Minggu, 10 Maret 2013

Perihal Membeli dan Mengoleksi Buku


Selalu ada yang intim dan dekat ketika saya datang ke toko buku. Sebuah perasaan bahwa saya sedang berada di rumah dan berada di antara keluarga. Klise memang. Tapi entah mengapa toko buku, juga perpustakaan, selalu memberikan perasaan damai. Bahwa seharusnya tempat-tempat semacam ini harus dibikin lebih banyak. Bahkan jika perlu dibangun lebih banyak daripada rumah ibadah yang hanya ramai dan penuh seminggu sekali itu.

Ketika saya masih kanak-kanak toko buku adalah tempat rekreasi nomor tiga setelah pusat perbelanjaan dan rumah makan. Ayah saya tak begitu suka mampir ke Gramedia karena alasan sederhana; tempat parkirnya sempit dan gak ada foodcourt. Tapi bagi saya Gramedia, yang dari rumah saya terletak lebih dari 50km jauhnya, bisa seperti bianglala. Ada berbagai jenis komik, buku cerita dan ensiklopedia yang terlihat wah. Kala itu alih-alih membelikan ensiklopedia bergambar disney yang dijual paketan, ayah memberikan saya Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) sebagai gantinya. Sedih.

Beranjak dewasa toko buku selalu menjadi wahana eskapis paling menyenangkan. Sering di awal-awal saya kuliah berdiam diri di Togamas atau Gramedia sembari membaca buku dilakukan berjam-jam. Sehingga Mas Trik, supervisor Togamas Jember, kenal baik dengan saya. Sering ia memberikan keleluasaan saya untuk membuka buku segel dan mendapatkan diskon tambahan jika membeli buku. Kadang saya berpikir sebuah toko buku akan lebih sukses dan besar jika mereka memperlakukan para pelanggan selayaknya keluarga.

Dibanding Gramedia saya jelas memilih Togamas toko buku diskon yang murah dan lebih manusiawi. Belakangan saya beralih membeli buku di toko buku online karena mencari buku-buku klasik yang sudah susah dicari di toko buku biasa. Beberapa toko buku maya tersebut memasang harga yang lumayan tinggi untuk beberapa judul buku. Awalnya saya kira wajar karena buku tersebut memang susah dicari dan susah untuk didapatkan. Namun belakangan hal ini tidak sepenuhnya benar. Beberapa penjual tega menawarkan barang dengan harga tinggi kepada pembaca awam untuk mencari laba setinggi-tingginya.

Memang dalam bisnis merupakan hal yang sangat wajar dari seorang penjual untuk menawarkan barang untuk meraih laba setinggi-tingginya. Juga sangat wajar dan dibenarkan jika penjual memberikan harga tinggi karena sebuah benda langka atau memang susah didapatkan. Selaiknya teori suply and demand, ketika keberadaan bahan berbanding terbalik dengan kebutuhan maka harga meningkat. Siapapun tahu hal ini. namun sangat disayangkan apabila penjual buku yang notabene juga penikmat buku menjual sumber pengetahuan ini dengan harga mencekik hanya untuk uang semata.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan seorang penjual buku di twitter yang menawarkan harga buku sangat tinggi. Ia menjual seri tetralogi pulau buru karangan Pramoedya Ananta Toer terbitan hasta mitra dengan bandrol Rp. 250.000. Dalam perbincangan saya ketahui jika buku tersebut bukanlah cetakan pertama, malah beberapa bagian buku sedikit rusak dan ada stempel kepemilikan. Lantas saya bertanya jika kondisinya demikian mengapa dijual mahal? Ia menjawab dengan santai bahwa buku ini langka dan banyak yang cari. Sesederhana itukah?

Ketika membeli sebuah buku, hal pertama yang saya utamakan adalah isi dan kualitas dari buku tersebut. Bukan hanya buku tersebut bukan tentang kualitas fisik, tapi lebih kepada apakah cerita atau konten buku tersebut menarik dan penting? Sejak lama saya menyenangi buku-buku sastra, terutama buku puisi. Jadi ketika ada buku puisi yang menarik, semahal apapun buku tersebut akan saya bayar. Namun tentu dengan akal sehat, karena akan jadi sia-sia bukan jika buku dibeli namun membuat kita ketar-ketir bingung mau makan apa besok?

Dalam membeli buku ada baiknya kita bijak. Awali dengan pertanyaan sederhana “Mengapa kita perlu membeli sebuah buku?”. Pertanyaan itu akan mencegah kita berbuat impulsif dan membeli buku yang tak penting. Saya tahu ini karena sebagai pembeli buku impulsif saya sudah banyak mengeluarkan uang untuk buku. Buku yang terbeli akhirnya teronggok dan tak terbaca karena isi tak seusai dengan harapan. Percuma membeli buku jika toh pada akhirnya buku itu tidak terbaca bukan?

Dalam membeli sebuah buku biasanya saya sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya apabila buku itu berseri maka membeli kelanjutan buku tersebut bisa menjadi prioritas dan dibenarkan. Seperti seri Ali Topan anak jalanan dari Teguh Ehsa. Atau buku tersebut adalah sebuah buku yang lahir dari polemik dan muncul buku lain yang menjawab polemik tersebut. Seperti buku Prahara Budaya dan Lekra Tak Membakar buku. Atau bisa juga buku tersebut kita beli sebagai bahan penelitian, riset, dan tugas kuliah/kerja. Ada unsur pragmatis untuk alasan ini namun bisa dibenarkan.

Adapula alasan lain seperti iseng karena ingin membaca sesuatu yang beda dan segar. Sebagai pembaca karya sastra, meski tidak serius, saya kadang mencoba membaca buku-buku bergenre komedi atau catatan perjalanan. Buku semacam bisa jadi penawar kejenuhan karena pusing dicekoki kata-kata puisi yang multitafsir. Tetapi membeli buku tanpa alasanpun tidak masalah. Pertama karena itu uang anda sendiri dan yang kedua tak ada salahnya membeli buku daripada membeli tiket konser yang seringkali tak penting.

Setelah mampu menjawab mengapa kita perlu membeli buku ada baiknya disesuaikan dengan kemampuan anda membeli. Toh tak melulu nafsu untuk memiliki buku perlu dipuaskan. Menahan diri untuk memenuhu kebutuhan primer seperti sandang-pangan juga penting. Jika sebuah harga buku kelewat mahal dan tak masuk akal ada baiknya menahan diri. Jangan terburu nafsu impulsif membeli tanpa melakukan perbandingan harga di toko lain. Bagi saya pribadi jika sebuah buku ada di Togamas atau Social Agency (Jogja) saya tak akan membeli buku tersebut di Gramedia.

Hal yang sama perlu anda terapkan juga di toko buku online. Beberapa pedagang buku menjual buku dengan semaunya dan tak masuk akal. Pernah saya temui buku Penembak Misterius karya Seno Gumira Ajidarma terbitan Grasindo dijual seharga Rp. 90.000 padahal jika ada pameran kita bisa memilikinya dengan harga tak lebih dari Rp. 5.000 saja. Beberapa penjual buku online bisa sangat curang pada pembeli awam yang kepepet dan terburu nafsu untuk memiliki.

Apakah salah mencari laba tinggi? Tidak. Namun bagi saya kurang etis menjual sesuatu dengan memanfaatkan ketidaktahuan konsumen dan mencari laba segila-gilanya. Belum lagi pedagang buku yang ogah memberikan alasan dan penjelasan mengapa sebuah buku menjadi mahal. Alasan klise semacam banyak orang yang cari dan stok sedikit bagi saya tak cukup. Penjual buku harus bisa memberikan penjelasan etis sebagai sebuah tanggung jawab mengapa buku tersebut mahal.

Misalnya mengapa buku Pram yang berjudul Gulat di Jakarta cetakan Indonesia tahun 1953 berharga mahal? Dan bukankah cetakan Malaysia tahun 1995 berharga mahal? Karena buku tersebut dicetak sangat terbatas dan mungkin hanya terselamatkan sebanyak 1.000 eksemplar. Jadi buku tersebut memang susah dan sangat sulit dicari. Berbeda dengan cetakan Hasta Mitra yang dicetak sangat masif paska jatuhnya Soeharto. Hampir setiap minggu buku itu ada dan terjual dalam kisaran 80-100ribu rupiah. Nah jika ada yang menjual dengan harga 250ribu kita patut curiga dan bertanya.

Beberapa kawan dengan nada berseloroh mencibir kritik saya terhadap penjual buku online. “Kamu sama pedagang kecil kritik kencang sekali. Beli buku di Gramed harganya ratusan ribu diam saja,” kawan saya tersebut benar. Tapi ada perbedaan besar antara Gramedia sebagai toko buku brengsek yang juga membakar bukunya sendiri dengan pedagang buku kecil yang licik mencari laba besar dari ketidaktahuan konsumen.

Ketika ke Gramedia orang sudah memiliki kesadaran bahwa toko itu tak pernah menjual buku murah selain ketika ada acara diskon. Sedangkan kepada pedagang buku online atau lapak pinggir jalan kita berharap mendapatkan buku yang relatif lebih murah dari toko besar. Memang ada sebuah realitas yang perih di sini. Saat saya ke Gramedia tentu tak akan melakukan transaksi tawar menawar. Sedangkan pada pedagang buku bekas saya akan menawar semurah mungkin. Terlihat sangat munafik memang. Tapi yang jelas saya jarang menawar jika buku tersebut harganya masuk akal dan si penjual bisa dengan jelas memberikan alasan mengapa buku tersebut mahal.

Buku online seperti juga penjual buku dilapak-lapak jalanan tentu tahu bahwa buku bekas bisa didapat dengan murah di loakan. Dari harga beli dan harga jual si pedagang pasti sudah mempertimbangkan margin laba yang diinginkan. Ini yang membuat saya sangat kesal apabila sebuah buku yang notabene bisa didapatkan dengan mudah dan banyak jumlahnya dijual dengan harga mahal. Seringkali saya ingin membubuhkan komentar di lapak online mereka bahwa di toko anu jauh lebih murah. Atau cari saja di toko ini karena lebih terjangkau. Tapi hal ini tentu salah dan bisa mematikan sumber pencaharian orang.

Sayangnya belakangan makin banyak toko buku online yang keblinger dan menjual buku seenak jidatnya. Beberapa waktu lalu ada seseorang yang menjual buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I dan II karangan Sukarno dengan harga 9juta. Sebuah harga yang gila untuk buku yang dengan uang 300rb anda sebenarnya bisa memilikinya. Si penjual buku DBR ini malah bangga karena bisa menjual dengan harga mahal padahal dibeli dengan harga murah. Ada yang salah di sini. Seseorang yang mengetahui nilai pengetahuan buku lantas melacurkan benda tersebut, bagi saya tak lebih baik daripada penjagal nazi.

Adapula penjual buku yang tak jujur menjelaskan kondisi buku. Apakah buku tersebut rusak dimakan rayap, terkena air, noda tinta, coretan atau bahkan hilang halaman. Beberapa penjual juga tidak jelas mengatakan jika buku yang dijualnya itu adalah buku hasil fotokopian. Hal ini yang membuat transaksi jual beli buku secara online beresiko. Ada baiknya sebagai pembeli pemula anda bertanya kepada rekan yang sudah sering melakukan transaksi atau bisa membeli buku dengan jumlah kecil.

Dari situ anda bisa menilai apakah toko tersebut jujur, terpercaya dan pelayanannya memuaskan. Karena adapula penjual yang sangat ribet dalam melakukan transaksi karena mewajibkan pencantuman bukti transfer. Sementara penjual yang lain bisa dengan mudah mengirimkan barang dengan konfirmasi pengiriman saja. Namun hal ini jangan disalahgunakan untuk melakukan pembelian buku dengan menipu. Mengaku sudah membeli namun tak mengirimkan uang. Ini adalah tindakan kriminal dan tentu saja akan membuat penjual buku tersebut merugi.

Namun ada juga toko buku yang dengan seenaknya mengirimkan buku pesanan kita tanpa melakukan konfirmasi transaksi sebelumnya. Sudah jamak di antara penjual dan pembeli langganan untuk menyimpan pesanan sampai satu nilai tertentu sebelum akhirnya membayar. Namun jika barang dikirimkan dulu lantas penjual menagih bagi saya itu seperti pemaksaan untuk membeli. Tak salah memang namun memberikan ruang bagi pembeli untuk memilih juga bukan kejahatan. Pedagang semacam ini berpotensi ditipu oleh pembeli yang nakal. Selain itu si penjual berpotensi dianggap memaksa membeli oleh pelanggan.

Lantas mengapa sebuah buku bisa berharga sangat mahal? Hal ini bisa diaplikasikan pada segala jenis benda koleksi seperti action figure, komik, vinyl, kaset dan mainan. Sebuah benda menjadi mahal karena punya nilai sejarah penting, bisa pula karena ada ikatan emosional kepada si kolektor. Tapi ada beberapa hal yang bisa dijadikan panduan bagi pembaca atau kolektor buku pemula untuk bisa menilai sebuah barang menjadi mahal atau murah. Hal ini saya tuliskan hanya sebagai pegangan saja agar anda sekalian bisa bijak memilih dan membili dan tidak terburu nafsu membeli sebuah barang mahal hanya karena keinginan sesaat.

Pertama ketika anda ingin memulai koleksi buku, mulailah dengan buku-buku yang anda sukai. Karena seorang kolektor buku dan pembaca biasa dapat dibedakan berdasarkan buku yang ia beli. Bisa jadi buku yang terorganisir berdasarkan genre tertentu seperti karya sastra, buku cerita bergambar, buku cerita anak-anak atau bisa juga buku tentang misteri. Jangan ikut-ikutan membeli buku hanya karena cerita atau rekomendasi orang tanpa memiliki dasar. Jangan karena buku tersebut dianggap langka dan penting anda ikut-ikutan. Selain boros belum tentu buku  tersebut sesuai dengan minat anda. Bisa-bisa setelah membeli kecewa dan pada akhirnya buku itu teronggok tak terbaca.

Kedua. Syarat terpenting dalam mengkoleksi buku jadul atau langka adalah kondisi. Seingin apapun anda jika buku itu terlanjur rusak, tidak sempurna maka lebih baik anda urungkan. Kecuali anda membeli hanya untuk membaca isinya. Sulitnya membeli buku secara online adalah kita tak bisa melihat kondisi buku tersebut dan hanya bisa percaya pada omongan si penjual. Jika ini terjadi ada baiknya anda membeli buku hanya kepada penjual yang terpercaya dan memiliki reputasi bagus. Selain itu perlu diketahui kondisi buku mempengaruhi harga jual. 

Robert F. Lucas, seorang kolektor juga penjual dan penyusun panduan mengkoleksi buku, mengatakan  tiga hal paling penting dalam membeli buku antik. Kondisi, kondisi dan kondisi. Meski buku tersebut cetakan pertama dan bertanda tangan pengarangnya, namun jika dalam keadaan rusak akan merendahkan harga jual. Jangan mau termakan promosi dan perhatikan kualitas. Perhatikan kisi-kisi buku, kondisi sampul, jika itu hard cover apakah ada selimutnya? Jika itu edisi kolektor apakah ada kotaknya? Hal demikian akan mempengaruhi harga jualnya.

Ketiga. Hal yang membuat sebuah buku mahal adalah kelangkaan dan umur buku tersebut. Sebuah buku jika telah lolos dalam seleksi kondisi, artinya kondisinya bagus, perlu dilihat apakah ia cetakan pertama atau bukan? Berapa umurnya? Dengan memahami nilai ini anda bisa menjawab mengapa Injil Gutenberg cetakan pertama tahun 1456 bisa terjual lebih dari 25juta dolar. Tentu karena buku tersebut hanya tercetak beberapa ribu saja di dunia. Selain itu Gutenberg adalah salah satu pioner yang melahirkan mesin cetak dan merevolusi peradaban manusia. Tak hanya mencetak Injil yang menjadi sumber wahyu umat kristen namun ia juga merubah pola pikir dunia lama yang membiarkan injil hanya dimiliki oleh kaum agamawan saja. Kelangkaan, umur dan revolusi peradaban membuat nilai historis buku ini menjadi tak ternilai.

Keempat. Nilai personal sebuah jenis buku. Buku tentang sastra meski itu cetakan pertama dan bertanda tangan bisa jadi tak bernilai apapun bagi kolektor buku misteri dan detektif. Bagi masing-masing kolektor jenis buku tertentu memiliki nilai lebih dari buku yang lain. Inilah yang membedakan seorang kolektor buku profesional dan amatir. Biasanya seorang kolektor buku profesional mengkoleksi buku dengan kategori tertentu. Mengapa? Sederhana saja. To many books to little time. Fokus pada satu jenis buku membantu kita berhemat dan memudahkan dalam perburuan. Jadi jangan kaget jika sebuah buku oleh satu penjual dijual sangat murah sementara oleh penjual lain dijual sangat mahal.

Kelima. Relasi pembaca dan penulis. Irene Harisson, kurator dan pustakawan perpustakaan Andre Norton, mengatakan sebuah buku menjadi penting karena pengarangnya. Apa yang membedakan buku Hoakiau di Indonesia cetakan pertama dan cetakan selanjutnya berbeda? Selain penjelasan saya di atas, adapula penjelasan pengaruh terhadap pengetahuan pembacanya. Seorang Pramis, penggemar Pram, akan tahu bahwa cetakan pertama yang berwarna merah itu dikeluarkan saat Sukarno berkuasa dan menyebabkan ia dipenjara. Nilai sejarah dan sentimentil buku ini, apalagi jika ditambah dengan tanda tangan penulisnya, akan melambungkan buku ini. Apabila harga standar buku ini biasanya berkisar Rp. 75-100rb. Dengan cetakan pertama bertanda tangan mampu melambungkan harga buku ini dalam kisaran 2-3juta rupiah.

Namun apakah kita akan terjebak pada nilai sentimentil sebuah buku? Bagi saya pribadi fungsi utama sebuah buku adalah dibaca. Meski tak menganggap diri seorang kolektor namun saya mengumpulkan berbagai buku tentang puisi. Khususnya karangan Abdul Hadi WM dan Soebagio Sastrowardojo. Bagi saya karya mereka memiliki nilai penting dan personal. Saya tak peduli apakah itu cetakan pertama atau cetakan seratus karena yang penting adalah puisi yang ada di dalamnya. Jadi ketika ada yang menjual buku itu dengan mahal saya lebih memilih menahan diri karena yang terpenting adalah isi di dalamnya.

Sebagai perbandingan dalam artikel lama saya tentang menulis. Saya menuliskan pemikiran Jeffrey Brenzel, dekan sekaligus dosen di Jurusan Filsafat Universitas Yale, tentang lima kriteria sebuah karya tulisan menjadi klasik dan penting. Yaitu: 1. Berurusan dengan kemaslahatan umat manusia, 2. Merubah paradigma umum yang telah pakem selama ini, 3. Mempengaruhi karya lain yang juga lebih hebat, 4. Dihormati oleh berbagai kalangan sebagai karya yang luar biasa, 5. Menantang untuk bisa dipahami tapi sangat setimpal dengan kerja keras yang dikeluarkan.

Jadi pastikan ketika membeli buku, entah itu lewat internet, toko buku, tukang loak atau di pinggir jalan, belilah buku karena memang anda menyukai dan membutuhkan buku itu untuk dibaca. Jika buku itu layak dikoleksi anggaplah itu sebagai bonus. Juga saya berharap kepada penjual buku agar lebih manusiawi memberikan harga. Tentu saya tak ingin mengganggu anda dalam mencari penghidupan. Tapi akan lebih etis menjual ilmu pengetahuan dengan harga yang fair. Karena kita bukan babi yang hidup hanya untuk memamah bukan?

14 komentar:

  1. aku kurang tertarik dengan isu mengoleksi buku. aku pikir segala yang terkait koleksi ada bau fetish atau snob di sana. lagi pula,

    aku pernah dengar nasihat: jangan membeli sesuatu karena alasan barang itu kolektibel. membelilah karena fungsinya. tapi

    mungkin aku punya pikiran seperti itu karena enggak mampu beli barang mahal. aku pikir sebuah buku yang bagus tetap bagus tak

    peduli itu edisi pertama atau edisi khusus atau tintanya dari emas 24 karat.

    di sebuah garage sale pernah terdengar adegan begini:
    calon pembeli: 'kenapa kamu jual baju bekas ini mahal sekali?'
    penjual: 'oh, itu karena baju itu sejarahnya besar buatku.'
    calon pembeli: 'sejarah apa?'
    penjual: 'aku kehilangan perawan waktu pakai baju itu.'

    akhir-akhir ini aku lebih tertarik dengan isu menyebar buku yang aku miliki. itu membuat koleksi buku di rumahku berkurang drastik,

    di lain pihak aku berharap buku itu bermanfaat kepada lebih banyak orang. buku hanya berarti ketika menemukan pembaca

    terbaiknya, yang membutuhkannya.

    tapi ya jelas koleksi juga bermanfaat bagi banyak orang lain atau minimal untuk dokumentasi atau ketika diperlukan suatu ketika.

    dulu aku punya kenalan yang punya koleksi wiro sableng, abdullah harahap, freddy s. dan sejenisnya yang buatku menggelikan,

    karena buku sejenis itu bisa aku pinjem di taman bacaan. tapi sekarang aku merasa dia melakukan hal baik, setidaknya dia tahu

    persis konstelasi dunia wiro sableng itu seperti apa. kalau ada manfaat/kebaikannya, kita dukung saja. :D

    BalasHapus
  2. keluar dari konteks, tapi aku kehilangan dhani yang bebas..

    aku cuman pembaca awam yg ngga tau tulisan bagus, tapi menurtku akhir2 ini tulisanmu terlalu terbatasi a, b dan c dan d dan bla bla bla... :(

    BalasHapus
  3. Tulisan yang mencerahkan, terima kasih mas. Saya sering kalap kalau ke toko buku, rasanya tidak sah kalau pulang dengan tangan kosong.

    BalasHapus
  4. postingannya sangat bermanfaat sekali, cara bijak membeli sebuah buku :D
    saya juga jarang beli buku di Gramedia kecuali diskon besar, lebih suka berjalan-jalan dan melihat buku baru, kalau ingin membeli saya lari ke TogaMas, kalau ada yang murah kenapa pilih yang mahal :D. Kalau ke toko buku online itu adalah pilihan terakhir, bila di toko buku tidak ada dan saya ngebet banget baca buku tersebut, saya akan mulai mencari di olshop yang terpercaya :D

    BalasHapus
  5. Mereka yang membeli buku terlalu mahal pasti bukan kolektor, karena kolektor biasanya tahu dimana memmbeli buku murah, sebab rajin mendatangi pameran, diskon buku, dan tahu tempat penjual buku2 murah. Karena kolektor membeli buku tidak hanya untuk dibaca; ada buku yang dibeli untuk dibaca, ada yang untuk dilihat2 saja. Saran anda cocok untuk mereka yang bukan kolektor. Bukan kolektor namanya jika tidak melakukan sesuatu secara berlebihan...termasuk membeli buku2 yang tidak mungkin akan sempat terbaca...

    BalasHapus
  6. Dhani emang ganteng, seeep!

    BalasHapus
  7. Dhani emang ganteng, makasih tipsnya!

    BalasHapus
  8. dulu, saya termasuk penggila bku. buku apapun saya beli: terbaca atau tidak! mungkin kalau dikalkulasi, uang yang buat beli buku bisa buat beli rumah. waktu itu, tahun 2005-2009. kegilaanku berhenti ketika aku start bekerja di Singapura. pikiranku mendadak berubah ketika kegilaanku membeli buku berganti menjadi kegilaanku mengunjungi perpustakaan: kenapa musti membeli buku mahal kalau kita bisa meminjamnya dari perpustakaan? karena buku itu sumber ilmu: bukan koleksi! yang kita koleksi ilmu: bukan buku!

    BalasHapus
  9. tapi kalau boleh tau, sebenarnya nilai buku Di Bawah Bendera Revolusi itu berapa sih?? kok saya lihat di internet ada yg harganya sampai 60 juta...

    mohon penjelasan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata2 untuk cetakan pertama dengan kondisi mulus dan lengkap dengan box dan cover paling mahal 2 juta. Itupun harus benar2 dalam kondisi prima. Yang bikin DBR sangat mahal karena paska booming 98 buku ini banyak dicari. saat itu memang harganya bisa tembus 30jutaan. tapi kalau hari ini menjual harga segitu termasuk brengsek dan kebangetan.

      Buku ini bisa mencapai harga 60 juta, mungkin, dengan alasan. buku itu cetakan terbatas yang dimiliki oleh Bung Karno sendiri, dengan tanda tangan dan pengantar khusus. Atau bisa pula buku tersebut adalah draft awal contoh buku DBR. selain itu harganya seharusnya tak lebih mahal dari 500rb sepasang.

      Hapus
  10. sya punya buku DBR jilid pertama cetakan ketiga thn 1964, sama buku karangan Ir.Soekarno yg brjudul Sarinah cetakan ketiga thn 1963,. minat hubungi 085222442444

    BalasHapus
  11. saya punya juga itu buku di bawah bendera revolusi...
    ad yg minat https://www.facebook.com/gembul.street

    BalasHapus
  12. Suka anget sama postingan kali ini.
    Saya punya pengalaman yang mirip tentang Toko Buku di masa kecil. Hanya saja saat itu keluarga kami memang bukan dari yang berkecekupun untuk bis amembeli banyak buku. Ayah saya hanya bisa membelikan Buku 1 bulan sekali hanya untuk berusaha menyenangkan saya. Dimana mata saya berbinar-binar saat menerima buku dari kasir :)
    #terharu sekali jika ingat masa itu

    Alhamdulillah sekarang saya membebaskan anak saya untuk ke Toko Buku. Setelah toko buku, anak saya pun lebih memilih toko kerajinan tangan untuk memilih bahan DIY untuk dia olah sendiri.. dan bukan memilih toko mainan

    Mengajarkan cinta baca kepada anak2 sejak dini, saya fikir bisa meningkatkan dan menstimulasi kreatifitas anak untuk berfikir lebih kristis.

    hanya sekedar pendapat :)

    BalasHapus
  13. Mencintai buku bersejarah berarti Tak melupakan terbentuknya proses perjuangan yang sesungguhnya tak ternilai dalam pembentukan masyarakat masa kini.
    Sampai saat ini saya masih menyimpan Buku Di Bawah Bendera Revoulsi jilid 1 Cetakan tahun 1963 Orisinil koleksi pribadi. Tuk mengetahui Bagaimana kita mencintai Bangsa dan Negara ini dimana kita dilahirkan dan berjuang hidup. BBM 577bba92

    BalasHapus