepian Tuhan?

Maksudku. Kau tahu. Sendirian selama berabad-abad lampau. Kau usir kakek moyangku Hawa dan Adam dari surga. Lantas kau diamkan Malaikat-Malaikat. Mengutuk setan di jagat raya ini. Jika kau tak berkenan bicaralah padaku Tuhan. Tenang. Aku tak akan bicarakan pada siapapun. Rahasiamu aman padaku. Atau jika Kau malu. Aku akan ceritakan satu rahasiaku Kau ceritakan satu milikmu. Sedari tadi aku sibuk bertanya dan menuntut. Tapi aku bisa apa? Aku mahluk. Sebagai mahluk aku hanya bisa berdoa dan berharap. Bukankah lemahku adalah bentuk pemunjaanku padamu Tuhan?

Tuhan. Apakah almarhum kakakku masuk Surga? Kau tentu tahu. Ia adalah manusia yang dikecewakan nasib. Menahun menegak alkohol. Menjauhimu. Namun di akhir hayat ia begitu khusyuk mencintaimu. Apakah kau mau menerimanya kembali Tuhan? Apakah kau mau menerima manusia yang selama ini hanya bisa mengecewakanmu? Entah diriMu, tapi aku akan menerima siapapun yang mau mencintaiku apa adanya. Aku akan mencintai mereka yang mau kembali padaku sebagai dirinya sendiri. Dengan segala salah dan lukanya sendiri.

Tuhan. Bolehkah aku berdoa untukMu? Iya. UntukMu. Aku berharap kau selalu sehat. Aku berharap Kau selali mencintai kami Tuhan. Aku berdoa semoga kau tak lelah berharap dan memberikan kami manusia untuk menjadi lebih baik lagi. Tuhan. Jika Kau kelelahan. Kau boleh beristirahat. Mungkin memang kami yang dhaif lagi fana ini hanya bisa menyusahkanmu. Kau tahu? Seperti Doa yang dipanjatkan Chairil Anwar dalam puisinya. "Tuhanku, di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling, cayaMu panas suci, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.

Tuhan. Terakhir. Sebelum aku menutup surat ini. Maukah kau mencintai mereka yang mencintaiku? Maukah kau mencintai mereka yang aku cintai? Maukah kau memaafkan mereka yang aku benci? Maukah kau menyelamatkan mereka yang menyakitiku? Tuhan. Maukah kau menjaga ia yang aku kasihi? Maukah kau menerima mereka yang menerimaku? Maukah kau melindungi ia yang melindungiku? Tuhan. Aku berharap kau mau menjaga ia yang aku sayangi diam diam. Ia tak perlu tahu. Cukup Kau dan aku saja.

Tertanda.

Arman Dhani.


5 komentar:

  1. KAU TUHAN BARU KU

    BalasHapus
  2. Cepatlah mati, maka jawabannya akan tersedia :D

    BalasHapus
  3. Saya langsung teringat tulisan ini saat beberapa catatan harian Ahmad Wahib dibacakan kemarin...

    BalasHapus