Minggu, 17 Maret 2013

Liner Notes Mixtape Kawinan Urban Kontemporer Untuk Mantan



Hei kamu. Iya kamu. Selamat ya hari ini kamu menikah. Barangkali aku tak bisa datang. Bukan, bukan karena aku sakit hati atau masih merasa pedih. Malahan aku senang sekali dan turut berbahagia. Okelah tidak berbahagia sepenuhnya. Jauh di dalam hati mungkin aku masih merasa tak rela. Tapi bukankah hidup perihal kekecewaan-kekecewaan yang terlembaga? Seringkali hanya sekedar rasa bosan yang bertumpuk. Oh iya, aku tak bisa datang karena lokasi pernikahanmu jauh dan kupikir kedatanganku hanya bikin kita berdua canggung bukan?

Sebagai permohonan maaf ku kirimkan surat ini beserta sekitar 20 lagu dalam mixtape yang kuberi judul Urban Ex Story (UES). Mengapa 20 lagu? Dan mengapa berjudul UES? Kukira beberapa pertanyaan tak perlu jawaban. Sekedar retorika yang kita semua tahu jawabannya. Tapi untuk kamu. Ya kamu yang hari ini berbahagia bersama ia dan menikah. Aku akan beri jawaban. Mengapa 20? Karena ketika kususun aku keasikan dan tanpa sadari sudah mencapai angka itu. Lalu mengapa UES? UES dibaca uwes dalam kazanah bahasa ngoko jawa hal ini berarti sudah. Sudah. Kamu sudah menjadi milik orang lain.

Tapi bukan tentang kesedihan yang ingin aku bagi di sini. Tapi perihal kenangan dan cerita yang dulu pernah kita lalui. Tentu tak penting ditulis di sini. Some story are better left unsaid. Oh ya pernahkah kukisahkan padamu tentang Jorge Luis Borges? Seorang penulis Argentina yang mendukung fasisme dan seorang bibliophile yang akut. Pecinta buku yang mabuk kepayang. Seseorang yang seumur hidup mencintai buku dengan kadar yang hampir menyerupai obsesif kompulsif yang kronis. Seperti juga aku, ia mencintai seseorang dan pernah dikecewakan. Tapi apakah ia menyesal? Tidak.

Bahkan ketika ia divonis buta. Ia masih mencintai buku. Sesuatu yang ia anggap tak pernah memberinya kekecewaaan dan pengkhianatan. Kecintaannya pada buku barangkali adalah sebuah kanalisasi atas kekecewaan karena gagal mendapat cinta. Seperti juga aku, ia menjadikan buku sebagai sebuah sarana eskapis yang paling setia. Dalam salah satu kutipannya yang masyur ia berkata “I think heaven is somekind like library,” ia katakan itu ketika kebutaan telah merebut penglihatan kedua matanya. Syukurlah ia memiliki seorang murid setia bernama Alberto Manguel. Seorang maniak buku yang merawatnya hingga akhir hayat.

Tapi semua itu tak penting bukan? Iya dong. Masa di hari bahagia ketika kau berada dipelaminan aku bercerita tentang kekecewaan? Tentang penolakan dan kisah-kisah yang luput dan urung kita ceritakan? Tapi ada baiknya kita bercerita tentang Allegri Dante, penyair masyur Italia, pengarang puisi epik Divine Comedy. Ia yang seumur hidup jatuh cinta sekali, terpaksa harus gigit jari karena si kekasih itu rupanya memutuskan untuk mencintai orang lain. Dalam kesedihan ia menuliskan sajak-sajak Purgatory yang terkenal itu. Ia adalah contoh manusia yang berpikir bahwa kehilangan tak mesti harus menjadikan manusia terpuruk. Lebih dari itu ia menjadi legenda karena puisinya.

Hari ini kubayangkan kamu tersenyum lepas. Bersama suamimu tentu. Di pelaminan dan bersalaman dengan handai tolan, sahabat dan keluarga. Sesekali berfoto, mengabadikan momen magis itu. Untuk kelak ketika kau beranak pinak. Kau akan punya cerita. Punya memorabilia. Bahwa kau gadis yang dulu tangguh itu akhirnya dipersunting lelaki lantas menjadi istri. Menikah, kukira, adalah upaya jatuh cinta pada satu orang yang sama setiap hari. Semoga kau bisa begitu.

Nah dalam lagu ini ada 20 lagu yang kupilih berdasarkan narasi cerita pertemuan kita. Eh aku lupa, percuma bicara tentang kenangan denganmu yang sudah jadi milik orang lain. Kukira aku menyusun ini secara impulsif berdasarkan fragmen lirik atau musikalitas mereka saja. Kau tentu setuju bukan? Ah iya ini kado. Kau tak boleh protes atas apa yang kupilih. Aku juga harus minta maaf di dalam mixtape ini tak ada lagu favorit dan band kesukaanmu. Lagipula kita punya selera yang sama sekali berbeda dan buat apa mendengar yang sudah terlalu sering kau dengar? Membosankan bukan.

Lagu ini dimulai dengan biduanita dengan suara emas bernama Bonita yang berjudul hari ini. Lirik lagu ini kukira pantas menjadi anthem hidup barumu. “pejam mata, buka masa baru, biar wajah berseri,” hidupmu dimulai lagi sebagai seorang istri. Sebagai seorang anggota baru keluarga atau bahkan kelak menjadi seorang ibu dari banyak anak yang pernah kau ceritakan dulu. Tak hanya itu Bonita dengan syahdu melanjutkan lirik itu dengan kalimat “lagukanlah, t’usah hirau, inilah suaramu,” cocok dengan hobimu yang menyanyi itu kukira.

Lagu kedua adalah the sound of settling dari Death Cab For Cutie. Ini tentang masa muda yang lampau. Lagi-lagi tentang ingatan ya? Hahaha iya aku tak konsisten. Tapi coba dengar lagu ini “Our youth is fleeting, Old age is just around the bend. And I can't wait to go gray.” Ia bercerita tentang masa depan yang akan datang. Entah kau akan menyentuhnya, menghadapinya atau bahkan sembunyi darinya. Bukankah hidup hanya perkara menunda keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar?

Wah apakah aku harus menjelaskan semua lagu dalam album mixtape ini? Wah bakal keriting tanganku nanti. Tapi hey! Ini adalah hari pernikahanmu! Hari istimewa yang membuatmu istimewa pula. Jadi tak apalah aku berkorban sedikit perihal cerita di balik lagu-lagu yang kupilih ini. Jadi sampai mana tadi?

Ah iya lagu berikutnya dari Frau, soloist dari Jogja yang berduet dengan keyboard kesayangannya Oscar. Lagu mesin penenun hujan ini punya musikalitas sederhana namun memiliki lirik yang kuat. “Kau temukan seorang lain yang lebih baik, dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan,” terdengar familiar? Haha iya benar. Kau memilih dia daripada aku. It’s fine. Toh pilihan bebas bukan? Terlepas dari fragmen lirik ini lagu Frau berkisah tentang cara melanjutkan hidup. Melupakan masa lalu dan menghadapi hidup ke depan. Seperti yang ia ungkapkan dalam lirik lain “Tapi takkan lama, ku kan jadi awan.

Seusai Frau ada Mocca yang meng-cover lagu masyur Bjork hyper ballad menjadi sebuah lagu yang renyah dan teduh. Ada nuansa jazz yang lembut dan getar yang menyeruak seolah Arina membaca sajak. Bjork barangkali adalah penyair pastoral yang bercerita tentang keindahan desanya. Tentang Islandia yang dingin, misterius dan tegar. Tapi di penutup lagu ini ia menulis sajak tentang kerinduan “I go through all this, Before you wake up, So I can feel happier,To be safe up here with you” bacakan ini untuk suamimu dan kujamin ia akan tersenyum sepanjang hari.

Sore. Tahukah kau tentang band yang hampir semua personilnya adalah kidal ini? iya. Sore dengan mata berdebu-nya bicara tentang janji yang tak lunas. Tentang kesepakatan yang patah. Dengan nada berbalur jazz tebal dan suara terompet yang mendominasi. Kau akan menemukan sedikit luka. Iya lukaku. Hahaha bohong ah kalau kubilang aku sepenuhnya rela kau menikah dengan orang lain. Dalam lagi ini Sore berkata “Dan aku tak bisa melangkah, Di antara musafirnya / Dan aku rindu melangkah di duniamu, Di antara 'ku..janjimu terlunta.

Island on the sun akan menyambutmu seusai lagu sendu Sore. Lagu ini rancak berirama cepat. Oke tidak sepenuhnya rancak. Setidaknya lebih cepat dan bersemangat daripada Sore. Lagu ini bercerita tentang liburan. Usai kau menikah biasanya kau akan bulan madu bukan? Lagu apa yang paling cocok bercerita tentang liburan selain lagu Wezzer ini? “On an island in the sun, We'll be playin' an' havin' fun, And it makes me feel so fine, I can't control my brain.

Payung Teduh! Ya Payung Teduh. Sebenarnya band ini adalah band suci yang mempertemukan aku dan pacarku saat ini. Bahkan band ini yang mengiringi kami jadian. Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang tak diikhlaskan berkisah tentang… ah sudahlah. Dari judulnya kukira kau sudah paham. Dan mengerti maksud lagu ini bukan? “Kita tak semestinya berpijak diantara, Ragu yang tak berbatas, Seperti berdiri ditengah kehampaan, Mencoba untuk membuat pertemuan cinta.

Mew memang tak dikenal sebagai pencipta lagu-lagu riang. Coba saja kau baca liriknya dalam Comforting Sounds ini “And probably you know all the dirty shows I've put on. Blunted and exhausted like anyone. Honestly I tried to avoid it.” Kita sama-sama bukan malaikat bukan? Seringkali ada kebohongan dan luka yang tertinggal dari sebuah hubungan. Mumpung masih deket lebaran. Mohon maaf lahir dan batin yah? Masa udah kawin gini gak mau maafin?

Oke lagu berikutnya adalah musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul sajak kecil tentang cinta. Dinyanyikan dengan nyaris sempurna oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebianto. Lagu ini barangkali akan mengajarkanmu bahwa mencintai adalah perihal pengorbanan, perihal kompromi dan penerimaan. Seperti kata sapardi. “Mencintai air harus menjadi ricik, mencintai gunung harus menjadi terjal.

Sejauh ini aku berikan lagu-lagu dengan lirik sebagai kekuatan utama maka cobalah nikmati Autumn Ode. Sebuah band post rock dari Bandung yang nir lirik. Bukankah beberapa hal tak perlu kata-kata untuk bisa dipahami maknanya bukan?

Sudah separuh jalan. 10 lagu dari 20 yang aku susun untukmu. Berikutnya adalah Adalah jejak & arah dari Pure Saturday. Barangkali ini sebuah pesan. Seperti semuanya. Lagu-lagu dalam mixtape ini adalah pesan. Tapi lagu ini adalah sebuah penekanan “Terlintas satu harapan, Keinginan untuk kembali. / Apa yang akan terjadi, Bila ku harus menanti,” seringkali ada beberapa hal  yang tak mungkin bisa kita miliki. Dan hal itu cuma bisa direlakan. Seperti kamu mungkin? Oh ya genjreng gitar lagu ini asyik sekali.

Blur adalah salah satu dari sekian banyak band di Inggris yang bisa membuat narasi lagu ketika petik gitar pertama mereka dibunyikan. Tender adalah sebuah lagu lembut tentang kekasih. Barangkali juga usaha untuk melupakan yang lama dan menemukan yang baru. Tapi interpertasi tak pernah tunggal bukan? Coba saja baca lirik ini “Tender is my heart, I'm screwing up my life / Lord I need to find, Someone who can heal my mind.” Cocok dinyanyikan dengan paduan suara loh!

Intro lagu berikutnya hampir mirip  ketukan bass drum dari Blur. Tapi yakinlah ini adalah BIP dengan lagu masyurnya tentang perpisahan “ternyata harus memilih”. Kau tahu lagu ini bukan? Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah. Ternyata kita harus memilih. Mana jalan yang terbaik tuk semua. Tapi lebih dari itu aku ingin kau, juga aku, mengingat yang indah-indah saja.

Sigur Ros barangkali adalah band post rock paling mainstream yang pernah ada. Sementara Flj├│tavik adalah lagu tentang petualangan yang sering disalah artikan sebagai lagu perpisahan. Lagu ini adalah sebuah pesan untuk mereka yang hendak bertualang. Tentang hidup yang pejal dan mengarungi sesuatu yang asing. Ingin tau? Coba dengarkan ini seraya menaiki kereta dengan rinai hujan di ujung jendela. Kau akan merasakan hal magis!

Dialog Dini Hari adalah band folk akustik paling estetik perihal lirik. Mungkin karena mereka tinggal di Bali dan mempengaruhi nalar kreatif mereka melahirkan diksi sederhana dengan multiplitas makna. Coba saja kamu dengar Hati-Hati. Secara literer lagu ini semacam pesan untuk mereka yang hendak bekerja untuk hati-hati dalam berkendara. Namun bukankah kita bisa membacanya sebagai sebuah salam perpisahan dan mengharapkan hal yang terbaik bagi mereka yang pergi?

Apakah kamu pernah merasakan musim gugur? Ed Sheraan bisa dengan jenius menggambarkan itu semua. Ketika musim menjadi muram. Warna menjadi murung dan dingin perlahan naik. Musim mempersiapkan diri untuk menjadi dingin dalam salju. Sebuah hari yang biasa. Sebuah momen yang wajar. Sebuah siklus hidup yang ia gambarkan dengan pari purna. “Another tear, Another cry, Another place for us to die, It's not complicated.” perpisahan, jatuh cinta dan menikah. Hal yang biasa tidak rumit.

Maliq and The Essentials mampu menuliskan lagu perpisahan dengan riang, beat yang kencang, dan nada yang bertalu merdu. “Jika memang adanya, aku dan kamu tak bahagia, jadikanlah cerita kita berdua, untuk slamanya,” benar. Jika tak bahagia mengapa harus satu? Dan mengapa pula perpisahan harus dirayakan dengan tangis? Bukankah asyik jika kita merayakan perpisahan seraya dansa cha-cha-cha dan bernyanyi riang?

Seusai lelah berdansa mungkin kau akan jatuh terduduk dan sendu membayangkan masa lalu. Jangan khawatir hai kamu yang hari ini menikah! Masih ada Incubus dengan Nice To Know You! Lagu ini memiliki tempo yang lembut dan naik secara perlahan hingga sangat kencang. Dentuman bass yang menjadi ciri utama Incubus beradu merdu dengan turntable. Kau akan jingkrak-jingkrak lagi seraya merayakan masa lalu dan pernikahanmu. Lagi pula “Nice to Know you,” adalah sebuah kredo atas perkenalan bukan?

Silampukau akan menenangkan kembali urat-urat tegangmu. Dengan petik gitarnya yang lembut, humming, dan sengau akapela yang seperti berusaha membuatmu duduk untuk menikmati segelas the hangat. Sekali lagi lagu tentang perpisahan. “Akhir kita bukanlah di sini, semoga, detik ini mengendap selamanya, semoga, rindu tak membebani kita,” apa yang lebih indah dari ini? kau dan suamimu serta aku duduk bersama, menikmati secangkir teh hangat seusai pesta yang melelahkan? Dan bicara tentang hari esok yang belum pasti.

Last Goodbye adalah sebenar-benarnya perpisahan. Jeff Buckley dengan suaranya yang lembut itu adalah pengiring yang indah. Aku akan pergi dari pestamu yang meriah. Sendirian tentu saja. Kau akan menyimpan ceritamu untuk dirimu sendiri. sementara ceritaku akan selesai sampai di sini. Buat apa mengingat hal yang hanya akan membuat kita luka? Tak ada penyesalan. Tidak ada ratapan. “This is our last goodbye / I hate to feel the love between us die.

Dan di sinilah kita. Berpisah selayaknya orang asing. Anton Chekov, penulis drama dan cerpenis Soviet terkenal, itu pernah berkata. “Jika kau tak ingin kesepian. Jangan menikah,”. Kukira ia bicara dengan nada sinis. Barangkali pernikahannya yang tak bahagia. Tapi jangan khawatir. Dunia terlalu indah untuk diributkan dengan hal-hal negatif macam itu. Selamat menikah hei kamu dan semoga bahagia.

4 komentar:

  1. Dan, Tulisanmu kuakui amat bagus dan tulus, tapi mixtape mu nggak bisa diunduh. Coba diupload lagi ya, jadi aku juga bisa merasakan perasaanmu..haha

    BalasHapus
  2. Tanggal 17 Maret ini juga ulangtahun mantan saya yang tampan :)
    Hahaha... Benar... Berani menjadi "aku".
    (y)

    BalasHapus
  3. Waww.. suka bangett.. lagu lagunya juga pass

    BalasHapus