Hari ini seorang kawan saya, sebut saja dia Manyun, seorang perempuan,memutuskan
meremove semua rekan lelakinya di akun twitter. Ini merupakan kali kedua
setelah sebelumnya melakukan hal yang sama pada akun Facebooknya tiga tahun
lalu. Saya awalnya tak ingin campur tangan dan genit bertanya. Namun kali ini
saya menyerah pada keingintahuan dan ia menjawab “Suamiku sweeping folower.
Sepertinya aku terlalu banyak berinteraksi dengan kawan lelaki yang bukan muhrim.”
Mendengar itu saya hanya bisa diam.
Manyun adalah kawan dekat saya sejak semester empat kuliah. Kami
sama-sama suka membaca buku novel dan senang berdebat dalam bahasa Inggris.
Meski saya tak pintar-pintar amat tapi dia kerap dengan sabar mengajari saya
cara berdiskusi yang baik. Kami sempat dekat selama beberapa bulan sebelum
akhirnya ia memutuskan skripsi dan kami hilang kontak. Belakangan saya dengar
ia dilamar tetangganya, seorang lulusan STAN dan menikah seusai wisuda bulan
Maret 2009.
Saya mengenal Manyun sebagai perempuan cerdas, humoris dan supel yang
membuatnya punya banyak kawan. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya dia jika
kemudian harus hidup dengan cara seperti itu. Dibatasi ruang geraknya dan
lingkup perkawananya hanya karena”Mereka bukan muhrimku. Tolong mengerti,” saya
terdiam dan kemudian menjauhinya pelan-pelan.
Sampai detik ini saya masih gagal mengerti. Memangnya islam memasung hak para perempuannya?
Saya percaya dalam islam, posisi lelaki dan
perempuan setara. Tidak dikotomi sebagai jender nomor dua atau kelas sekunder.
Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan hal itu. Bahwa sesungguhnya
laki-laki dan perempuan yang muslim dan memelihara kehormatannya, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Seperti yang dikatakan
dalam Al Ahzab 35.
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Atau yang secara eksplisit tertulis dalam At Taubah 71. Mengenai distribusi peran bagi
sesama umat muslim terlepas apa jenis kelamin mereka. bahwa "Orang-orang
yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong
bagi sebahagian yang lain" kata Allah dalam firmannya itu. Dalam pemahaman
yang paling kasat mata pun bisa dipahami bahwa dalam kelompok orang beriman,
Allah tak membedakan posisi lelaki dan perempuan. Ia menjadi satu kesatuan yang
utuh sebagai seorang Mukmin
Masih dalam At Taubah 71 Allah meyerukan perbuatan
yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Bahwa dalam perihal proses semua umat manusia memiliki tanggung jawab
dan cara ibadah yang sama. Sama-sama bersyahadat. puasa, berzakat, dan sama-sama
memiliki hak untuk diberi rahmat oleh Allah. Lalu mengapa kita, yang hanya umat
dan bukan nabi melakukan pembatasan?
Saya kira ada banyak hal yang mesti dibenahi
perihal sikap kita pada perempuan dalam islam. Kita tak lagi hidup di zaman
Rasul yang memiliki sejarah perang antar suku yang keras. Dimana saat itu
perempuan dan anak-anak selalu menjadi korban. Bahwa menjaga perempuan dengan
melarang mereka ke luar rumah tanpa pengawalan dan izin adalah keniscayaan
untuk keselamatan. Kita harus bijak memahami bahwa saat ini, perempuan, bisa
menjadi lebih tangguh dalam banyak daripada lelaki.
Dalam salah satu esai yang sangat manis dari Said
Aqil Siraj, ketua PBNU, ia sedang mengkritisi mengenai pemahaman Islam secara
tekstualistik dan legal-formal. Dimana pemaknaan dan pemahaman secara taklid
buta tanpa disertai pembanding dan sumber yang jelas, sering melahirkan sikap
ekstrem yang melampaui batas. "Padahal," sebut Said Aqil
"Alquran tidak melegitimasi sedikit pun segenap perilaku dan sikap yang melampaui
batas."
Imam Ahmad pernah menarasikan sebuah hadist Dari
Rasulullah “Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama," katanya dengan
sebuah penekanan, karena "sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur
karena sikap berlebihan dalam agama.”
Sikab berlebihan atau melampaui batas dalam meyakini suatu hal atau
ghuluw. Sikap ini toh pada akhirnya melahirkan fasisme pemikiran yang secara
taklid buta membenarkan pendapat diri sendiri sebagai yang paling benar.
Sikap ghuluw terhadap posisi perempuan (khususnya
istri) yang mesti tunduk dan patuh (menyerupai hamba) adalah kewajiban. Serta
penanaman pemikiran bahwa seorang istri yang baik adalah yang diam tak
membantah, menurut saya, adalah sebuah penindasan sistemik. Islam tidak
demikian. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang mustahil menempatkan
umat terlepas apapun jenis kelaminnya, lebih rendah daripada manusia yang lain.
Selain ghuluw, Said Aqil menjelaskan konsep Irhab
yang disebutnya sebagai sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama
atau ideologi. Tindakan inilah yang banyak menjadi rujukan dan sikap banyak
orang yang belum paham benar agamanya, Bahwa dalam beragama Allah telah
mengingatkan untuk tidak berlebihan. Seperti dalam Al-Nisa 171 “Wahai Ahli Kitab,
janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali yang benar.”
Tentu para fasis berkedok agama tadi akan berdalih
mengenai "kecuali yang benar". Bahwa tindakannya adalah semata-mata
membela, meluruskan dan didasari oleh tuntunan agama. Namun banyak umat muslim
yang lupa bahwa, di atas segalanya, islam adalah agama damai yang menyerukan
pada sikap baik pada sesamanya. Bahwa saat kita bersyahadat kita telah
menegasikan tak adanya tuhan selain Allah dan percaya secara iklas bahwa Muhammad
adalah utusan Nya.
Percaya bahwa Muhammad seorang nabi haruslah lahir
dari perasaan yang benar-benar ikhlas. Bayangkan saat itu, anda di sebuah zaman yang
penyembahan berhala adalah jama', kemudian dipaksa mempercayai seorang pemuda
dari bani (klan keluarga) yang lemah sebagai pembaharu dan wakil tuhan di
bumi. Jika bukan didasari rasa cinta, percaya, ikhlas dan keterbukaan maka tak
mungkin syahadat itu akan terucap.
Semestinya sebagai seorang muslim yang baik, kita
mesti aktif mencari tahu tentang agama kita sendiri. Tak melulu menunggu
disuapi oleh orang lain yang berpotensi memiliki keterputusan ide dan makna.
Meminjam istilah Ahmad Wahib, seorang intelektual kritis islam, "Dalam pemahaman
islam sebagai ajaran Allah," tulis Wahib dalam buku catatan hariannya,
"sifat-sifat manusiawi dan kondisi sosial ikut berperanan".
Perempuan dalam banyak tafsir saklek dan kasat mata
diposisikan sebagai kelompok yang termarjinalkan. Seperti tafsir perihal perempuan
yang tidak boleh jadi pemimpin, atau keharusan mengenai penutup aurat, dan yang
paling sering dikritisi adalah perihal poligami. Saya kira hal ini sudah
selesai dibahas dan tak perlu diperdebatkan lagi. Mengapa? Karena konteks
pemberlakuan ayat atau perintah tersebut, jika anda mau mencari tahu, adalah
usaha perlindungan terhadap perempuan.
Bahwa pada saat awal perjuangan islam banyak
terjadi perang yang melahirkan banyak janda. Sedangkan dalam struktur
masyarakat tradisional arab, seperti yang digambarkan Ibnu Khaldun dalam
Muqaddimah, kerap kali tak berpihak pada janda. Sehingga peran lelaki muslim
dianjurkan untuk menikahi para janda tadi.
Mengenai perempuan yang tak boleh jadi pemimpin? Saya
kira kita banyak mendengar kisah bagaimana Rasul memberikan banyak porsi bagi
istri-istrinya untuk berdakwah. Juga sepeninggal beliau Aisyah masih konsisten
memberikan masukan dan menjadi rujukan dalam membenarkan sahih dan sanad sebuah
hadis. Jika ini tak boleh disebutkan sebagai sebuah kepemimpinan (leadership)
entah apa namanya.
Saya kira seorang muslim akan berhasil menjadi
sebuah umat yang utama (khaira ummah). Apabila ia bisa mencapai keseimbangan
antara pemahaman agama, filsafat dan sains.Kebijakan yang lahir dari pengetahuan luas dan holistik. Tidak menggunakan satu kaca mata kuda yang menuntunya pada sebuah pemahaman parsial, bukan sesat, hanya saja sempit lagi kering.
Jika dulu Gus Dur menyeru pada
pencarian Islam yang damai bukan islam
yang ramai. Maka saya memikirkan konsep islam yang manis bukan islam yang
sadis. Islam yang membuat para penganutnya merasa bergairah untuk selalu beribadah dan lebih dekat pada penciptanya. Islam yang tak lagi memperdulikan perbedaan sepele untuk mencari makna subtantif dari relasi hablumminallah dan hablumminannas.
Bahwa islam haruslah menyenangkan, ramah, nyaman
dan yang paling penting tak membuat kita takut apalagi terkekang. Saya tak
membahas perihal kebebasan seperti yang hendak dicapai Nietzche dalam
Zarathustra. Saya berbicara perihal islam yang sederhana dan tak berlebihan
dalam memperlakukan umat, khususnya para perempuan. Lahaula Wala Quwata Illa Billah.
Islam itu semudah-mudahnya salam, selamat. Islam sendiri kan berasal dari salam, berarti selamat. Kalau malah dipersulit yaaaa apakah itu Islam namanya? Entahlah. Wallahu a'lam. :)
BalasHapusintine sederhana, si suami pencemburu, dan dia pakai dalih agama untuk mendukung sikapnya itu. hehehe. mesakke temen cah. :-D
BalasHapustulisan yg bgus...keep posting, gan
BalasHapusbtw klo mnurutku yg trjadi pd kawan anda itu bkn pmbatasan yg semacam itu, melainkan pmbatasan karena cemburu yg dilakukan seorang suami kpd seorang istri yg mungkin dianggapnya trlalu dekat dgn lawan jenis yg bukan suaminya di dunia maya...
aku pikir itu wajar, toh itu bkn brarti pergaulan ybs juga dibatasi d dunia nyata selama msh dlm kaidah2 yg wajar mnurut agama dan masyarakat... CMIIW...
wallahua'lam....
Tulisan yang bagus dan padat makna, mas.. Makasih sdh berbagi...
BalasHapusmasokis tuh eh salah maksudku, suaminya maskulinis dan sepertinya istrinya kurang jutek utk bilang, "pakkkeeekkkk woooiiii otak loooooooooo" hehhehehehehhehehehhee
BalasHapus*disambit suami se-indonesia
sepakat sama hujanreda, most of men use religion justification for their own personal problems. dan seringkali wanita (istri) menurutinya atas dasar pemahaman agama & budaya yg misoginis, bahwa mjd istri yg baik itu yg menuruti apa kata suami, segakmasukakalnya itu.
BalasHapusbtw, thank for remind me yah *ngaca
no hard feeling mbake :D aku inget perbincanganmu dengan lifa dan rafli. sampe sekarang masih begidik. eks ketua USEF yang legendaris. no man shall face you in debate :D
BalasHapus