Kamis, 28 Maret 2013

Pada Satu Sore Yang Sendu



Kupikir ada yang lebih penting daripada kita bicara perihal perasaan. Seperti membangun reaktor nuklir atau menemukan cara transfer pengetahuan secara murah dari internet ke dalam otak. Bukan lantas diam merajuk dan melankolis memikirkan hal-hal sepele seperti rintik hujan, debur ombak, bau kamper atau warna mata kucing. Kau dan aku seringkali diam berpeluh memperbincangkan omong kosong semacam ini. Berdebat sampai marah, lantas saling diam, acuh tak acuh dan saling menyendiri. Sampai pada akhirnya kita berdua kelelahan dan tertawa atas kebodohan ini.

"Kita bisa menertawai umur. Tapi tak bisa menertawai diri sendiri. Menyebalkan," katamu suatu sore.

Aku menjerang air hingga titik didih. Kita sedang menikmati mega-mega yang disepuh emas. Gombal yang terlalu sering diucapkan penyair. Senja yang terlalu dimaknai berlebihan. "Kenapa kita tak minum teh malam hari saja. Ketika dingin begitu menusuk dan hangat poci membuat kita nyaman," kataku tak peduli omongannya.

"Itu terlalu pragmatis. Nilai guna teh hanya sebagai penghangat. Kau tak akan bisa menikmati sesap pahit getirnya. Sesekali perlu lah melodramatis," katamu panjang. Memainkan ujung rambutmu yang hitam pekat itu. Rambut yang dulu sumpah mati kau benci sampe dicukur botak. Lantas berhari-hari tak mandi hanya karena berpikir bahwa mandi adalah sebentuk pesimisme diri akan penampilan.

"Hidupmu sesak betul dengan keinginan-keinginan. Akhirnya lupa cara menikmati hidup," katanya lagi. 

"Tapi hidup yang semacam ini membuatku terus ada," kataku seraya menimbang apakah akan menggunakan gula atau madu sebagai pemanis. Harus ada rasa. Hidupku sudah terlalu getir untuk ditambah pahit rasa teh yang menyebalkan itu. Toh jika memang harus mati ya mati saja. Kenapa harus dibebani oleh cita rasa murni. Teh ya sekedar minuman bukan keimanan yang tak boleh dilewati atau dicurangi. Manusia seringkali terlalu meletakan nilai-nilai yang nisbi pada hal yang semacam ini. 

"Aku putar lagu ya," katamu berteriak dari dalam rumah. Membuyarkan lamunanku soal teh.

"Apa?"

"Aku putar lagu. Terlalu sepi di sini. Rumahmu jauh sekali di pelosok desa. Kiri kanan hanya sawah. Amit-amit kalau sampe ada ular masuk," katamu memborbardir tiap kata dengan suara soprano yang bising.

"Terserah," kataku. 

Aduh! Aku lupa tadi dimana pisang kutaruh. Aku benci minum tanpa makan. Setidaknya harus ada pisang goreng. Aku benci makanan manis. Kecuali pisang. Pisang selalu menyenangkan dimakan dengan apapun. Di Makasar aku pernah makan pisang epe' yang dimakan pakai sambal asam pedas. Jenius. Mereka harusnya dapat hadiah nobel karena menemukan makanan yang mampu mendamaikan dunia. 

"Musikmu membosankan. Sebagian tak kukenal. Tak ada Adele?" sebuah suara muncul dari dalam rumah. Iya suaramu yang menyebalkan itu. Dan siapa pula Adele itu? "Ah sudahlah. Aku bawa ipod. Kuputar ini saja," katamu tak memberiku jeda menjawab.

Pelan kudengar dengung suara muncul dari pengeras suara yang kutaruh di dalam kamar. Lantas petik pelan gitar muncul. Dilanjut suara perempuan bernyanyi lembut. "biru sore yang teduh / pancarkan bayang samar / lembaran daun menguning mati," dendang penyanyi itu. Wah Bonita dengan lagu Mellow. Kukira aku tak akan mendengar lagu ini lagi sejak perpisahan dengan seorang kawan bertahun lalu. Masih ada rupanya yang mendengarkan biduwanita ini. 

"Kamu mau pisang goreng atau ketela rebus?" kataku berteriak. Tak ada balasan. Suara musik terlampau kencang barangkali. Aku malas masuk ke dalam rumah jika sedang di dapur. Entah mengapa. Seperti ada yang mengikat kakiku erat. Seperti pelukan yang hangat. Membuatku nyaman dan ogah bergerak. Dapur adalah bagian diriku yang lain. Seperti anggota badan. Ketika pergi ke rumah orang aku selalu suka mampir ke dapur mereka. Seperti menyapa karib yang asing dan mengajaknya berkenalan.

Langit makin keruh. Ini sih sudah bukan senja lagi. Ini maghrib. Untung rumahku jauh dari masjid. Jadi keramaian ini bisa ditolerir. Bonita sudah usai. Entah apalagi yang akan diputar oleh sikunyuk itu sebentar lagi. Petik gitar kini diputar lebih agresif. Dentum bas dipetik malas malas. Sementara vokal pria yang seolah bernyanyi dengan enggan memenuhi ruangan. Opeth. Boleh juga seleranya. 

"At times the dark's fading slowly, But it never sustains, Would someone watch over me, In my time of need?" dari pintu kamu bernyanyi. Hanya mengenakan handuk dengan rambut hitamnya basah dibiarkan terurai. "Sabunmu habis. Lekas beli sana," katanya tak peduli lantas duduk di sebuah dipan dekat pohon mangga. Rumahku tak luas. Hanya ada tiga kamar. Sebuah kupakai tidur, sebuah kupakai menulis dan sisanya adalah ruang penyimpanan bukuku. 

"Setidaknya pakai baju," kataku seraya mengupas pisang yang rupanya tak hilang lagi. 

"Gerah. Nanti saja aku masih mau keringin rambut juga," 

Berdebat dengannya adalah perbuatan bodoh. Opeth usai dan Anda eks anggota band Bunga kini bernyanyi. Biru. Album in Medio masih tersegel di salah satu kamarku bersama ratusan vinyl lainnya yang belum kubuka. Seorang kawan menitipkannya padaku karena dirumahnya sudah terlalu penuh. "Oh biru. Indah dirimu hempaskan aku. Jauhku tenggelam dalam tatapmu. Sesatku dalam kasihmu," kini giliranku bersenandung.

"Tehnya dingin. Panasin lagi gih," serunya memerintah. 

Lantas Anda pun usai. James Morrison, yang tak ada hubungan apa-apa dengan Jim Morrison, bernyanyi. Love is Hard. Iya. Cinta itu sulit. Seperti memahamimu. Memahami mengapa kita jatuh cinta tapi tak menentukan apapun di dalamnya. Hanya menjalaninya. Semacam malaise yang membosankan. Repetisi yang entah kapan kita akhiri. "Love takes hostages, Gives them pain. Gives someone the power to, Hurt you again and again," 

"Maaf ya." katamu tiba-tiba. Dengan muka memelas seperti anak anjing yang rindu puting susu induknya.

"Buat apa?"

"Ya buat semua. Buat kamu yang selalu menunggu dan memaafkan. Dan buat semua pundak yang kamu berikan ketika aku menangis,"

"Ya namanya juga friendzone. Nasib." kataku datar dan kamu lantas diam. Menikmati Adhitya Sofyan yang melantunkan gitarnya seperti sorang vokalis band shoegaze yang mumpuni. Ia seperti bicara tentang ruang yang kosong, jeda yang panjang dan sebuah murung harapan. "I'm waiting for things to unfreeze, Till you release me from the ice block, It's been floating for ages washed up by the sea," lirik itu menghujam. Seperti puisi yang lantas ia tutup dengan "And it's drowning, thought you should know that,"

"Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta," bisikmu.

"Tehnya sudah kuhangatkan. Mau pisang goreng atau ketela rebus?" Aku terlalu malas untuk jadi sentimentil. Aku sudah berhenti berharap dan memikiran perasaan. Aku hanya menyambutmu kali ini sebagai seorang kerabat yang datang. Angin mulai jahat dan entah mengapa sore ini panjang sekali. Harusnya sudah adzan maghrib. Yang ada malah langit hitam yang disepuh garis biru dan warna emas yang melepuh. 

"Ini Venus Peter. Indie Pop dari Jepang. Seperti Mr. Children hanya lebih early British macam the Smiths," katamu lantas mengambil gelas dan menyeduh teh. Lagu riang dengan irama purba. Ketukan bass yang ritmik  suara lembut dari vokalis pria yang dengan putus asa menyanyikan lagu bahasa Inggris dengan sempurna. "Lagunya bagus. Nanti aku minta," kujawab sekenanya saja.

Aku memasangkan jaket buluk ke badanmu yang ringkih itu. Kamu hanya diam. Sementara lagu sudah berganti judul. Avalanche band Post Rock semarang yang memainkan versi akustik dari lagu the Aesthetic Truth. Lagunya sederhana. Tak perlu interpertasi apapun. Tidak seperti diammu yang menyebalkan ini. 

"Semalam aku membaca lagi buku puisi W.H Auden. Kupikir ada sesuatu yang kupikirkan. Carla Bruni kamu tahu? Istri mantan presiden Prancis itu. Menyanyikan sebuah puisi Auden dengan indah. Lady Weeping at The Crossroads," katamu panjang lebar. Kemudian menyesap pelan teh hangat tanpa gula itu. Aku tak pernah bisa mengerti orang yang minum teh tanpa rasa.

Aku kelelahan lantas duduk di sebuah kursi malas di teras belakang rumah. Tepat di depan dapur ketika Float menyanyikan Tiap Senja dengan syahdu. Aku selalu suka lagu ini. "Tidakkah cinta. Berkuasa. Tak mestinya luka menghentikan langkah. Bila saatnya hadapilah," iya. Aku tak peduli dan tak pernah peduli. Mencintaimu, kupikir, adalah laku sunyi. Tak perlu keramaian dan kebisingan. Biarlah hanya aku yang tahu. Gombal picisan.

"Kok diam. Sinilah mendekat. Aku tak akan memperkosa," katamu berkedip genit. 

"Tidak apa. Di sini saja. Aku takut kalau terlalu dekat akan jatuh cinta lagi."

"Masih pintar gombal. Seperti biasa,"

"Mau aku nyanyikan Free Fallin? Versi John Mayer. Gombal paripurna itu,"

Dan kau hanya diam. Mengancingkan jaket buluk itu untuk menyimpan kehangatan yang pasti akan segera secara sia-sia keluar. Tak ada yang abadi. Bahkan untuk sebuah kehangatan.

"I wanna glide down over mulholland, I wanna write her name in the sky, Gonna free fall out into nothin', Gonna leave this world for a while," kubisikan kata itu ditelingamu lantas kupeluk erat tubuhmu. Yang kemudian kusesali. Karena kursi yang kau duduki pendek. Mau romantis malah kakiku terbentur dipan. 

"Jangan dilepas. Sebentar saja. Aku mau dipeluk sebentar saja," katamu bergetar. Sedikit lagi kau akan menangis. Aku tahu itu. Aku tahu kamu sejak lama. Aku tahu lebih dari dirimu sendiri. Kamu selalu menyerah pada hal-hal sepele. Hujan, kabut, subuh, anak anjing, pelangi dan nyaring bunyi knalpot. Kamu selalu bisa menemukan tuhan dimanapun. Selalu ada yang intim dan kudus dari matamu yang menyibak segala yang biasa menjadi tidak biasa.

Kamu mudah jatuh cinta semudah kamu terluka. Entah apa alasan sore ini kau datang ke rumahku. Membawa pundak yang kelebihan beban. Seperti sebuah kontainer bawang putih yang kepalang mahal harganya. Kau supir yang linglung dengan muatanmu sendiri. 

Malam sudah datang diujung pintu. Langit gelap. Kelelawar mulai keluar. Nyamuk berterbangan. Kodok dan jangkrik saling teriak memekikan telinga. Sementara Zeke and The Popo lantas menyanyikan Mighty Love dengan suara luar biasa cempreng. "I miss the sun while I'm in here, I fought my mind and my needs, I found out there are more to stake than just to scratch your back," katamu berbisik seraya menggenggam erat tanganku. Well, susah memeluk orang dari belakang sambil dipegangi. Apalagi dengan posisi menungging. Demi kesan romantis tak apalah kupikir.

Aku akhiri pelukan itu. Aku tahu itu tidak sehat. Kemudian masuk ke dalam lantas mematikan pemutar musik biadab bikinan Steve Jobs itu. "Aku akan nyanyikan lagu buatmu. Karena aku tak bisa gitaran. Biar kubacakan seperti puisi," kamu hanya diam tersenyum. Rambutmu yang basah. Lesung pipimu. Mata yang redup. Dan segala lekuk tubuhmu yang hanya dibalut handuk.

"Something in the way she moves, Attracts me like no other lover, Something in the way she woos me, I don't want to leave her now, You know I believe and how." kataku mendekat satu langkah padamu. Kamu hanya tersenyum simpul.

"Somewhere in her smile she knows, That I don't no other lover," aku bergaya menggenjreng gitar dengan sebilah penebah kasur, "Something in her style that shows me, I don't want to leave her now, You know I believe and how," kamu mulai tertawa dan aku mendekat satu langkah lagi.

"You're asking me will my love grow, I don't know, I don't know," kakiku naik di atas meja kecil. Bergaya seolah memberikan mik padamu, "You stick around now, it may show, I don't know, I don't know." kau mulai terbahak dan aku mendekat satu langkah lagi.

Ini lagu The Beatles. Kamu tahu itu. Kamu menyukainya. "Something in the way she knows, And all I have to do is think of her, Something in the things she shows me, I don't want to leave her now, You know I believe and how" kau berhenti tertawa. Aku tepat di depanmu. Lantas membuang penebah kasur itu dan memelukmu erat. Kita saling pandang. Kita saling diam. Tidak ada kata kata. Hanya suara hembus nafas dan concerto kodok jangkrik di luar sana.


Bibirku dan bibirmu hendak bersatu ketika ketukan itu makin mengeras.

"Mas ini pak RT. Tolong itu lagunya dimatikan, kami mau periksa rumah ini. Katanya ada tamu perempuan ya?" 

Waduh. Aku lupa laporan.



2 komentar: