Dalam sebuah fragmen yang teramat menyakitkan dalam film klasik Ladri di biciclette, Antonio Ricci harus
menahan rasa malu dan kekecewaan luar biasa. Karena harus menjadi pesakitan
karena menuntut apa yang menjadi haknya. Ini merupakan potret besar gambaran
peradaban manusia yang cenderung menghamba pada suara yang paling nyaring,
daripada suara yang paling benar. Bahwa selalu ada yang tak kasat mata ingin
menyampaikan hukum purba bahwa orang-orang kalah tak punya tempat untuk membela
diri.
Seperti juga Syahrir di pembuangan. Si bung kecil harus menjadi korban
egoisme Sukarno yang terlanjur mencurigainya sebagai musuh. Ia terpaksa
dipasung jauh dari negaranya karena dituduh terlibat dalam Bali Conection, yang sampai hari ini tak terbukti dan tak diperbaiki
nama baik para tertuduhnya. Toh pada akhirnya si Bung Besar mengakui dalam
penuturanya terhadap Cindy Adam. Bahwa tindakannya pada Bung Kecil adalah
“hukum revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau
dipenjarakan.
Juga dengan Tezin Gyatso, si dalai
lama ini mesti terusir dari tanah dimana ia dilahirkan. Untuk kemudian menjadi
seorang desertir dan dianggap subversif. Kerap kali para pembaharu bernasib tak
lebih baik dari ternak. Mereka mesti bersiasat untuk produktif, tetap dikenal,
tetap berusara agar tetap bisa hidup dan kemudian menjadi martir. Perjuangan
berganti dari milisi bedil menjadi pertemuan, seminar dan juga kuliah umum.
Bertahan hidup untuk selalu tetap dalam sorotan dan tetap bertahan hidup. Meski
tak selamanya demikian.
Lihatlah kematian miris yang mesti
diterima oleh Hasan Al Banna. Pendiri Ikhwanul Muslimin ini mesti meregang
nyawa setelah diberondong peluru. Meski harusnya ia bisa selamat jika saja
selama dua jam setelah ia ditembak para dokter dan perawat mau menolongnya.
Juga seperti banyak kisah dalam perjanjian lama. Tuhan punya wajah garang yang
ia tunjukan justru kepada manusia-manusia yang memiliki kesalihan.
Ada rupa bengkok dalam suara nyaring
manusia. Kebenaran tidak lagi menjadi sebuah acuan. Tetapi menjadi kerangka
yang bisa dibelokkan, dipotong atau dihilangkan sama sekali. Tentu tak semuanya
demikian. Melainkan ada sebagian pihak yang menjadikan kebenaran sebagai sebuah
ancaman. Mereka tak ingin status quo dirinya terganggu sehingga menciptakan kebohongan-kebohongan
yang teramat tengik.
Tentu Joseph Goebbels, mentri propaganda Nazi, bisa menjadi sebuah rujukan yang segar. Ia bisa dengan mudah melakukan
kebohongan yang berulang dan menjadikannya kebenaran. Bahwa apa yang tak
sejalan dengan pemikiran the third reicht
harus menyingkir, hilang dan diganti dengan yang baru. Maka konspirasi licik
dusta adalah cara baru membentuk pikiran yang polos.
Atau juga kisah maha dahsyat dari
Korea Utara dengan segala mitos yang menyertai Kim Jong Il. Sang pemimpin besar
adalah pahlawan digdaya. Pengampu balak sihir kapitalis barat. Seorang ksatria
yang mampu pengalahkan monster made in
USA. Juga tabib maha sakti yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit.
Bagi mereka yang berpikiran waras tentu ini adalah lelucon yang sangat komikal.
Tapi bagi para pendukungnya, Kim Jong Il, adalah kebenaran itu sendiri.
Hans Cristian Andersen dengan sangat
cerdik membidik kisah ini dalam salah satu karya legendarisnya Pakaian Sang
Raja. Bahwa seorang penipu bisa membengkokkan logika hanya dengan sebuah konsep
absurd bernama “Kebersihan Hati”. Yang hal ini dihancurkan oleh seorang anak
polos yang bertanya “Kok Raja Telanjang?” maka kebenaran itu melimpah ruah
seperti air bah. Kebenaran, ditengah kebohongan, adalah sebuah trend yang
menunggu nabi snobs untuk mewartakannya.
Belakangan ini saya semakin hari
semakin merindukan tokoh muda seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Tokoh yang
akan selalu berkata apa adanya. Jujur tanpa tendeng aling-aling. Karena toh
meski saya adalah terpelajar, kelakuan saya tak suci-suci amat. Ada beberapa
hal yang membuat saya malu menjadi pengagum Wahib dan Gie.
Dalam salah catatan kecilnya, Wahib
menuliskan “Hawa nafsu yang terkekang menimbulkan hipokrisi.” Kata kata ini
mampu memancing polemik. Karena dalam banyak peradaban dan keyakinan nafsu
adalah musuh yang mesti ditaklukan. Dalam islam sendiri ada sebuah pepatah yang
mengatakan bahwa “Jihad terbaik adalah jihad melawan hawa nafsu,”
Wahib, saya kira tahu betul apa
konsekuensi dari penyampaian kata-kata itu. Ia sedang berusaha mendekonstruksi apa yang telah
menjadi keyakinan dan perjuangan banyak mujahid dan pemikir islam. Bahwa Nafsu
hendaknya dikekang, atau dinihilkan untuk meraih apa yang disebut surga. Namun
saya kira kita mesti adil menempatkan diri bahwa kebenaran adalah kebenaran,
meski itu menyakitkan.
Dalam suatu adegan lain Gie juga
bersitegang dengan gurunya saat masih duduk di bangku sekolah. Perihal ada perbedaan
antara pengarang dan penerjemah. Bahwa Chairil bukan pengarang Pulanglah Ia si Anak Hilang karya Gide.
Ia hanya sekedar jembatan bagi orang lain untuk mengerti. Di sini kita bisa
melihat bahwa seorang guru, yang notabene terpelajar, bisa menjadi sangat fasis
dan menolak kebenaran yang diberikan kepadanya.
Hari ini Indonesia butuh dari sekedar
kebenaran. Negeri ini butuh orang-orang yang berani bertindak dan menujukan
bahwa kebenaran itu ada. Bahwa kebenaran itu adalah universal dan bukan milik
segelintir orang. Kebenaran bukanlah klaim yang bisa dimiliki sepihak tanpa ada
upaya untuk menyangsikannya. Kebenaran adalah apa yang kita capai dari sebuah
dialektika keraguan.
Tapi toh tak semuanya setuju konsep
kebenaran yang demikian. Beberapa dari kita di negeri ini menganggap kebenaran
adalah suatu yang turun dari langit. Sesuatu yang telah ada di sana dan tak
boleh diragukan. Kebenaran adalah sebuah roh absolut yang mutlak diterima. Kebenaran
yang demikian adalah sebuah dokrtin dogmatis yang kerap kali membawa korban
daripada pencerahan.
Kita harusnya percaya bahwa siapapun
yang mengatakan tuhan tak ada ia memiliki separuh kebenaran. Juga kepada
siapapun yang mengatakan tuhan itu ada. Kita sama-sama awam dan dhaif dalam
pembuktian sesuatu yang di luar diri kita. Namun kerap kali ada beberapa orang
yang merasa lebih berhak dan memiliki otoritas lebih dalam pembelaan sesuatu
yang bukan dirinya.
Adakalanya kita mesti melawan. Namun
seringkali baiknya kita menahan diri. Bahwa kekerasan atas nama kebenaran tak
pernah bisa dibenarkan. Bahkan oleh mereka yang menganggap dirinya wakil tuhan.
Kita mestinya duduk bersama membicarakan hal-hal yang terlampau sulit dengan
bahasa yang sederhana.
Bahwa kebenaran itu tak mesti tersimpan dalam tafsir-tafsir yang rumit
namun bisa dipahami sebagai sebuah perbincangan yang ramah dan apa adanya. Masalahnya
kini adalah, apakah kita siap? Untuk menerima kebenaran? Yang bisa jadi tepat
dan bisa jadi salah? Semua kembali kepada diri kita masing masing. Toh semua
ini hanya gumam kan?
Biasanya kebenaran itu identik dengan yang sederhana. Biasanya loh ya. :))
BalasHapusho'oh mbak. sing penting gayeng.
BalasHapus