Kamis, 31 Mei 2012

Kretek

Romdhi Fakthur Rozi - Petani Tembakau di Kalibaru



            Pada awalnya adalah kesunyian yang berganti dengan riuh perlahan suara retak. Tak mungkin ada kretek tanpa cengkeh, yang membuat nyala tipis klobot berpadu tembakau itu berbunyi ketika terbakar perlahan. Saya mengenal itu dari kebiasaan almarhum kakek yang biasa menikmati kretek tiap malam. Kakek saya bilang itu adalah resep panjang umur dan kehangatan.

            Ada sebuah ritus keseharian yang saya lihat dari prosesi merokok kretek yang dilakukan oleh kakek saya. Dalam banyak hal saya percaya kakek menikmatinya sebagai usaha untuk meditasi. Karena kakek biasanya merokok kretek dalam kesendirian, menikmati tiap hembusnya secara perlahan. Dimana setelah melakukan kegiatan itu ia menjadi jauh lebih rilek dan tenang.

            Memang dari pengalaman personal tersebut saya tak bisa membuktikan secara argumentatif bahwa rokok bisa memberikan ketenangan. kretek bukan pula ganja yang menghadirkan adiksi dan halusinasi, lebih dari itu, untuk saya kretek adalah sekedar cara untuk mengenang masa lalu.

            Adalah Haji Djamari yang konon pada abad ke- XIX menemukan kretek. Proses penemuannya pun sederhana. Haji Djamari yang sakit asma menahun merasakan kehangatan saat mengoleskan minyak cengkih pada dadanya. Karena penasaran ia kemudian menambahkan sedikit cacahan cengkih kering dalam rokok klobotnya. Hasilnya adalah cita rasa hangat dan spesial dari percampuran tersebut.

            Haji Djamari mengubah sejarah peradaban dengan tindakannya itu. Jika saja ia tak iseng melakukan variasi percampuran, maka kakek saya tak akan menikmati momen kesendirian tiap malam itu. Saya sendiri tak merokok. Asap penuh rempah yang terhidu saat menghisap terlalu keras untuk bersepaham dengan paru-paru saya yang lemah. Namun untuk sekeping kenangan yang terhadir dari suara nyaring kretek terbakar, saya berterimakasih.

            Indonesia adalah negara kretek. Hampir tak mungkin di tanah ini tak menemukan kebudayaan yang berkembang tanpa tembakau. Bagaimana masyarakat mentawai memanfaatkan kretek sebagai medium shamanisme. Atau kita bisa membaca narasi yang dituturkan Mangunwijaya dalam Mendut. Atau yang coba disampaikan dalam sajak yang dibacakan oleh Rendra dalam Sebatang Lisong. Saya kira tembakau dan Indonesia memiliki hubungan kelindan yang tak sebentar.

            Lisong sendiri merupakan sebuah keseharaian dalam kebudayaan Betawi. Ia tak lagi sekedar menjadi pengisi kegiatan luang, lebih dari itu lisong hadir sebagai sesaji bagi roh halus. Lisong menjadi bagian dari ritus sakral dalam banyak prosesi mistis. Asap yang melepuh, wangi yang mencuat dan juga api yang membakar menjadi abu, adalah sedikit dari banyak simbol yang membuat lisong sebagai alat yang menengahi  mahluk fana dan ghoib.

              Konon hari ini adalah hari anti tembakau sedunia. Seringkali kita gagap memahami ada perbedaan antara merokok sebagai kegiatan dan tembakau sebagai komoditas. Mereka yang menyerang tembakau berarti tak paham benar segala ritus dan kebudayaan yang hadir karenanya. Mungkin bisa jadi latah karena propaganda kesahatan. Atau karena memang benar lahir dari kejumudan yang tak nyaman dari perilaku para perokok.

            Bisa jadi, kelahiran hari anti tembakau sedunia benar-benar murni kemarahan pada perokok yang tak tanggap santun. Menghembuskan asap nikotin kepada mereka yang kini disebut perokok pasif. Atau bisa jadi hari anti tembakau sedunia adalah usaha-usaha untuk memusnahkan peradaban besar nan panjang. Tapi bukankah itu semua tak penting? Yang penting adalah menentukan sikap untuk mau mencari tahu dan memahami benar apa itu merokok, tembakau dan kretek. Tidak serta merta membebek pada segala yang jamak.

5 komentar:

  1. Peradaban tak selamanya baik. Budaya tak selamanya benar. Bukankah di dunia ini banyak tradisi yang salah seperti ritual mempersembahkan anak sebagai korban untuk dewa atau menggores-gores tubuh dengan benja tajam? Patutkah dipertahankan? Nyatanya ritual-ritual tersebut telah hilang, atau minimal sudah berkurang sekarang ini.

    Sama halnya dengan tembakau. Dulu memang manusia belum tahu bahwa tembakau berbahaya. Tapi sekarang, ilmu pengetahuan telah menunjukan dampaknya bagi kesehatan. Kalau tembakau berbahaya, bukankah tak salah jika kita menghilangkannya, atau minimal mengurangi penggunaannya? Misalnya dengan menaikkan cukai rokok, sehingga pembeli akan berpikir 1000 kali sebelum membeli rokok.

    Kretek juga menimbulkan adiksi bagi penggunanya. Kalau memang benar kretek tak menimbulkan adiksi seperti yang Anda sampaikan, mengapa para perokok begitu sulit untuk berhenti merokok? Apa itu jika bukan dikatakan adiksi? Sulit berhenti adalah tanda yang sangat jelas menunjukkan adanya adiksi.

    Apakah mengisap tembakau adalah budaya asli Indonesia? Kalau melihat dari sejarah, awalnya pengguna tembakau adalah suku Indian Amerika, menyebar ke negara-negara Eropa dan Arab. Pada abad XIX, Indonesia memiliki hubungan perdagangan yang sangat erat dengan Eropa dan Arab. Besar kemungkinan Haji Djamari mencampur tembakau karena terinspirasi para pedagang asing tersebut. Campurannya memang mungkin unik, tapi bukan 100% ide beliau.

    BalasHapus
  2. Secara umum, pembela tembakau dapat saya bedakan menjadi 2 jenis: 1) para perokok yang telah terjerumus adiksi, 2) orang yang mendapat penghasilan dari industri rokok.

    Untuk para perokok, saya mengerti bahwa melepaskan diri dari kebiasaan merokok adalah hal yang sangat sulit. Tapi bukan tidak mungkin jika ada niat dan dukungan lingkungan. Hari anti tembakau sedunia adalah salah satu upaya untuk menyadarkan para perokok.

    Orang yang mendapat penghasilan dari industri rokok bisa saya bagi lagi menjadi 2, yaitu kelas pengusaha, karyawan, dan petani. Untuk para pengusaha rokok yang sudah banyak meraup keuntungan dari penjualannya, saya yakin pengalaman wirausaha mereka telah cukup untuk membangun bisnis lain yang lebih bermanfaat. Para karyawan perusahan rokok tentu bisa tetap dipekerjakan oleh mantan pengusaha rokok yang telah mendirikan perusahaan baru sebagai ganti perusahaan rokok.

    Untuk petani kecil, bukankah lahan penanaman tembakau bisa saja diganti tanamannya menjadi komoditas lain seperti padi, tebu, dan komoditas lain yang bermanfaat yang selama ini masih banyak kita impor?

    BalasHapus
  3. benar. Masalahnya saya pun tak merokok.
    Kalau masalah budaya, kita bisa berdebat panjang lebar. Karena banyak budaya yang lahir dari orang asing dan diadopsi oleh bangsa ini.
    Jika tak percaya bisa melihat daftar panjangnya dari persilangan budaya arab dalam tahlilan, kenduri blang, atau bahkan khitan anak.

    Perubahan komoditas bukan hal mudah dan saya kira itu bukan jawaban.
    Di Jember usaha itu bukan tak pernah dilakukan, pernah berulang kali dicoba dan gagal. Karena para petani turun temurun telah memahami benar bagaimana bercocok tanam dengan tembakau.
    tentu dari pihak pertanian setempat sudah mencoba memberikan pelatihan dan pengetahuan budidaya tanaman lain. namun sudah susah mengubah kultur yang berkarat dalam benak petani jember.
    saya kira memang bisa dirubah. tapi toh pertanian padi, tebu dan komoditas lain pun masih sama bejatnya dengan tembakau.
    tebu masih dikuasai satu dua cukong. beras? kita masih impor padahal panen berlimpah.

    BalasHapus
  4. saya tidak diuntungkan kok oleh industri rokok. in fact, saya malah membenci perokok. benar ada keterkaitan besar antara perokok dan petani tembakau. tapi para petani tembakau tak bisa disalahkan atas perilaku perokok. itu satu poin penting.

    saya mengenal beberapa petani tembakau yang tak merokok. saya sendiri tak merokok. seringkali merasa terganggu oleh mereka yang merokok di depan umum.

    saya sering menegur baik-baik perokok di tempat umum. sering dimarahi balik, tapi toh akhirnya mereka berhenti.

    saya setuju ada regulasi yang melindungi para non perokok. tapi juga mendesak adanya perlindungan pada para petani tembakau. tidak serta membeo atas nama kesehatan.

    jika merokok memang melahirkan adiksi, kenapa tidak ada gejala serupa pemakai narkotik? seringkali penyeragaman bisa menjadi keji.

    benar tak semua budaya itu baik. tapi tak mesti dihilangkan. standar siapa yang dipakai?
    suku dani melakukan mutilasi karena penghormatan arwah nenek moyang. lalu misionaris barat datang dan mengatakan hal itu tindakan barbar. tapi toh memperkenalkan minuman keras sehingga merusak berbagai generasi setelahnya. standar moral dan kebenaran siapa yang mau dipakai?

    BalasHapus
  5. Benar, dari segi budaya akan ada terlalu banyak yang akan diperdebatkan. Saya juga tidak setuju dengan minuman keras yang dibawa dari budaya barat. Sulit memang menentukan standar yang mau dipakai.

    Benar, terhadap sistem saraf, rokok memang tidak separah narkotik, tapi rokok memang pada dasarnya adiktif. Narkotik bersifat adiktif dan halusinogenik, sedangkan rokok hanya adiktif. Nikotin pada rokok mempengaruhi otak manusia dengan cara menghasilkan rasa tenang. Seiring merokok, lambat laun otak terbiasa dengan rasa tenang yang muncul akibat nikotin. Akibatnya, jika telah terbiasa merokok, terjadi perasaan depresi saat mulai menghentikan kebiasaan merokok. Inilah adiksi, alias ketergantungan, atau kecanduan.

    Sifat ketergantungan inilah yang salah satunya membuat pengusaha rokok untung besar. Jika sudah sering merokok, akan sulit berhenti merokok. Ada seorang kenalan yang merelakan mengirit makan. Makan siang hampir selalu hanya mie instan, padahal setiap hari dia menghisap rokok hingga berbungkus-bungkus. Gajinya yang pas-pasan dihabiskan dengan rokok yang sama sekali tidak sehat. Makin stres karena gaji pas-pasan, makin dihirupnya rokok untuk melupakan beban hidup. Istrinya juga harus merasakan hidup morat-marit akibat suaminya kecanduan merokok. Saya sangat kasihan melihatnya.

    Kebanyakan perokok pemula adalah remaja, terutama pria. Mereka adalah kelompok umur yang sangat mudah dipengaruhi iklan dan teman. Sebagian mencoba karena ingin tahu. Sebagian mencoba karena diajak teman. Beberapa awalnya menolak, namun karena dibilang banci oleh teman-temannya dan tidak kuat dengan ejekan tersebut, akhirnya coba merokok. Hanya yang kuat prinsipnya yang bisa menolak dengan tegas.

    Efeknya? Teman suami saya ada yang sudah sangat parah paru-parunya di usia kurang dari 18 tahun akibat gencar merokok sejak remaja. Banyak juga yang tidak nampak parah, tapi sebenarnya kesehatannya rusak secara perlahan-lahan.

    Mereka adalah korban. Korban dari iklan rokok yang lucu, menarik, dan membuat persepsi merokok itu keren. Korban dari ketidaktahuan akan efek rokok saat mereka masih sangat muda. Korban dari tidak adanya batasan usia pembeli rokok. Korban dari aturan cukai yang membuat sebatang rokok bisa mudah dibeli dengan uang jajan anak sekolah.

    Bagi saya, bukan hanya non perokok yang harus dilindungi. Perokok juga harus dilindungi. Mereka sedang merusak dirinya sendiri. Sebenarnya mereka terus menerus merokok bukan atas kemauan sendiri, namun karena dipaksa oleh ketergantungan yang telah menyerang sistem sarafnya.

    Ke depannya, rokok memang tidak akan menghilang sama sekali. Toh saat dikonsumsi dengan jumlah sedikit, efek rokok tidak separah yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Saya pun yakin sampai kapan pun gerakan anti tembakau tidak akan pernah mungkin bisa menghilangkan tembakau. Hanya pembatasan yang mungkin. Hanya pengurangan yang mungkin.

    Untuk masalah pertanian, saya tidak menyangka sedemikian sulit mengajak petani Jember mengubah apa yang ditanamnya. Jujur saya belum pernah bersentuhan dengan bidang ini. Lalu apa solusinya? Jika ada usulan yang lebih baik, ayo usulkan dan sampaikan kepada pihak yang dapat mengubah keadaan pada pemerintah. Sebab jika kita ingin melindungi perokok dan non perokok dengan cara membatasi penggunaan rokok, mau tidak mau petani tembakau akan merasakan dampak dari pembelian yang berkurang. Saya setuju dengan pendapat Anda yang juga ingin melindungi petani tembakau. Antisipasi sangat penting agar para petani ini nantinya tidak menjadi korban.

    BalasHapus