Selalu ada yang intim dan dekat
ketika saya datang ke toko buku. Sebuah perasaan bahwa saya sedang berada di
rumah dan berada di antara keluarga. Klise memang. Tapi entah mengapa toko
buku, juga perpustakaan, selalu memberikan perasaan damai. Bahwa seharusnya
tempat-tempat semacam ini harus dibikin lebih banyak. Bahkan jika perlu
dibangun lebih banyak daripada rumah ibadah yang hanya ramai dan penuh seminggu
sekali itu.
Ketika saya masih kanak-kanak
toko buku adalah tempat rekreasi nomor tiga setelah pusat perbelanjaan dan
rumah makan. Ayah saya tak begitu suka mampir ke Gramedia karena alasan
sederhana; tempat parkirnya sempit dan gak ada foodcourt. Tapi bagi saya
Gramedia, yang dari rumah saya terletak lebih dari 50km jauhnya, bisa seperti
bianglala. Ada berbagai jenis komik, buku cerita dan ensiklopedia yang terlihat
wah. Kala itu alih-alih membelikan ensiklopedia bergambar disney yang dijual
paketan, ayah memberikan saya Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) sebagai
gantinya. Sedih.
Beranjak dewasa toko buku selalu
menjadi wahana eskapis paling menyenangkan. Sering di awal-awal saya kuliah
berdiam diri di Togamas atau Gramedia sembari membaca buku dilakukan
berjam-jam. Sehingga Mas Trik, supervisor Togamas Jember, kenal baik dengan
saya. Sering ia memberikan keleluasaan saya untuk membuka buku segel dan
mendapatkan diskon tambahan jika membeli buku. Kadang saya berpikir sebuah toko
buku akan lebih sukses dan besar jika mereka memperlakukan para pelanggan
selayaknya keluarga.
Dibanding Gramedia saya jelas
memilih Togamas toko buku diskon yang murah dan lebih manusiawi. Belakangan
saya beralih membeli buku di toko buku online karena mencari buku-buku klasik
yang sudah susah dicari di toko buku biasa. Beberapa toko buku maya tersebut
memasang harga yang lumayan tinggi untuk beberapa judul buku. Awalnya saya kira
wajar karena buku tersebut memang susah dicari dan susah untuk didapatkan.
Namun belakangan hal ini tidak sepenuhnya benar. Beberapa penjual tega
menawarkan barang dengan harga tinggi kepada pembaca awam untuk mencari laba
setinggi-tingginya.
Memang dalam bisnis merupakan hal
yang sangat wajar dari seorang penjual untuk menawarkan barang untuk meraih
laba setinggi-tingginya. Juga sangat wajar dan dibenarkan jika penjual memberikan
harga tinggi karena sebuah benda langka atau memang susah didapatkan. Selaiknya
teori suply and demand, ketika keberadaan bahan berbanding terbalik dengan
kebutuhan maka harga meningkat. Siapapun tahu hal ini. namun sangat disayangkan
apabila penjual buku yang notabene juga penikmat buku menjual sumber
pengetahuan ini dengan harga mencekik hanya untuk uang semata.
Beberapa waktu yang lalu saya
sempat berbincang dengan seorang penjual buku di twitter yang menawarkan harga
buku sangat tinggi. Ia menjual seri tetralogi pulau buru karangan Pramoedya
Ananta Toer terbitan hasta mitra dengan bandrol Rp. 250.000. Dalam perbincangan
saya ketahui jika buku tersebut bukanlah cetakan pertama, malah beberapa bagian
buku sedikit rusak dan ada stempel kepemilikan. Lantas saya bertanya jika
kondisinya demikian mengapa dijual mahal? Ia menjawab dengan santai bahwa buku
ini langka dan banyak yang cari. Sesederhana itukah?
Ketika membeli sebuah buku, hal
pertama yang saya utamakan adalah isi dan kualitas dari buku tersebut. Bukan
hanya buku tersebut bukan tentang kualitas fisik, tapi lebih kepada apakah
cerita atau konten buku tersebut menarik dan penting? Sejak lama saya
menyenangi buku-buku sastra, terutama buku puisi. Jadi ketika ada buku puisi
yang menarik, semahal apapun buku tersebut akan saya bayar. Namun tentu dengan
akal sehat, karena akan jadi sia-sia bukan jika buku dibeli namun membuat kita
ketar-ketir bingung mau makan apa besok?
Dalam membeli buku ada baiknya
kita bijak. Awali dengan pertanyaan sederhana “Mengapa kita perlu membeli
sebuah buku?”. Pertanyaan itu akan mencegah kita berbuat impulsif dan membeli
buku yang tak penting. Saya tahu ini karena sebagai pembeli buku impulsif saya
sudah banyak mengeluarkan uang untuk buku. Buku yang terbeli akhirnya teronggok
dan tak terbaca karena isi tak seusai dengan harapan. Percuma membeli buku jika
toh pada akhirnya buku itu tidak terbaca bukan?
Dalam membeli sebuah buku
biasanya saya sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya apabila buku itu berseri
maka membeli kelanjutan buku tersebut bisa menjadi prioritas dan dibenarkan.
Seperti seri Ali Topan anak jalanan dari Teguh Ehsa. Atau buku tersebut adalah
sebuah buku yang lahir dari polemik dan muncul buku lain yang menjawab polemik
tersebut. Seperti buku Prahara Budaya dan Lekra Tak Membakar buku. Atau bisa
juga buku tersebut kita beli sebagai bahan penelitian, riset, dan tugas
kuliah/kerja. Ada unsur pragmatis untuk alasan ini namun bisa dibenarkan.
Adapula alasan lain seperti iseng
karena ingin membaca sesuatu yang beda dan segar. Sebagai pembaca karya sastra,
meski tidak serius, saya kadang mencoba membaca buku-buku bergenre komedi atau
catatan perjalanan. Buku semacam bisa jadi penawar kejenuhan karena pusing
dicekoki kata-kata puisi yang multitafsir. Tetapi membeli buku tanpa alasanpun
tidak masalah. Pertama karena itu uang anda sendiri dan yang kedua tak ada
salahnya membeli buku daripada membeli tiket konser yang seringkali tak
penting.
Setelah mampu menjawab mengapa
kita perlu membeli buku ada baiknya disesuaikan dengan kemampuan anda membeli.
Toh tak melulu nafsu untuk memiliki buku perlu dipuaskan. Menahan diri untuk
memenuhu kebutuhan primer seperti sandang-pangan juga penting. Jika sebuah
harga buku kelewat mahal dan tak masuk akal ada baiknya menahan diri. Jangan
terburu nafsu impulsif membeli tanpa melakukan perbandingan harga di toko lain.
Bagi saya pribadi jika sebuah buku ada di Togamas atau Social Agency (Jogja)
saya tak akan membeli buku tersebut di Gramedia.
Hal yang sama perlu anda terapkan
juga di toko buku online. Beberapa pedagang buku menjual buku dengan semaunya
dan tak masuk akal. Pernah saya temui buku Penembak Misterius karya Seno Gumira
Ajidarma terbitan Grasindo dijual seharga Rp. 90.000 padahal jika ada pameran
kita bisa memilikinya dengan harga tak lebih dari Rp. 5.000 saja. Beberapa
penjual buku online bisa sangat curang pada pembeli awam yang kepepet dan
terburu nafsu untuk memiliki.
Apakah salah mencari laba tinggi?
Tidak. Namun bagi saya kurang etis menjual sesuatu dengan memanfaatkan
ketidaktahuan konsumen dan mencari laba segila-gilanya. Belum lagi pedagang
buku yang ogah memberikan alasan dan penjelasan mengapa sebuah buku menjadi
mahal. Alasan klise semacam banyak orang yang cari dan stok sedikit bagi saya
tak cukup. Penjual buku harus bisa memberikan penjelasan etis sebagai sebuah
tanggung jawab mengapa buku tersebut mahal.
Misalnya mengapa buku Pram yang
berjudul Gulat di Jakarta cetakan Indonesia tahun 1953 berharga mahal? Dan bukankah
cetakan Malaysia tahun 1995 berharga mahal? Karena buku tersebut dicetak sangat
terbatas dan mungkin hanya terselamatkan sebanyak 1.000 eksemplar. Jadi buku
tersebut memang susah dan sangat sulit dicari. Berbeda dengan cetakan Hasta
Mitra yang dicetak sangat masif paska jatuhnya Soeharto. Hampir setiap minggu
buku itu ada dan terjual dalam kisaran 80-100ribu rupiah. Nah jika ada yang
menjual dengan harga 250ribu kita patut curiga dan bertanya.
Beberapa kawan dengan nada
berseloroh mencibir kritik saya terhadap penjual buku online. “Kamu sama pedagang
kecil kritik kencang sekali. Beli buku di Gramed harganya ratusan ribu diam
saja,” kawan saya tersebut benar. Tapi ada perbedaan besar antara Gramedia
sebagai toko buku brengsek yang juga membakar bukunya sendiri dengan pedagang
buku kecil yang licik mencari laba besar dari ketidaktahuan konsumen.
Ketika ke Gramedia orang sudah
memiliki kesadaran bahwa toko itu tak pernah menjual buku murah selain ketika
ada acara diskon. Sedangkan kepada pedagang buku online atau lapak pinggir
jalan kita berharap mendapatkan buku yang relatif lebih murah dari toko besar.
Memang ada sebuah realitas yang perih di sini. Saat saya ke Gramedia tentu tak
akan melakukan transaksi tawar menawar. Sedangkan pada pedagang buku bekas saya
akan menawar semurah mungkin. Terlihat sangat munafik memang. Tapi yang jelas
saya jarang menawar jika buku tersebut harganya masuk akal dan si penjual bisa
dengan jelas memberikan alasan mengapa buku tersebut mahal.
Buku online seperti juga penjual
buku dilapak-lapak jalanan tentu tahu bahwa buku bekas bisa didapat dengan
murah di loakan. Dari harga beli dan harga jual si pedagang pasti sudah
mempertimbangkan margin laba yang diinginkan. Ini yang membuat saya sangat
kesal apabila sebuah buku yang notabene bisa didapatkan dengan mudah dan banyak
jumlahnya dijual dengan harga mahal. Seringkali saya ingin membubuhkan komentar
di lapak online mereka bahwa di toko anu jauh lebih murah. Atau cari saja di
toko ini karena lebih terjangkau. Tapi hal ini tentu salah dan bisa mematikan
sumber pencaharian orang.
Sayangnya belakangan makin banyak
toko buku online yang keblinger dan menjual buku seenak jidatnya. Beberapa
waktu lalu ada seseorang yang menjual buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I
dan II karangan Sukarno dengan harga 9juta. Sebuah harga yang gila untuk buku
yang dengan uang 300rb anda sebenarnya bisa memilikinya. Si penjual buku DBR
ini malah bangga karena bisa menjual dengan harga mahal padahal dibeli dengan
harga murah. Ada yang salah di sini. Seseorang yang mengetahui nilai
pengetahuan buku lantas melacurkan benda tersebut, bagi saya tak lebih baik
daripada penjagal nazi.
Adapula penjual buku yang tak
jujur menjelaskan kondisi buku. Apakah buku tersebut rusak dimakan rayap,
terkena air, noda tinta, coretan atau bahkan hilang halaman. Beberapa penjual
juga tidak jelas mengatakan jika buku yang dijualnya itu adalah buku hasil
fotokopian. Hal ini yang membuat transaksi jual beli buku secara online
beresiko. Ada baiknya sebagai pembeli pemula anda bertanya kepada rekan yang
sudah sering melakukan transaksi atau bisa membeli buku dengan jumlah kecil.
Dari situ anda bisa menilai
apakah toko tersebut jujur, terpercaya dan pelayanannya memuaskan. Karena
adapula penjual yang sangat ribet dalam melakukan transaksi karena mewajibkan
pencantuman bukti transfer. Sementara penjual yang lain bisa dengan mudah
mengirimkan barang dengan konfirmasi pengiriman saja. Namun hal ini jangan
disalahgunakan untuk melakukan pembelian buku dengan menipu. Mengaku sudah
membeli namun tak mengirimkan uang. Ini adalah tindakan kriminal dan tentu saja
akan membuat penjual buku tersebut merugi.
Namun ada juga toko buku yang
dengan seenaknya mengirimkan buku pesanan kita tanpa melakukan konfirmasi
transaksi sebelumnya. Sudah jamak di antara penjual dan pembeli langganan untuk
menyimpan pesanan sampai satu nilai tertentu sebelum akhirnya membayar. Namun
jika barang dikirimkan dulu lantas penjual menagih bagi saya itu seperti
pemaksaan untuk membeli. Tak salah memang namun memberikan ruang bagi pembeli
untuk memilih juga bukan kejahatan. Pedagang semacam ini berpotensi ditipu oleh
pembeli yang nakal. Selain itu si penjual berpotensi dianggap memaksa membeli oleh pelanggan.
Lantas mengapa sebuah buku bisa berharga sangat mahal? Hal ini bisa diaplikasikan pada segala jenis benda koleksi seperti action figure, komik, vinyl, kaset dan mainan. Sebuah benda menjadi mahal karena punya nilai sejarah penting, bisa pula karena ada ikatan emosional kepada si kolektor. Tapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan panduan bagi pembaca atau kolektor buku pemula untuk bisa menilai sebuah barang menjadi mahal atau murah. Hal ini saya tuliskan hanya sebagai pegangan saja agar anda sekalian bisa bijak memilih dan membili dan tidak terburu nafsu membeli sebuah barang mahal hanya karena keinginan sesaat.
Pertama ketika anda ingin memulai koleksi buku, mulailah dengan buku-buku yang anda sukai. Karena seorang kolektor buku dan pembaca biasa dapat dibedakan berdasarkan buku yang ia beli. Bisa jadi buku yang terorganisir berdasarkan genre tertentu seperti karya sastra, buku cerita bergambar, buku cerita anak-anak atau bisa juga buku tentang misteri. Jangan ikut-ikutan membeli buku hanya karena cerita atau rekomendasi orang tanpa memiliki dasar. Jangan karena buku tersebut dianggap langka dan penting anda ikut-ikutan. Selain boros belum tentu buku tersebut sesuai dengan minat anda. Bisa-bisa setelah membeli kecewa dan pada akhirnya buku itu teronggok tak terbaca.
Kedua. Syarat terpenting dalam mengkoleksi buku jadul atau langka adalah kondisi. Seingin apapun anda jika buku itu terlanjur rusak, tidak sempurna maka lebih baik anda urungkan. Kecuali anda membeli hanya untuk membaca isinya. Sulitnya membeli buku secara online adalah kita tak bisa melihat kondisi buku tersebut dan hanya bisa percaya pada omongan si penjual. Jika ini terjadi ada baiknya anda membeli buku hanya kepada penjual yang terpercaya dan memiliki reputasi bagus. Selain itu perlu diketahui kondisi buku mempengaruhi harga jual.
Robert F. Lucas, seorang kolektor juga penjual dan penyusun panduan mengkoleksi buku, mengatakan tiga hal paling penting dalam membeli buku antik. Kondisi, kondisi dan kondisi. Meski buku tersebut cetakan pertama dan bertanda tangan pengarangnya, namun jika dalam keadaan rusak akan merendahkan harga jual. Jangan mau termakan promosi dan perhatikan kualitas. Perhatikan kisi-kisi buku, kondisi sampul, jika itu hard cover apakah ada selimutnya? Jika itu edisi kolektor apakah ada kotaknya? Hal demikian akan mempengaruhi harga jualnya.
Ketiga. Hal yang membuat sebuah buku mahal adalah kelangkaan dan umur buku tersebut. Sebuah buku jika telah lolos dalam seleksi kondisi, artinya kondisinya bagus, perlu dilihat apakah ia cetakan pertama atau bukan? Berapa umurnya? Dengan memahami nilai ini anda bisa menjawab mengapa Injil Gutenberg cetakan pertama tahun 1456 bisa terjual lebih dari 25juta dolar. Tentu karena buku tersebut hanya tercetak beberapa ribu saja di dunia. Selain itu Gutenberg adalah salah satu pioner yang melahirkan mesin cetak dan merevolusi peradaban manusia. Tak hanya mencetak Injil yang menjadi sumber wahyu umat kristen namun ia juga merubah pola pikir dunia lama yang membiarkan injil hanya dimiliki oleh kaum agamawan saja. Kelangkaan, umur dan revolusi peradaban membuat nilai historis buku ini menjadi tak ternilai.
Keempat. Nilai personal sebuah jenis buku. Buku tentang sastra meski itu cetakan pertama dan bertanda tangan bisa jadi tak bernilai apapun bagi kolektor buku misteri dan detektif. Bagi masing-masing kolektor jenis buku tertentu memiliki nilai lebih dari buku yang lain. Inilah yang membedakan seorang kolektor buku profesional dan amatir. Biasanya seorang kolektor buku profesional mengkoleksi buku dengan kategori tertentu. Mengapa? Sederhana saja. To many books to little time. Fokus pada satu jenis buku membantu kita berhemat dan memudahkan dalam perburuan. Jadi jangan kaget jika sebuah buku oleh satu penjual dijual sangat murah sementara oleh penjual lain dijual sangat mahal.
Kelima. Relasi pembaca dan penulis. Irene Harisson, kurator dan pustakawan perpustakaan Andre Norton, mengatakan sebuah buku menjadi penting karena pengarangnya. Apa yang membedakan buku Hoakiau di Indonesia cetakan pertama dan cetakan selanjutnya berbeda? Selain penjelasan saya di atas, adapula penjelasan pengaruh terhadap pengetahuan pembacanya. Seorang Pramis, penggemar Pram, akan tahu bahwa cetakan pertama yang berwarna merah itu dikeluarkan saat Sukarno berkuasa dan menyebabkan ia dipenjara. Nilai sejarah dan sentimentil buku ini, apalagi jika ditambah dengan tanda tangan penulisnya, akan melambungkan buku ini. Apabila harga standar buku ini biasanya berkisar Rp. 75-100rb. Dengan cetakan pertama bertanda tangan mampu melambungkan harga buku ini dalam kisaran 2-3juta rupiah.
Namun apakah kita akan terjebak pada nilai sentimentil sebuah buku? Bagi saya pribadi fungsi utama sebuah buku adalah dibaca. Meski tak menganggap diri seorang kolektor namun saya mengumpulkan berbagai buku tentang puisi. Khususnya karangan Abdul Hadi WM dan Soebagio Sastrowardojo. Bagi saya karya mereka memiliki nilai penting dan personal. Saya tak peduli apakah itu cetakan pertama atau cetakan seratus karena yang penting adalah puisi yang ada di dalamnya. Jadi ketika ada yang menjual buku itu dengan mahal saya lebih memilih menahan diri karena yang terpenting adalah isi di dalamnya.
Sebagai perbandingan dalam artikel lama saya tentang menulis. Saya menuliskan pemikiran Jeffrey Brenzel, dekan sekaligus dosen di Jurusan Filsafat Universitas Yale, tentang lima kriteria sebuah karya tulisan menjadi klasik dan penting. Yaitu: 1. Berurusan dengan kemaslahatan umat manusia, 2. Merubah paradigma umum yang telah pakem selama ini, 3. Mempengaruhi karya lain yang juga lebih hebat, 4. Dihormati oleh berbagai kalangan sebagai karya yang luar biasa, 5. Menantang untuk bisa dipahami tapi sangat setimpal dengan kerja keras yang dikeluarkan.
Jadi pastikan ketika membeli buku, entah itu lewat internet, toko buku, tukang loak atau di pinggir jalan, belilah buku karena memang anda menyukai dan membutuhkan buku itu untuk dibaca. Jika buku itu layak dikoleksi anggaplah itu sebagai bonus. Juga saya berharap kepada penjual buku agar lebih manusiawi memberikan harga. Tentu saya tak ingin mengganggu anda dalam mencari penghidupan. Tapi akan lebih etis menjual ilmu pengetahuan dengan harga yang fair. Karena kita bukan babi yang hidup hanya untuk memamah bukan?
aku kurang tertarik dengan isu mengoleksi buku. aku pikir segala yang terkait koleksi ada bau fetish atau snob di sana. lagi pula,
BalasHapusaku pernah dengar nasihat: jangan membeli sesuatu karena alasan barang itu kolektibel. membelilah karena fungsinya. tapi
mungkin aku punya pikiran seperti itu karena enggak mampu beli barang mahal. aku pikir sebuah buku yang bagus tetap bagus tak
peduli itu edisi pertama atau edisi khusus atau tintanya dari emas 24 karat.
di sebuah garage sale pernah terdengar adegan begini:
calon pembeli: 'kenapa kamu jual baju bekas ini mahal sekali?'
penjual: 'oh, itu karena baju itu sejarahnya besar buatku.'
calon pembeli: 'sejarah apa?'
penjual: 'aku kehilangan perawan waktu pakai baju itu.'
akhir-akhir ini aku lebih tertarik dengan isu menyebar buku yang aku miliki. itu membuat koleksi buku di rumahku berkurang drastik,
di lain pihak aku berharap buku itu bermanfaat kepada lebih banyak orang. buku hanya berarti ketika menemukan pembaca
terbaiknya, yang membutuhkannya.
tapi ya jelas koleksi juga bermanfaat bagi banyak orang lain atau minimal untuk dokumentasi atau ketika diperlukan suatu ketika.
dulu aku punya kenalan yang punya koleksi wiro sableng, abdullah harahap, freddy s. dan sejenisnya yang buatku menggelikan,
karena buku sejenis itu bisa aku pinjem di taman bacaan. tapi sekarang aku merasa dia melakukan hal baik, setidaknya dia tahu
persis konstelasi dunia wiro sableng itu seperti apa. kalau ada manfaat/kebaikannya, kita dukung saja. :D
keluar dari konteks, tapi aku kehilangan dhani yang bebas..
BalasHapusaku cuman pembaca awam yg ngga tau tulisan bagus, tapi menurtku akhir2 ini tulisanmu terlalu terbatasi a, b dan c dan d dan bla bla bla... :(
Tulisan yang mencerahkan, terima kasih mas. Saya sering kalap kalau ke toko buku, rasanya tidak sah kalau pulang dengan tangan kosong.
BalasHapuspostingannya sangat bermanfaat sekali, cara bijak membeli sebuah buku :D
BalasHapussaya juga jarang beli buku di Gramedia kecuali diskon besar, lebih suka berjalan-jalan dan melihat buku baru, kalau ingin membeli saya lari ke TogaMas, kalau ada yang murah kenapa pilih yang mahal :D. Kalau ke toko buku online itu adalah pilihan terakhir, bila di toko buku tidak ada dan saya ngebet banget baca buku tersebut, saya akan mulai mencari di olshop yang terpercaya :D
Mereka yang membeli buku terlalu mahal pasti bukan kolektor, karena kolektor biasanya tahu dimana memmbeli buku murah, sebab rajin mendatangi pameran, diskon buku, dan tahu tempat penjual buku2 murah. Karena kolektor membeli buku tidak hanya untuk dibaca; ada buku yang dibeli untuk dibaca, ada yang untuk dilihat2 saja. Saran anda cocok untuk mereka yang bukan kolektor. Bukan kolektor namanya jika tidak melakukan sesuatu secara berlebihan...termasuk membeli buku2 yang tidak mungkin akan sempat terbaca...
BalasHapusDhani emang ganteng, seeep!
BalasHapusDhani emang ganteng, makasih tipsnya!
BalasHapusdulu, saya termasuk penggila bku. buku apapun saya beli: terbaca atau tidak! mungkin kalau dikalkulasi, uang yang buat beli buku bisa buat beli rumah. waktu itu, tahun 2005-2009. kegilaanku berhenti ketika aku start bekerja di Singapura. pikiranku mendadak berubah ketika kegilaanku membeli buku berganti menjadi kegilaanku mengunjungi perpustakaan: kenapa musti membeli buku mahal kalau kita bisa meminjamnya dari perpustakaan? karena buku itu sumber ilmu: bukan koleksi! yang kita koleksi ilmu: bukan buku!
BalasHapustapi kalau boleh tau, sebenarnya nilai buku Di Bawah Bendera Revolusi itu berapa sih?? kok saya lihat di internet ada yg harganya sampai 60 juta...
BalasHapusmohon penjelasan ya..
Rata2 untuk cetakan pertama dengan kondisi mulus dan lengkap dengan box dan cover paling mahal 2 juta. Itupun harus benar2 dalam kondisi prima. Yang bikin DBR sangat mahal karena paska booming 98 buku ini banyak dicari. saat itu memang harganya bisa tembus 30jutaan. tapi kalau hari ini menjual harga segitu termasuk brengsek dan kebangetan.
HapusBuku ini bisa mencapai harga 60 juta, mungkin, dengan alasan. buku itu cetakan terbatas yang dimiliki oleh Bung Karno sendiri, dengan tanda tangan dan pengantar khusus. Atau bisa pula buku tersebut adalah draft awal contoh buku DBR. selain itu harganya seharusnya tak lebih mahal dari 500rb sepasang.
sya punya buku DBR jilid pertama cetakan ketiga thn 1964, sama buku karangan Ir.Soekarno yg brjudul Sarinah cetakan ketiga thn 1963,. minat hubungi 085222442444
BalasHapussaya punya juga itu buku di bawah bendera revolusi...
BalasHapusad yg minat https://www.facebook.com/gembul.street
Suka anget sama postingan kali ini.
BalasHapusSaya punya pengalaman yang mirip tentang Toko Buku di masa kecil. Hanya saja saat itu keluarga kami memang bukan dari yang berkecekupun untuk bis amembeli banyak buku. Ayah saya hanya bisa membelikan Buku 1 bulan sekali hanya untuk berusaha menyenangkan saya. Dimana mata saya berbinar-binar saat menerima buku dari kasir :)
#terharu sekali jika ingat masa itu
Alhamdulillah sekarang saya membebaskan anak saya untuk ke Toko Buku. Setelah toko buku, anak saya pun lebih memilih toko kerajinan tangan untuk memilih bahan DIY untuk dia olah sendiri.. dan bukan memilih toko mainan
Mengajarkan cinta baca kepada anak2 sejak dini, saya fikir bisa meningkatkan dan menstimulasi kreatifitas anak untuk berfikir lebih kristis.
hanya sekedar pendapat :)
Mencintai buku bersejarah berarti Tak melupakan terbentuknya proses perjuangan yang sesungguhnya tak ternilai dalam pembentukan masyarakat masa kini.
BalasHapusSampai saat ini saya masih menyimpan Buku Di Bawah Bendera Revoulsi jilid 1 Cetakan tahun 1963 Orisinil koleksi pribadi. Tuk mengetahui Bagaimana kita mencintai Bangsa dan Negara ini dimana kita dilahirkan dan berjuang hidup. BBM 577bba92