Mari kita mulai pembicaraan ini dari dua kisah yang mungkin
relevan untuk menjadi pertimbangan. Pertama adalah sikap keras kepala Hans
Bague Jassin saat ia memutuskan untuk tidak mengungkap siapa sebenarnya
Kipandjikusmin. Dalam kontroversi besar yang tersusun dalam cerpen "Langit
Makin Mendung", Jassin tetap mengunci erat mulutnya untuk tidak
mengungkapkan siapa penulis jenius di balik cerpen mahakarya tersebut.
Meski akibatnya ia dipaksa meringkuk dalam jahanam
penjara sembilan bulan karena dianggap bersalah oleh pengadilan Tinggi Sumatera
Utara. Toh meski telah melakukan pembelaan hingga berbusa-busa dan juga
dukungan dari berbagai pihak ia tetap gagah pendirian dan menolak buka mulut.
Dalam banyak hal seorang lelaki berhak menyimpan apa yang dianggapnya berharga.
Entah itu sebuah sikap keras kepala atau kebencian yang membara.
Juga kisah hidup dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang memilih diam daripada turun gelanggang menyelesaikan prahara van Der Wijk. Ia memilih tafakur dan hidup sebagai seorang fatalis daripada memperdulikan ocehan para penggugat di Harian Rakjat. Kelak toh akhirnya kita belajar, bahwa sang Buya toh tak hanya menyusun satu karya itu. Namun juga tafsir monumental Al Azhar.
Dia paham bahwa toh terlalu banyak mengumbar pembelaan hanya akan membuatnya semakin terpojok. Maka diam dan hanya sesekali mendesah resah adalah sebuah jalan bijak. Karena sebuah pertengkaran literer tak mesti dilayani. Dan setiap pemukulan tak harus dibalas. Ini adalah sikap lemah yang kerap dimaknai sebagai eskapisme masokis.
Tapi mereka salah. Eskapisme masokis adalah saat kita hanya diam dan tak berbuat apapun. Menikmati lukanya dan mencari pembenaran sendiri. Seseorang yang berjuang melawan rasa sakit dan melampaui kebencian. Proses yang demikian tak akan selesai hanya dari dukungan kata kata atau sekedar pegangan di pundak. Ia membutuhkan jeda untuk bisa selesai!
Juga kisah hidup dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang memilih diam daripada turun gelanggang menyelesaikan prahara van Der Wijk. Ia memilih tafakur dan hidup sebagai seorang fatalis daripada memperdulikan ocehan para penggugat di Harian Rakjat. Kelak toh akhirnya kita belajar, bahwa sang Buya toh tak hanya menyusun satu karya itu. Namun juga tafsir monumental Al Azhar.
Dia paham bahwa toh terlalu banyak mengumbar pembelaan hanya akan membuatnya semakin terpojok. Maka diam dan hanya sesekali mendesah resah adalah sebuah jalan bijak. Karena sebuah pertengkaran literer tak mesti dilayani. Dan setiap pemukulan tak harus dibalas. Ini adalah sikap lemah yang kerap dimaknai sebagai eskapisme masokis.
Tapi mereka salah. Eskapisme masokis adalah saat kita hanya diam dan tak berbuat apapun. Menikmati lukanya dan mencari pembenaran sendiri. Seseorang yang berjuang melawan rasa sakit dan melampaui kebencian. Proses yang demikian tak akan selesai hanya dari dukungan kata kata atau sekedar pegangan di pundak. Ia membutuhkan jeda untuk bisa selesai!
Kita tidak bicara perihal sikap kekanak-kanakan. Ini
perihal perasaan yang tidak bisa sekedar sembuh hanya dengan maaf atau sekedar
move on. Kalian, lebih dari siapapun di dunia, mestinya sadar. Bahwa kata-kata
maaf tak bisa langsung menyelesaikan masalah. Ia butuh proses. Sehari, sejam,
sebulan, setahun dan waktu itu tak pernah bisa ditebak. Masing masing manusia
memiliki melankolianya sendiri.
Ini juga bukan tentang sikap dewasa. Apa itu dewasa?
Dewasa adalah pura-pura semuanya selesai hanya dengan bicara empat mata dan
memberi maaf? Menekan kebencian dan mengulang-ulang mantra bahwa semuanya
baik-baik saja? Tidak. Saya lebih memilih untuk terus dikutuk jadi anak-anak
daripada harus tunduk pada yang demikian.
Kita juga tak sedang bicara tentang menyimpan rasa
sakit dan menikmatinya pelan-pelan. Ini perihal kemampuan menahan diri. Menahan
amuk amarah yang jika sedikit saja tergelincir maka ia akan berujung dengan
darah. Lagi pula siapa orang tolol yang dengan sadar membiarkan dirinya dilukai
dan tak segera mengobati lukanya itu.
Ada tiga hal yang dilakukan orang yang terluka. Ia
mengobati dirinya sendiri dan yang lain mengejar orang yang menyakiti dan
membuatnya lebih menderita. Adapula orang yang ketiga. Mengobati dirinya
pelan-pelan sambil mengejar dan membalas amuk amarahnya. Ini adalah sikap
wajar, bahwa mereka yang diserang akan bertahan, dan mereka yang terpojok akan
menantang.
Ini juga bukan tentang merasa paling sengsara di
dunia. Ini perihal keterkejutan, rasa malu, kebencian dan rasa sedih yang
hebat. Kecuali kalian semua adalah robot, maka jelas kalian tak perlu memahami
kata-kata tadi. Manusia tak pernah dilengkapi panduan untuk bertahan dari rasa
sedih. Mereka mengembangkan kemampuan daya tahab dirinya sendiri.
Kita juga tak berbicara mengenai bagaimana bersikap
santun atau jujur. Kita bicara mengenai hal-hal yang tak bisa serta-merta
dibagi kepada orang asing. Seseorang yang terlanjur pernah percaya dan membagi
semuanya, lantas dikhianati begitu rupa, dipermainkan dan ditinggalkan. Akan
curiga pada segala yang mendekat. Kalian, lebih dari segala manusia bebal di
jagat ini, mestinya paham apa itu xenophobia.
Ini juga bukan tentang menyelesaikan masalah sebagai seorang lelaki, terlebih lagi seorang yang dewasa. Tidak. Ini jauh lebih dari itu. Ini tentang bagaimana bersikap dengan seorang maling, pencoleng dan pembajak. Toh juga pembelaan apapun tak akan berarti karena ini masalah "hati".
Tidak juga mengenai harus bersikap wajar dan membiarkan semuanya berlalu bersama angin. Dan bersikap seperti kebanyakan orang untuk menjadikannya sebuah momen untuk berkembang. Bahwa jadi orang yang terjebak pada masalah yang itu-itu saja adalah sikap bodoh. Ini lebih dari itu. Ini tentang menuntut keadilan, tapi tak jelas kepada siapa.
Ada baiknya perihal mendengar dan mendengarkan dipahami sebagai tahu diri dan mampu menempatkan diri. Bahwa ada orang yang secara konyol bisa dengan mudah memaki ibunya sendiri. Namun ada pula orang yang dengan taklid buta mengagungkan Milan sebagai sebuah klub pilihan tuhan. Ada beberapa orang yang memiliki sikap aneh dan berbeda dalam memaknai sesuatu.
Untuk bisa berdamai dengan diri sendiri ada waktunya dan ada pilihannya. Bahkan seorang budha juga menunggu waktu hingga pencerahan tertinggi untuk bisa menyadari dharma bisa memberikan kebebasan. Kita bukan nabi dan manusia bukan malaikat. Mereka memiliki kelemahan yang membuat mereka dhaif.
Saya bukan Mandela yang bisa memaafkan penindasan kulit putih kepada bangsanya. Juga bukan Al Hallaj yang meminta ampunan para pembunuhnya. Saya kira saya sudah cukup menunjukan bahwa saya tak pernah minta apapun yang berlebihan. Tidak meminta yang terlalu berat. Toh saya tak pernah memaksakan diri untuk sebuah penolakan. Saya menghormati keputusan-keputusan.
Bahwa apa yang telah terjadi pada saya dan seorang yang pernah menjadi teman adalah sebuah drama yang komikal, konyol dan kekanak-kanakan. Maka biarlah. Semoga hanya saya yang dianggap kekanakan karena menganggap sebuah sikap tak bertanggung jawab atas keputusan dan pilihan, adalah hina.
Juga perihal banyak janji yang tak lunas. Manusia bukan Vhisnu yang bisa memecah dirinya menjadi banyak untuk kemudian bekerja dengan banyak ragam. Ada prioritas-prioritas yang sering lalai dipenuhi karena kemunculan-kemunculan prioritas lain. Hingga kemudian takdir manusia sebagai individu yang alpa dan pelupa memenuhi artinya sendiri.
Untuk bisa dimengerti hendaknya belajar mengerti. Jika seseorang tak pernah menuntut untuk suatu hal maka orang lain tak berhak menuntut hal yang lain. Juga seseorang yang menyimpan erat perasaanya bukan berarti ia seorang melankolis. Manusia kerapkali tertutupi tuntutan-tuntutan daripada menunggu dengan sabar untuk sebuah proses yang tak semuanya gegas.
Jika kemudian seorang lelaki dianggap penakut, pecundang atau menghindari menghadapi masalah dalam diamnya. Maka biarlah. Toh bahkan seorang Yesus seperti juga Muhammad tak bisa menyelamatkan Yudas dan Abu Thalib dari api neraka.
Seharusnya sebagai orang yang cerdas, kalian bisa belajar bagaimana bersikap kepada seorang yang mendendam. Tinggalkan atau diam dan menunggu. Malam ini terlalu larut untuk diramaikan dengan hal-hal yang sepele. Terlalu banyak beban kerja dan emosi yang tumpah dari mahasiswa akhir yang terlalu banyak dituntut. Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar