Hei kamu. Iya kamu. Selamat ya
hari ini kamu menikah. Barangkali aku tak bisa datang. Bukan, bukan karena aku
sakit hati atau masih merasa pedih. Malahan aku senang sekali dan turut
berbahagia. Okelah tidak berbahagia sepenuhnya. Jauh di dalam hati mungkin aku
masih merasa tak rela. Tapi bukankah hidup perihal kekecewaan-kekecewaan yang
terlembaga? Seringkali hanya sekedar rasa bosan yang bertumpuk. Oh iya, aku tak
bisa datang karena lokasi pernikahanmu jauh dan kupikir kedatanganku hanya
bikin kita berdua canggung bukan?
Sebagai permohonan maaf ku
kirimkan surat ini beserta sekitar 20 lagu dalam mixtape yang kuberi judul
Urban Ex Story (UES). Mengapa 20 lagu? Dan mengapa berjudul UES? Kukira beberapa
pertanyaan tak perlu jawaban. Sekedar retorika yang kita semua tahu jawabannya.
Tapi untuk kamu. Ya kamu yang hari ini berbahagia bersama ia dan menikah. Aku
akan beri jawaban. Mengapa 20? Karena ketika kususun aku keasikan dan tanpa
sadari sudah mencapai angka itu. Lalu mengapa UES? UES dibaca uwes dalam
kazanah bahasa ngoko jawa hal ini berarti sudah. Sudah. Kamu sudah menjadi
milik orang lain.
Tapi bukan tentang kesedihan yang
ingin aku bagi di sini. Tapi perihal kenangan dan cerita yang dulu pernah kita
lalui. Tentu tak penting ditulis di sini. Some
story are better left unsaid. Oh ya pernahkah kukisahkan padamu tentang
Jorge Luis Borges? Seorang penulis Argentina yang mendukung fasisme dan seorang
bibliophile yang akut. Pecinta buku yang mabuk kepayang. Seseorang yang seumur
hidup mencintai buku dengan kadar yang hampir menyerupai obsesif kompulsif yang
kronis. Seperti juga aku, ia mencintai seseorang dan pernah dikecewakan. Tapi
apakah ia menyesal? Tidak.
Bahkan ketika ia divonis buta. Ia
masih mencintai buku. Sesuatu yang ia anggap tak pernah memberinya kekecewaaan
dan pengkhianatan. Kecintaannya pada buku barangkali adalah sebuah kanalisasi
atas kekecewaan karena gagal mendapat cinta. Seperti juga aku, ia menjadikan
buku sebagai sebuah sarana eskapis yang paling setia. Dalam salah satu
kutipannya yang masyur ia berkata “I
think heaven is somekind like library,” ia katakan itu ketika kebutaan
telah merebut penglihatan kedua matanya. Syukurlah ia memiliki seorang murid
setia bernama Alberto Manguel. Seorang maniak buku yang merawatnya hingga akhir
hayat.
Tapi semua itu tak penting bukan?
Iya dong. Masa di hari bahagia ketika kau berada dipelaminan aku bercerita
tentang kekecewaan? Tentang penolakan dan kisah-kisah yang luput dan urung kita
ceritakan? Tapi ada baiknya kita bercerita tentang Allegri Dante, penyair
masyur Italia, pengarang puisi epik Divine
Comedy. Ia yang seumur hidup jatuh cinta sekali, terpaksa harus gigit jari
karena si kekasih itu rupanya memutuskan untuk mencintai orang lain. Dalam
kesedihan ia menuliskan sajak-sajak Purgatory yang terkenal itu. Ia adalah
contoh manusia yang berpikir bahwa kehilangan tak mesti harus menjadikan
manusia terpuruk. Lebih dari itu ia menjadi legenda karena puisinya.
Hari ini kubayangkan kamu
tersenyum lepas. Bersama suamimu tentu. Di pelaminan dan bersalaman dengan
handai tolan, sahabat dan keluarga. Sesekali berfoto, mengabadikan momen magis
itu. Untuk kelak ketika kau beranak pinak. Kau akan punya cerita. Punya
memorabilia. Bahwa kau gadis yang dulu tangguh itu akhirnya dipersunting lelaki
lantas menjadi istri. Menikah, kukira, adalah upaya jatuh cinta pada satu orang
yang sama setiap hari. Semoga kau bisa begitu.
Nah dalam lagu ini ada 20 lagu
yang kupilih berdasarkan narasi cerita pertemuan kita. Eh aku lupa, percuma
bicara tentang kenangan denganmu yang sudah jadi milik orang lain. Kukira aku
menyusun ini secara impulsif berdasarkan fragmen lirik atau musikalitas mereka
saja. Kau tentu setuju bukan? Ah iya ini kado. Kau tak boleh protes atas apa
yang kupilih. Aku juga harus minta maaf di dalam mixtape ini tak ada lagu
favorit dan band kesukaanmu. Lagipula kita punya selera yang sama sekali
berbeda dan buat apa mendengar yang sudah terlalu sering kau dengar?
Membosankan bukan.
Lagu ini dimulai dengan biduanita
dengan suara emas bernama Bonita yang berjudul hari ini. Lirik lagu ini kukira
pantas menjadi anthem hidup barumu. “pejam mata, buka masa baru, biar wajah berseri,” hidupmu dimulai lagi
sebagai seorang istri. Sebagai seorang anggota baru keluarga atau bahkan kelak
menjadi seorang ibu dari banyak anak yang pernah kau ceritakan dulu. Tak hanya
itu Bonita dengan syahdu melanjutkan lirik itu dengan kalimat “lagukanlah, t’usah hirau, inilah suaramu,”
cocok dengan hobimu yang menyanyi itu kukira.
Lagu kedua adalah the sound of
settling dari Death Cab For Cutie. Ini tentang masa muda yang lampau. Lagi-lagi
tentang ingatan ya? Hahaha iya aku tak konsisten. Tapi coba dengar lagu ini “Our youth is fleeting, Old age is just
around the bend. And I can't wait to go gray.” Ia bercerita tentang masa
depan yang akan datang. Entah kau akan menyentuhnya, menghadapinya atau bahkan
sembunyi darinya. Bukankah hidup hanya perkara menunda keinginan untuk memenuhi
kebutuhan dasar?
Wah apakah aku harus menjelaskan
semua lagu dalam album mixtape ini? Wah bakal keriting tanganku nanti. Tapi
hey! Ini adalah hari pernikahanmu! Hari istimewa yang membuatmu istimewa pula.
Jadi tak apalah aku berkorban sedikit perihal cerita di balik lagu-lagu yang
kupilih ini. Jadi sampai mana tadi?
Ah iya lagu berikutnya dari Frau,
soloist dari Jogja yang berduet dengan keyboard kesayangannya Oscar. Lagu mesin
penenun hujan ini punya musikalitas sederhana namun memiliki lirik yang kuat. “Kau temukan seorang lain yang lebih baik, dan
aku kan hilang, ku kan jadi hujan,” terdengar familiar? Haha iya benar. Kau
memilih dia daripada aku. It’s fine. Toh pilihan bebas bukan? Terlepas dari
fragmen lirik ini lagu Frau berkisah tentang cara melanjutkan hidup. Melupakan masa
lalu dan menghadapi hidup ke depan. Seperti yang ia ungkapkan dalam lirik lain “Tapi takkan lama, ku kan jadi awan.”
Seusai Frau ada Mocca yang
meng-cover lagu masyur Bjork hyper ballad menjadi sebuah lagu yang renyah dan
teduh. Ada nuansa jazz yang lembut dan getar yang menyeruak seolah Arina
membaca sajak. Bjork barangkali adalah penyair pastoral yang bercerita tentang
keindahan desanya. Tentang Islandia yang dingin, misterius dan tegar. Tapi di
penutup lagu ini ia menulis sajak tentang kerinduan “I go through all this, Before you wake up, So I can feel happier,To be
safe up here with you” bacakan ini untuk suamimu dan kujamin ia akan
tersenyum sepanjang hari.
Sore. Tahukah kau tentang band
yang hampir semua personilnya adalah kidal ini? iya. Sore dengan mata berdebu-nya bicara tentang janji
yang tak lunas. Tentang kesepakatan yang patah. Dengan nada berbalur jazz tebal
dan suara terompet yang mendominasi. Kau akan menemukan sedikit luka. Iya lukaku.
Hahaha bohong ah kalau kubilang aku sepenuhnya rela kau menikah dengan orang
lain. Dalam lagi ini Sore berkata “Dan
aku tak bisa melangkah, Di antara musafirnya / Dan aku rindu melangkah di
duniamu, Di antara 'ku..janjimu terlunta.”
Island on the sun akan
menyambutmu seusai lagu sendu Sore. Lagu ini rancak berirama cepat. Oke tidak
sepenuhnya rancak. Setidaknya lebih cepat dan bersemangat daripada Sore. Lagu ini
bercerita tentang liburan. Usai kau menikah biasanya kau akan bulan madu bukan?
Lagu apa yang paling cocok bercerita tentang liburan selain lagu Wezzer ini? “On an island in the sun, We'll be playin'
an' havin' fun, And it makes me feel so fine, I can't control my brain.”
Payung Teduh! Ya Payung Teduh.
Sebenarnya band ini adalah band suci yang mempertemukan aku dan pacarku saat
ini. Bahkan band ini yang mengiringi kami jadian. Kita adalah Sisa-sisa
Keikhlasan yang tak diikhlaskan berkisah tentang… ah sudahlah. Dari judulnya
kukira kau sudah paham. Dan mengerti maksud lagu ini bukan? “Kita tak semestinya berpijak diantara, Ragu
yang tak berbatas, Seperti berdiri ditengah kehampaan, Mencoba untuk membuat
pertemuan cinta.”
Mew memang tak dikenal sebagai
pencipta lagu-lagu riang. Coba saja kau baca liriknya dalam Comforting Sounds
ini “And probably you know all the dirty
shows I've put on. Blunted and exhausted like anyone. Honestly I tried to avoid
it.” Kita sama-sama bukan malaikat bukan? Seringkali ada kebohongan dan
luka yang tertinggal dari sebuah hubungan. Mumpung masih deket lebaran. Mohon
maaf lahir dan batin yah? Masa udah kawin gini gak mau maafin?
Oke lagu berikutnya adalah
musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono yang berjudul sajak kecil tentang
cinta. Dinyanyikan dengan nyaris sempurna oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana
Soebianto. Lagu ini barangkali akan mengajarkanmu bahwa mencintai adalah
perihal pengorbanan, perihal kompromi dan penerimaan. Seperti kata sapardi. “Mencintai air harus menjadi ricik, mencintai
gunung harus menjadi terjal.”
Sejauh ini aku berikan lagu-lagu
dengan lirik sebagai kekuatan utama maka cobalah nikmati Autumn Ode. Sebuah band
post rock dari Bandung yang nir lirik. Bukankah beberapa hal tak perlu
kata-kata untuk bisa dipahami maknanya bukan?
Sudah separuh jalan. 10 lagu dari
20 yang aku susun untukmu. Berikutnya adalah Adalah jejak & arah dari Pure
Saturday. Barangkali ini sebuah pesan. Seperti semuanya. Lagu-lagu dalam
mixtape ini adalah pesan. Tapi lagu ini adalah sebuah penekanan “Terlintas satu harapan, Keinginan untuk
kembali. / Apa yang akan terjadi, Bila ku harus menanti,” seringkali ada
beberapa hal yang tak mungkin bisa kita
miliki. Dan hal itu cuma bisa direlakan. Seperti kamu mungkin? Oh ya genjreng gitar lagu ini asyik sekali.
Blur adalah salah satu dari
sekian banyak band di Inggris yang bisa membuat narasi lagu ketika petik gitar
pertama mereka dibunyikan. Tender adalah sebuah lagu lembut tentang kekasih. Barangkali
juga usaha untuk melupakan yang lama dan menemukan yang baru. Tapi interpertasi
tak pernah tunggal bukan? Coba saja baca lirik ini “Tender is my heart, I'm screwing up my life / Lord I need to find, Someone
who can heal my mind.” Cocok dinyanyikan dengan paduan suara loh!
Intro lagu berikutnya hampir
mirip ketukan bass drum dari Blur. Tapi yakinlah
ini adalah BIP dengan lagu masyurnya tentang perpisahan “ternyata harus memilih”.
Kau tahu lagu ini bukan? Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah. Ternyata
kita harus memilih. Mana jalan yang terbaik tuk semua. Tapi lebih dari itu aku
ingin kau, juga aku, mengingat yang indah-indah saja.
Sigur Ros barangkali adalah band
post rock paling mainstream yang pernah ada. Sementara Fljótavik adalah lagu
tentang petualangan yang sering disalah artikan sebagai lagu perpisahan. Lagu ini
adalah sebuah pesan untuk mereka yang hendak bertualang. Tentang hidup yang
pejal dan mengarungi sesuatu yang asing. Ingin tau? Coba dengarkan ini seraya
menaiki kereta dengan rinai hujan di ujung jendela. Kau akan merasakan hal
magis!
Dialog Dini Hari adalah band folk
akustik paling estetik perihal lirik. Mungkin karena mereka tinggal di Bali dan
mempengaruhi nalar kreatif mereka melahirkan diksi sederhana dengan multiplitas
makna. Coba saja kamu dengar Hati-Hati. Secara literer lagu ini semacam pesan
untuk mereka yang hendak bekerja untuk hati-hati dalam berkendara. Namun bukankah
kita bisa membacanya sebagai sebuah salam perpisahan dan mengharapkan hal yang
terbaik bagi mereka yang pergi?
Apakah kamu pernah merasakan
musim gugur? Ed Sheraan bisa dengan jenius menggambarkan itu semua. Ketika musim
menjadi muram. Warna menjadi murung dan dingin perlahan naik. Musim mempersiapkan
diri untuk menjadi dingin dalam salju. Sebuah hari yang biasa. Sebuah momen yang
wajar. Sebuah siklus hidup yang ia gambarkan dengan pari purna. “Another tear, Another cry, Another place for
us to die, It's not complicated.” perpisahan, jatuh cinta dan menikah. Hal yang
biasa tidak rumit.
Maliq and The Essentials mampu
menuliskan lagu perpisahan dengan riang, beat yang kencang, dan nada yang
bertalu merdu. “Jika memang adanya, aku
dan kamu tak bahagia, jadikanlah cerita kita berdua, untuk slamanya,” benar.
Jika tak bahagia mengapa harus satu? Dan mengapa pula perpisahan harus dirayakan
dengan tangis? Bukankah asyik jika kita merayakan perpisahan seraya dansa
cha-cha-cha dan bernyanyi riang?
Seusai lelah berdansa mungkin kau
akan jatuh terduduk dan sendu membayangkan masa lalu. Jangan khawatir hai kamu
yang hari ini menikah! Masih ada Incubus dengan Nice To Know You! Lagu ini
memiliki tempo yang lembut dan naik secara perlahan hingga sangat kencang. Dentuman
bass yang menjadi ciri utama Incubus beradu merdu dengan turntable. Kau akan
jingkrak-jingkrak lagi seraya merayakan masa lalu dan pernikahanmu. Lagi pula “Nice
to Know you,” adalah sebuah kredo atas perkenalan bukan?
Silampukau akan menenangkan
kembali urat-urat tegangmu. Dengan petik gitarnya yang lembut, humming, dan
sengau akapela yang seperti berusaha membuatmu duduk untuk menikmati segelas the
hangat. Sekali lagi lagu tentang perpisahan. “Akhir kita bukanlah di sini, semoga, detik ini mengendap selamanya,
semoga, rindu tak membebani kita,” apa yang lebih indah dari ini? kau dan
suamimu serta aku duduk bersama, menikmati secangkir teh hangat seusai pesta
yang melelahkan? Dan bicara tentang hari esok yang belum pasti.
Last Goodbye adalah
sebenar-benarnya perpisahan. Jeff Buckley dengan suaranya yang lembut itu
adalah pengiring yang indah. Aku akan pergi dari pestamu yang meriah. Sendirian
tentu saja. Kau akan menyimpan ceritamu untuk dirimu sendiri. sementara
ceritaku akan selesai sampai di sini. Buat apa mengingat hal yang hanya akan
membuat kita luka? Tak ada penyesalan. Tidak ada ratapan. “This is our last
goodbye / I hate to feel the love between us die.”
Dan di sinilah kita. Berpisah selayaknya
orang asing. Anton Chekov, penulis drama dan cerpenis Soviet terkenal, itu
pernah berkata. “Jika kau tak ingin kesepian. Jangan menikah,”. Kukira ia
bicara dengan nada sinis. Barangkali pernikahannya yang tak bahagia. Tapi
jangan khawatir. Dunia terlalu indah untuk diributkan dengan hal-hal negatif
macam itu. Selamat menikah hei kamu dan semoga bahagia.
Dan, Tulisanmu kuakui amat bagus dan tulus, tapi mixtape mu nggak bisa diunduh. Coba diupload lagi ya, jadi aku juga bisa merasakan perasaanmu..haha
BalasHapusTanggal 17 Maret ini juga ulangtahun mantan saya yang tampan :)
BalasHapusHahaha... Benar... Berani menjadi "aku".
(y)
tulisanna keren :)
BalasHapusWaww.. suka bangett.. lagu lagunya juga pass
BalasHapus