Kamis, 24 Mei 2012

Islam yang Manis

            Hari ini seorang kawan saya, sebut saja dia Manyun, seorang perempuan,memutuskan meremove semua rekan lelakinya di akun twitter. Ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya melakukan hal yang sama pada akun Facebooknya tiga tahun lalu. Saya awalnya tak ingin campur tangan dan genit bertanya. Namun kali ini saya menyerah pada keingintahuan dan ia menjawab “Suamiku sweeping folower. Sepertinya aku terlalu banyak berinteraksi dengan kawan lelaki yang bukan muhrim.” Mendengar itu saya hanya bisa diam.

            Manyun adalah kawan dekat saya sejak semester empat kuliah. Kami sama-sama suka membaca buku novel dan senang berdebat dalam bahasa Inggris. Meski saya tak pintar-pintar amat tapi dia kerap dengan sabar mengajari saya cara berdiskusi yang baik. Kami sempat dekat selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia memutuskan skripsi dan kami hilang kontak. Belakangan saya dengar ia dilamar tetangganya, seorang lulusan STAN dan menikah seusai wisuda bulan Maret 2009.

            Saya mengenal Manyun sebagai perempuan cerdas, humoris dan supel yang membuatnya punya banyak kawan. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya dia jika kemudian harus hidup dengan cara seperti itu. Dibatasi ruang geraknya dan lingkup perkawananya hanya karena”Mereka bukan muhrimku. Tolong mengerti,” saya terdiam dan kemudian menjauhinya pelan-pelan.

Sampai detik ini saya masih gagal mengerti. Memangnya islam memasung hak para perempuannya?

Saya percaya dalam islam, posisi lelaki dan perempuan setara. Tidak dikotomi sebagai jender nomor dua atau kelas sekunder. Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan hal itu. Bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim dan memelihara kehormatannya, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Seperti yang dikatakan dalam Al Ahzab 35.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Atau yang secara eksplisit tertulis dalam  At Taubah 71. Mengenai distribusi peran bagi sesama umat muslim terlepas apa jenis kelamin mereka. bahwa "Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain" kata Allah dalam firmannya itu. Dalam pemahaman yang paling kasat mata pun bisa dipahami bahwa dalam kelompok orang beriman, Allah tak membedakan posisi lelaki dan perempuan. Ia menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai seorang Mukmin

Masih dalam At Taubah 71 Allah meyerukan perbuatan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Bahwa dalam perihal proses  semua umat manusia memiliki tanggung jawab dan cara ibadah yang sama. Sama-sama bersyahadat. puasa, berzakat, dan sama-sama memiliki hak untuk diberi rahmat oleh Allah. Lalu mengapa kita, yang hanya umat dan bukan nabi melakukan pembatasan?

Saya kira ada banyak hal yang mesti dibenahi perihal sikap kita pada perempuan dalam islam. Kita tak lagi hidup di zaman Rasul yang memiliki sejarah perang antar suku yang keras. Dimana saat itu perempuan dan anak-anak selalu menjadi korban. Bahwa menjaga perempuan dengan melarang mereka ke luar rumah tanpa pengawalan dan izin adalah keniscayaan untuk keselamatan. Kita harus bijak memahami bahwa saat ini, perempuan, bisa menjadi lebih tangguh dalam banyak daripada lelaki.

Dalam salah satu esai yang sangat manis dari Said Aqil Siraj, ketua PBNU, ia sedang mengkritisi mengenai pemahaman Islam secara tekstualistik dan legal-formal. Dimana pemaknaan dan pemahaman secara taklid buta tanpa disertai pembanding dan sumber yang jelas, sering melahirkan sikap ekstrem yang melampaui batas. "Padahal," sebut Said Aqil "Alquran tidak melegitimasi sedikit pun segenap perilaku dan sikap yang melampaui batas."

Imam Ahmad pernah menarasikan sebuah hadist Dari Rasulullah “Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama," katanya dengan sebuah penekanan, karena "sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam agama.”  Sikab berlebihan atau melampaui batas dalam meyakini suatu hal atau ghuluw. Sikap ini toh pada akhirnya melahirkan fasisme pemikiran yang secara taklid buta membenarkan pendapat diri sendiri sebagai yang paling benar.

Sikap ghuluw terhadap posisi perempuan (khususnya istri) yang mesti tunduk dan patuh (menyerupai hamba) adalah kewajiban. Serta penanaman pemikiran bahwa seorang istri yang baik adalah yang diam tak membantah, menurut saya, adalah sebuah penindasan sistemik. Islam tidak demikian. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang mustahil menempatkan umat terlepas apapun jenis kelaminnya, lebih rendah daripada manusia yang lain.

Selain ghuluw, Said Aqil menjelaskan konsep Irhab yang disebutnya sebagai sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi. Tindakan inilah yang banyak menjadi rujukan dan sikap banyak orang yang belum paham benar agamanya, Bahwa dalam beragama Allah telah mengingatkan untuk tidak berlebihan. Seperti dalam Al-Nisa 171 “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.”

Tentu para fasis berkedok agama tadi akan berdalih mengenai "kecuali yang benar". Bahwa tindakannya adalah semata-mata membela, meluruskan dan didasari oleh tuntunan agama. Namun banyak umat muslim yang lupa bahwa, di atas segalanya, islam adalah agama damai yang menyerukan pada sikap baik pada sesamanya. Bahwa saat kita bersyahadat kita telah menegasikan tak adanya tuhan selain Allah dan percaya secara iklas bahwa Muhammad adalah utusan Nya.

Percaya bahwa Muhammad seorang nabi haruslah lahir dari perasaan yang benar-benar ikhlas. Bayangkan saat itu, anda di sebuah zaman yang penyembahan berhala adalah jama', kemudian dipaksa mempercayai seorang pemuda dari bani (klan keluarga) yang lemah sebagai pembaharu dan wakil tuhan di bumi. Jika bukan didasari rasa cinta, percaya, ikhlas dan keterbukaan maka tak mungkin syahadat itu akan terucap.

Semestinya sebagai seorang muslim yang baik, kita mesti aktif mencari tahu tentang agama kita sendiri. Tak melulu menunggu disuapi oleh orang lain yang berpotensi memiliki keterputusan ide dan makna. Meminjam istilah Ahmad Wahib, seorang intelektual kritis islam, "Dalam pemahaman islam sebagai ajaran Allah," tulis Wahib dalam buku catatan hariannya, "sifat-sifat manusiawi dan kondisi sosial ikut berperanan".

Perempuan dalam banyak tafsir saklek dan kasat mata diposisikan sebagai kelompok yang termarjinalkan. Seperti tafsir perihal perempuan yang tidak boleh jadi pemimpin, atau keharusan mengenai penutup aurat, dan yang paling sering dikritisi adalah perihal poligami. Saya kira hal ini sudah selesai dibahas dan tak perlu diperdebatkan lagi. Mengapa? Karena konteks pemberlakuan ayat atau perintah tersebut, jika anda mau mencari tahu, adalah usaha perlindungan terhadap perempuan.

Bahwa pada saat awal perjuangan islam banyak terjadi perang yang melahirkan banyak janda. Sedangkan dalam struktur masyarakat tradisional arab, seperti yang digambarkan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, kerap kali tak berpihak pada janda. Sehingga peran lelaki muslim dianjurkan untuk menikahi para janda tadi.

Mengenai perempuan yang tak boleh jadi pemimpin? Saya kira kita banyak mendengar kisah bagaimana Rasul memberikan banyak porsi bagi istri-istrinya untuk berdakwah. Juga sepeninggal beliau Aisyah masih konsisten memberikan masukan dan menjadi rujukan dalam membenarkan sahih dan sanad sebuah hadis. Jika ini tak boleh disebutkan sebagai sebuah kepemimpinan (leadership) entah apa namanya.

Saya kira seorang muslim akan berhasil menjadi sebuah umat yang utama (khaira ummah). Apabila ia bisa mencapai keseimbangan antara pemahaman agama, filsafat dan sains.Kebijakan yang lahir dari pengetahuan luas dan holistik. Tidak menggunakan satu kaca mata kuda yang menuntunya pada sebuah pemahaman parsial, bukan sesat, hanya saja sempit lagi kering.

Jika dulu Gus Dur menyeru pada pencarian Islam yang damai bukan islam yang ramai. Maka saya memikirkan konsep islam yang manis bukan islam yang sadis. Islam yang membuat para penganutnya merasa  bergairah untuk selalu beribadah dan lebih dekat pada penciptanya. Islam yang tak lagi memperdulikan perbedaan sepele untuk mencari makna subtantif dari relasi hablumminallah dan hablumminannas.

Bahwa islam haruslah menyenangkan, ramah, nyaman dan yang paling penting tak membuat kita takut apalagi terkekang. Saya tak membahas perihal kebebasan seperti yang hendak dicapai Nietzche dalam Zarathustra. Saya berbicara perihal islam yang sederhana dan tak berlebihan dalam memperlakukan umat, khususnya para perempuan. Lahaula Wala Quwata Illa Billah.

7 komentar:

  1. Islam itu semudah-mudahnya salam, selamat. Islam sendiri kan berasal dari salam, berarti selamat. Kalau malah dipersulit yaaaa apakah itu Islam namanya? Entahlah. Wallahu a'lam. :)

    BalasHapus
  2. intine sederhana, si suami pencemburu, dan dia pakai dalih agama untuk mendukung sikapnya itu. hehehe. mesakke temen cah. :-D

    BalasHapus
  3. tulisan yg bgus...keep posting, gan

    btw klo mnurutku yg trjadi pd kawan anda itu bkn pmbatasan yg semacam itu, melainkan pmbatasan karena cemburu yg dilakukan seorang suami kpd seorang istri yg mungkin dianggapnya trlalu dekat dgn lawan jenis yg bukan suaminya di dunia maya...

    aku pikir itu wajar, toh itu bkn brarti pergaulan ybs juga dibatasi d dunia nyata selama msh dlm kaidah2 yg wajar mnurut agama dan masyarakat... CMIIW...

    wallahua'lam....

    BalasHapus
  4. Tulisan yang bagus dan padat makna, mas.. Makasih sdh berbagi...

    BalasHapus
  5. masokis tuh eh salah maksudku, suaminya maskulinis dan sepertinya istrinya kurang jutek utk bilang, "pakkkeeekkkk woooiiii otak loooooooooo" hehhehehehehhehehehhee
    *disambit suami se-indonesia

    BalasHapus
  6. sepakat sama hujanreda, most of men use religion justification for their own personal problems. dan seringkali wanita (istri) menurutinya atas dasar pemahaman agama & budaya yg misoginis, bahwa mjd istri yg baik itu yg menuruti apa kata suami, segakmasukakalnya itu.

    btw, thank for remind me yah *ngaca

    BalasHapus
  7. no hard feeling mbake :D aku inget perbincanganmu dengan lifa dan rafli. sampe sekarang masih begidik. eks ketua USEF yang legendaris. no man shall face you in debate :D

    BalasHapus