Sabtu, 19 Mei 2012

Kebenaran

Dalam sebuah fragmen yang teramat menyakitkan dalam film klasik Ladri di biciclette, Antonio Ricci harus menahan rasa malu dan kekecewaan luar biasa. Karena harus menjadi pesakitan karena menuntut apa yang menjadi haknya. Ini merupakan potret besar gambaran peradaban manusia yang cenderung menghamba pada suara yang paling nyaring, daripada suara yang paling benar. Bahwa selalu ada yang tak kasat mata ingin menyampaikan hukum purba bahwa orang-orang kalah tak punya tempat untuk membela diri.

Seperti juga Syahrir di pembuangan. Si bung kecil harus menjadi korban egoisme Sukarno yang terlanjur mencurigainya sebagai musuh. Ia terpaksa dipasung jauh dari negaranya karena dituduh terlibat dalam Bali Conection, yang sampai hari ini tak terbukti dan tak diperbaiki nama baik para tertuduhnya. Toh pada akhirnya si Bung Besar mengakui dalam penuturanya terhadap Cindy Adam. Bahwa tindakannya pada Bung Kecil adalah “hukum revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau dipenjarakan.

Juga dengan Tezin Gyatso, si dalai lama ini mesti terusir dari tanah dimana ia dilahirkan. Untuk kemudian menjadi seorang desertir dan dianggap subversif. Kerap kali para pembaharu bernasib tak lebih baik dari ternak. Mereka mesti bersiasat untuk produktif, tetap dikenal, tetap berusara agar tetap bisa hidup dan kemudian menjadi martir. Perjuangan berganti dari milisi bedil menjadi pertemuan, seminar dan juga kuliah umum. Bertahan hidup untuk selalu tetap dalam sorotan dan tetap bertahan hidup. Meski tak selamanya demikian.

Lihatlah kematian miris yang mesti diterima oleh Hasan Al Banna. Pendiri Ikhwanul Muslimin ini mesti meregang nyawa setelah diberondong peluru. Meski harusnya ia bisa selamat jika saja selama dua jam setelah ia ditembak para dokter dan perawat mau menolongnya. Juga seperti banyak kisah dalam perjanjian lama. Tuhan punya wajah garang yang ia tunjukan justru kepada manusia-manusia yang memiliki kesalihan.

Ada rupa bengkok dalam suara nyaring manusia. Kebenaran tidak lagi menjadi sebuah acuan. Tetapi menjadi kerangka yang bisa dibelokkan, dipotong atau dihilangkan sama sekali. Tentu tak semuanya demikian. Melainkan ada sebagian pihak yang menjadikan kebenaran sebagai sebuah ancaman. Mereka tak ingin status quo dirinya terganggu sehingga menciptakan kebohongan-kebohongan yang teramat tengik.

Tentu Joseph Goebbels, mentri propaganda Nazi, bisa menjadi sebuah rujukan yang segar. Ia bisa dengan mudah melakukan kebohongan yang berulang dan menjadikannya kebenaran. Bahwa apa yang tak sejalan dengan pemikiran the third reicht harus menyingkir, hilang dan diganti dengan yang baru. Maka konspirasi licik dusta adalah cara baru membentuk pikiran yang polos.

Atau juga kisah maha dahsyat dari Korea Utara dengan segala mitos yang menyertai Kim Jong Il. Sang pemimpin besar adalah pahlawan digdaya. Pengampu balak sihir kapitalis barat. Seorang ksatria yang mampu pengalahkan monster made in USA. Juga tabib maha sakti yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Bagi mereka yang berpikiran waras tentu ini adalah lelucon yang sangat komikal. Tapi bagi para pendukungnya, Kim Jong Il, adalah kebenaran itu sendiri.

Hans Cristian Andersen dengan sangat cerdik membidik kisah ini dalam salah satu karya legendarisnya Pakaian Sang Raja. Bahwa seorang penipu bisa membengkokkan logika hanya dengan sebuah konsep absurd bernama “Kebersihan Hati”. Yang hal ini dihancurkan oleh seorang anak polos yang bertanya “Kok Raja Telanjang?” maka kebenaran itu melimpah ruah seperti air bah. Kebenaran, ditengah kebohongan, adalah sebuah trend yang menunggu nabi snobs untuk mewartakannya.

Belakangan ini saya semakin hari semakin merindukan tokoh muda seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Tokoh yang akan selalu berkata apa adanya. Jujur tanpa tendeng aling-aling. Karena toh meski saya adalah terpelajar, kelakuan saya tak suci-suci amat. Ada beberapa hal yang membuat saya malu menjadi pengagum Wahib dan Gie.

Dalam salah catatan kecilnya, Wahib menuliskan “Hawa nafsu yang terkekang menimbulkan hipokrisi.” Kata kata ini mampu memancing polemik. Karena dalam banyak peradaban dan keyakinan nafsu adalah musuh yang mesti ditaklukan. Dalam islam sendiri ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Jihad terbaik adalah jihad melawan hawa nafsu,”

Wahib, saya kira tahu betul apa konsekuensi dari penyampaian kata-kata itu. Ia sedang  berusaha mendekonstruksi apa yang telah menjadi keyakinan dan perjuangan banyak mujahid dan pemikir islam. Bahwa Nafsu hendaknya dikekang, atau dinihilkan untuk meraih apa yang disebut surga. Namun saya kira kita mesti adil menempatkan diri bahwa kebenaran adalah kebenaran, meski itu menyakitkan.

Dalam suatu adegan lain Gie juga bersitegang dengan gurunya saat masih duduk  di bangku sekolah. Perihal ada perbedaan antara pengarang dan penerjemah. Bahwa Chairil bukan pengarang Pulanglah Ia si Anak Hilang karya Gide. Ia hanya sekedar jembatan bagi orang lain untuk mengerti. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang guru, yang notabene terpelajar, bisa menjadi sangat fasis dan menolak kebenaran yang diberikan kepadanya.

Hari ini Indonesia butuh dari sekedar kebenaran. Negeri ini butuh orang-orang yang berani bertindak dan menujukan bahwa kebenaran itu ada. Bahwa kebenaran itu adalah universal dan bukan milik segelintir orang. Kebenaran bukanlah klaim yang bisa dimiliki sepihak tanpa ada upaya untuk menyangsikannya. Kebenaran adalah apa yang kita capai dari sebuah dialektika keraguan.

Tapi toh tak semuanya setuju konsep kebenaran yang demikian. Beberapa dari kita di negeri ini menganggap kebenaran adalah suatu yang turun dari langit. Sesuatu yang telah ada di sana dan tak boleh diragukan. Kebenaran adalah sebuah roh absolut yang mutlak diterima. Kebenaran yang demikian adalah sebuah dokrtin dogmatis yang kerap kali membawa korban daripada pencerahan.

Kita harusnya percaya bahwa siapapun yang mengatakan tuhan tak ada ia memiliki separuh kebenaran. Juga kepada siapapun yang mengatakan tuhan itu ada. Kita sama-sama awam dan dhaif dalam pembuktian sesuatu yang di luar diri kita. Namun kerap kali ada beberapa orang yang merasa lebih berhak dan memiliki otoritas lebih dalam pembelaan sesuatu yang bukan dirinya.

Adakalanya kita mesti melawan. Namun seringkali baiknya kita menahan diri. Bahwa kekerasan atas nama kebenaran tak pernah bisa dibenarkan. Bahkan oleh mereka yang menganggap dirinya wakil tuhan. Kita mestinya duduk bersama membicarakan hal-hal yang terlampau sulit dengan bahasa yang sederhana.

Bahwa kebenaran itu tak mesti tersimpan dalam tafsir-tafsir yang rumit namun bisa dipahami sebagai sebuah perbincangan yang ramah dan apa adanya. Masalahnya kini adalah, apakah kita siap? Untuk menerima kebenaran? Yang bisa jadi tepat dan bisa jadi salah? Semua kembali kepada diri kita masing masing. Toh semua ini hanya gumam kan?

2 komentar:

  1. Biasanya kebenaran itu identik dengan yang sederhana. Biasanya loh ya. :))

    BalasHapus
  2. ho'oh mbak. sing penting gayeng.

    BalasHapus