Kepada
Bapak Mantan Presiden Rahwana Dasamuka
Pertama-tama ijinken daripada saya untuk menghaturken semacam
suatu sambutan daripada pembuka surat ini kepada Bapak yang mulia. Hal ini
dikarenaken merupaken suatu daripada kebanggan saya untuk dapat menulisken
surat ini kepada Bapak yang terhormat.
Kepada Bapak yang agung saya doaken
semoga tidak merasa terlalu panas ditempat Bapak daripada berada saat ini. Yang
konon daripada katanya ditempat bapak sekarang berada merupakan tempat
pengadilan yang seadil adilnya pengadilan. Yah semoga Bapak disana tidak merasa
kepanasan pun tidak juga daripada merasa bosan.
Merupaken suatu kehormatan
daripada saya untuk mengabarken bahwa Negara Republik Alengkaraya
dimana-mana deritatakkelarsaja yang Bapak tinggalken masih sama seperti
dahulu. Masih banyak daripada masyarakat miskin yang melarat sampai mau mati
saja susah, masih banyak daripada semacam Ambtenaar yang doyan terima
yang basah-basah-legit-nikmat-gampang-wer-syur, masih ada semacam kasus
penembaken atawa pembersihan, oleh oknum tidak bertanggung jawab, kepada mereka
geraken pengacau keamanan yang mengganggu stabilitas nasional, dan masih banyak
juga semacam cukong-cukong penghisap HPH, masih banyak maling-maling BLBI, dan
yang paling seru adalah masih banyak anak buah daripada Bapak berkuasa di
negeri ini.
Bapak tenang saja, Negeri Republik
Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja sudah berada ditangan orang yang
tepat. Seperti halnya di jaman Bapak, merupaken hal yang jamak terjadi hal-hal
semacam korupsi, pelanggaran HAM, penindasan militer, segala macam oknum
petugas, pembunuhan Aktifis, dan mafia peradilan masih banyak. Bapak tenang
saja, ya kira-kira sejak 14 tahun lalu sejak Bapak lengser ke prabon. Nothing
was changed pak, yakinlah suer.
Malah yang baru maklejeger adalah
dimana mantan anak buah bapak yang sekarang jadi presiden bikin resuple. Ya pak
resuple. Bukan joget ajojing disko yang konon namanya suple dens itu. Tapi ini
sesuatu yang jarang bapak lakuken. Ganti mentri. Ya semacam bentuk sopan santun
pak. Wong bangsa ini masih dalam keadaan bahaya. Jadi para pejabat kutaraja nya
mesti diganti. Dengan atau tanpa koalisi apalah negara ini dibentuk.
Ya ngoten pak. Negara kita sejak
bapak mboten ditempat. Sudah menjadi semacam republik kapling. Nasionalisme ala
penataran P4 sudah dihapuskan. Dan yang namanya ambtenaar bisa lebih makmur joyo
sendiko daripada para kawulanya. Ya di jaman bapak gitu. Tapi ini edan tenan
pak. Masak kacung tungkang ngurus pajak kadipaten bisa punya uang milyar-milyar
plus liburan saat sedang dalam pingitan. Ini benar-bener godverdamnt
pak. Sungguh kesalahan.
Tapi bapak tenang saja. Sing
adem disana. Mung bangsa ini masih utuh kecuali timor-timornya. Wong
yang kami atur agar Republik Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja
harga mati sudah pas dan laziz. Bahwa yang namanya bangsa itu diatas segalanya.
Sungguh. Ya meski banyak itu yang sok-sokan ingin jadi bikin bangsa Republik
Alengkaraya dimana-mana deritatakkelarsaja jadi negara onta. Kemana-mana
pake antum ana. Mbokya itu kalau saya punya ide dikembalikan saja ke jazirah
padang pasir. Di sini hanya bisa bikin ribut.
Adalah kemajuan bangsa ini
merupaken kerja keras antar bangsa. Dengan melakukan pergaulan yang luwes dan
easy going. Sudah banyak sepen elepen yang dibangun di ibukota. Oh bukan pak.
Bukan ilepen. Ini 7/11. Semacam warung kopi pak. Anak muda dengan pergaulan
internasional banyak berkumpul di sini. Meniko bapak melihat pasti akan terharu
bagaimana advance dan hi tech nya mereka dalam bercengkrama. Sebuah pemandangan
klompencapir anak muda yang sophisticated lagi guyub.
Apalagi perbendaharaan bahasa
yang ampun, mohon maaf pak, sangat bercitarasa tinggi. Lha ya gimana tidak wong
anak muda tadi berbahasa lebih haibat dari para linguis-linguis yang dibuat
sama peradaban europe sana pak. Anak-anak ini pun menyebar luaskan
perbendaharaan kata-kata dalam khasanah buku kamus besar bahasa indonesia.
Sesuatu yang bahkan gagal dilakukan oleh Purwodaminto. Mung saya agak heran
pak. Banyak kalimat yang menyisipkan galau. Tapi haibat pak. Sungguh haibat.
Namun daripada itu sesuai dengan
petunjuk bapak yang terhormat. Pemrakarsa pembangunan yang budiman. Yang elok
lagi rupawan. Yang tegas lagi santun. Yang berdaulat adil dan makmur. Tentunya dengan apa yang terjadi saat ini jenengean sudah paham benar kondisi bangsa ini,. Apa-apa mahal. Pulsa mahal, beras mahal, minyak mahal, IPad mahal. Beda tenan sama jaman bapak. Opo-opo murah dan terjangkau. Belum lagi pas menjelang dunia dalam berita mesti ada pak Harmoko nyang operasi pasar.
Lha piye? Semua diluar kontrol pak. Negara jebule lebih senang membahas konser daripada kasus korupsi. Media lebih senang bahas kawinan wong gede daripada keselamatan transportasi. Dan lebih ngageti wong saiki luwih segen sama preman bersorban daripada sama polisi. Wong katanya, "Kami tak takut Hukum! Kami takut pada Allah," iki njuk piye tho pak? Ini apa? Ya meski pada jaman jenengan yang macam ini uda habis di dor. Tapi opo ya segalanya mesti selesai dengan kekerasan?
Lalu kapan kita mau maju sebagai negara yang lebih dari enam dekade berdaulat? Kalau sebagai satu kesatuan masyarakat isih do gontok-gontokan dan berkelahi. Mengklaim paling benar dengan pentungan dan senjata tajam. Menolak perbedaan dengan kekerasan. Membiarkan segala sesuatu yang namanya penindasan sebagai suatu kewajaran? Yo mesti ono sing dirubah pak. Harus! Kita ini bukan lagi hidup di dark age dimana semua pelaku pencerahan mesti dibakar atas nama sihir. Kita mesti santun berubah pak!
Apa yo tak pikir-pikir emang sulit memimpikan sebuah negara yang dibangun dari kesadaran bersama. Egaliter dan berdaulat berdasarkan kesepahaman. Oalah ngapunten pak. Bukan, ini bukan sosialis marxis. Ini purely based on our nation state commitment yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya kira kita salah menerapkan pancasila pak. Harusnya dibalik. Bahwa ketuhanan yang maha esa itu ditaruh paling bawah saja. Toh, mereka yang kini konon katanya tokoh agama, tak mampu mendamaikan sesama.
Lebih dari itu, wong berdasarkan laporan ICW dari tahun ke tahun, lembaga paling korup di negara ini ya departemen agama. Bayangken pak bayangken! Kita tak lagi bisa bersandar pada mereka yang secara kualitas pemahaman keagamaan lebih baik. Woo ngerti gitu dari dulu saya njuk budhal dewe hajian. Daripada duitnya dikemplang maling? Ndak rela saya pak ndak rela!
Ya sudah pak. Mungkin segini saja surat dari saya. Memang benar apa kata jenengan bahwa negara ini tak bisa selesai hanya dengan membaca puisi atau menulis karya sastra. Lebih dari itu bangsa ini mesti di keplak dibangunkan dari mimpi negara zamrud khatulistiwa yang damai. Wong kita ini sedang dalam proses pelapukan sebuah bangsa. Hmm mungkin jenengan bener pak. Bahwa ngurus negara ini sulit. It is hard tho?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar