Senin, 21 Mei 2012

Rusuk

Apa yang lebih menakutkan dari sebuah kesadaran akan janji yang tak bisa ditepati? Atau kesadaran bahwa kalian akan mempunyai kemungkinan-kemungkinan tak dapat dengan tulus menebus sebuah ikatan. Atau sebuah keyakinan bahwa janji itu adalah sebuah kesepakatan yang salah dan semestinya tak pernah terjadi. Kalian akan dihantui pikiran-pikiran negatif yang membuat mood sepanjang hari dilumat dalam rasa enggan dan malas.

Menikah, buat saya, seperti kesepakatan menyediakan diri untuk digorok.

Sepanjang 2011 lalu setidaknya ada dua kawan baik saya selama SMA yang melangsungkan pernikahan. Satu seorang karib lelaki yang nasib cintanya tak lebih baik dari saya. Lainnya adalah sahabat perempuan yang telah lama dicurigai sebagai pacar saya. Kedua orang itu benar-benar mengejutkan saya dengan keputusan menikah. Karena toh sebelumnya kami bertemu dan berbincang, topik mengenai pernikahan adalah hal yang paling dihindari.

Saya kira mereka berdua akan menikah pada usia 30 tahunan. Saat mereka telah matang secara ekonomi dan siap secara emosional. Bukan karena saat itu mereka labil, tapi lebih pada kondisi sosial dan pribadi mereka yang tak lebih baik dari saya. Mahasiswa semester akhir, memiliki pekerjaan tak tetap dan masih doyan pada kebebasan absolut. Dengan kata lain saat itu konsep tentang sebuah komitmen seumur hidup adalah sesuatu yang benar-benar asing.

Arief, karib lelaki yang sekarang jadi juragan sapi muda, memutuskan menikah hanya dengan sekali pertemuan perjodohan. Alasannya ia tahu diri untuk tak mengharapkan orang menyukai wajahnya yang dia sendiri sebut "udah untung lengkap onderdilnya,". Sedangkan Utie, sahabat perempuan yang punya suara gemilang ini, menikah karena "jatuh cinta pada kejujuran dan kenekatan" pada orang yang kini jadi suaminya.

Pernikahan mereka juga jauh dari sebuah kisah pernikahan modern. Kenalan di socmed, kopidarat, smsan, kencan, jadian lalu menikah. Malah Arief, seperti cerita dalam novel-novel balai pustaka, saling bertukar foto  sebelum melakukan perjodohan. Utie lebih dari itu, ia dilamar hanya karena "rekomendasi bahwa mbak Utie orangnya baik dan saya suka," saya kira idiom bukan zaman Siti Nurbaya masih menemukan bantahannya.

Oke, dua alasan menikah ini buat saya absurd. Seabsurd keputusan orang untuk memasukan Twilight ke dalam nominasi Oscar.

Saya kira pernikahan itu adalah perjudian. Kita bisa beruntung dan bahagia hidup selamanya. Atau menjadi tersiksa pelan-pelan dalam sebuah neraka yang kita sepakati bersama keberadaannya. Orang-orang yang memutuskan menikah, dalam bayangan saya, adalah para pelaut dan petualang yang rela mengadu hidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui ujung dan pangkalnya.

Saya bertanya pada Arief lalu setelah menikah mau apa? Apa kamu gak takut pada suatu saat hidupmu yang bebas itu akan terbelenggu dengan kewajiban-kewajiban purba. Bahwa lelaki mesti menafkahi istri dan kau mesti jadi imam. Sekali lagi Arief yang memang ajaib ini menjawab dengan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. "Lelaki tak bisa selamanya lari dari tanggung jawab, ini kewajiban agama kita, toh juga mumpung ada yang mau," katanya.

Saya tahu dalam islam, menikah menyempurnakan separuh agama. Alasannya jelas, karena dalam pernikahan ia melegalkan banyak hal yang sebelumnya berpotensi menjadi dosa. Seperti seks, bersentuhan, pandangan nafsu dan juga otoritas terhadap orang lain. Menikah, toh menurut saya, nampak seperti dominasi lelaki terhadap istrinya. Pernikahan seringkali menjadi sebuah prototipe tiran karena rasa kepemilikan timbang rekanan sejajar.

Saya juga bertanya kepada Utie seminggu sebelum ia menikah. Kami berbincang dalam sebuah warung bakso lama sekali. Berbincang soal masa SMA dan bagaimana sebenarnya kami dulu sangat naif dan gembira. Juga fakta bahwa ia merindukan berbuat hal-hal tolol bersama dan tertawa dihukum karena kesalahan tadi. "Tapi aku perempuan Man (nama saya Arman). Aku gak bisa selamanya gitu. Dan masku ini orangnya polos aku yakin dia bisa jadi imam yang baik," katanya.

Oke, bagaimana seseorang bisa tahu ia bisa jadi baik di masa depan padahal ia baru bertemu beberapa kali saja?

Saya kira pernihakan, seperti juga jatuh cinta, kerap kali lahir dari alasan-alasan yang bodoh dan aneh. Pernikahan bukan melulu perihal tanggung jawab. Juga bukan tentang meneruskan keturunan. Atau karena bosan ditanyain "kapan nikah?". Tapi lebih pada sebuah keputusan sadar yang dibuat oleh orang dewasa yang sadar akan konsekwensi setelah keputusan itu disepakati bersama. Pernikahan seharusnya menjadi kontrak mati yang melekat pada satu individu. Selamanya.

Toh ada juga orang-orang brengsek yang memutuskan bercerai karena bosan. Bapak saya misalnya. Pernikahan selama hampir 28 tahun mesti berakhir karena alasan yang kekanakan dan terlalu tengil untuk bisa dimaklumi. Puber kedua. Juga karena orang tua mestinya paham bahwa saat ia telah memiliki keturunan, perceraian bukan sekedar untuk diri mereka sendiri. Tapi anak-anak mereka juga.

Maka, saat sahabat cum pembantu saya memutuskan bertunangan. Saya selalu terbayang pada lima tahun kehidupan bersamanya. Apa bisa? Ia lelaki yang selalu bersenggama dengan kebebasan dan merindu petualangan, hendak diikat dengan sebuah ikatan sentimentil primordial yang bertele-tele? "Suatu saat lelaki yang pergi mesti memiliki suatu alasan untuk pulang," kira-kira begitu alasannya bertunangan.

Oke, memiliki ibu yang sendirian dan mencintaimu tanpa syarat apakah kurang menjadi alasan untuk pulang?
Merujuk pada banyak hadist dalam islam, penciptaan perempuan lebih pada sosok sekunder. Bahwa Adam dikabarkan bosan dengan segala kenikmatan surga dan merasa kesepian. Lalu Allah menciptakan Hawa sebagai pelengkap. Di sini ada sebuah penanaman nilai yang salah dalam penyampaian sejarah peradaban manusia. Bahwa wanita diciptakan sebagai pemuas rasa bosan dan sekedar "Adam tak lagi kesepian".

Maka banyak kemudian yang menganggap pernikahan adalah sebuah kondisi apa boleh buat, dari dua orang yang terlanjur hidup bersama terlalu lama. Saya kerap kali ragu, bahwa manusia bisa melakukan hal seperti itu. Toh pada awal mula penciptaan saja konsepsi kesetaraan wanita dan lelaki sudah berbeda. Ini yang membuat saya mengafirmasi bahwa, pernikahan adalah perceraian yang tertunda.

Apakah ia orang yang tepat? Apakah ia bisa jadi ayah/ibu yang baik bagi anak-anak saya? Apakah ia bisa menerima keluarga saya? Dan lebih dari itu apakah kami akan bisa terus menerus mengakomodir perbedaan dan berkompromi pada ego masing masing? Kerap kali dalam sebuah pernikahan posisi lelaki menjadi lebih dominan. Meski saya kenal beberapa pernikahan yang justru si Istri yang dominan.

Wanita, masih dalam hadist yang sama, adalah sosok yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sehingga ia digambarkan sebagai sosok manusia yang berkepribadian bengkok. Sementara lelaki tak mendapat deskripsi yang sama. Malah oleh Rasulullah, melalui sahih Muslim, "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan... namun padanya ada kebengkokan"

Oke, memangnya saat kita menikah lelaki tak bisa dan tak punya pikiran untuk melakukan tindakan 'bengkok'?
Menikah bukan lagi urusan untuk mengembalikan rusuk yang hilang. Atau meluruskan perempuan yang bengkok. Ia perkara banyak hal. Bukan melulu seks, bukan melulu ahlak, bukan melulu beranak, dan juga bukan melulu terhindar dari pertanyaan kapan nikah. Pernikahan, meminjam bahasa Soe Hok Gie, adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya.

Kita tak lagi berpikir akan diri sendiri. Bahwa seusai ijab qabul atau pemberkatan gereja. Ada orang lain yang besok akan bangun pagi di samping kita. Juga kemungkinan dalam beberapa tahun ada keturunan yang tak sengaja kita buat. Juga bahwa kita bertanggung jawab atas keselamatan, kebahagiaan dan rasa nyaman pasangan kita. Berbagai hal rumit yang berkelindan yang tak pernah ada buku manualnya.

Tapi "Kau tak pernah menikah, jadi jangan sok tau," ya benar saya belum menikah. Tapi bukankah kita sama-sama bisa membayangkan imaji naga meski tak pernah melihatnya. Juga bisa membayangkan the death star dalam Star Wars meski itu tak pernah benar-benar ada. Kita mahluk yang secara jenius Tuhan ciptakan, untuk bisa membayangkan dan merasakan sesuatu yang di luar diri kita.

Meski toh tak pernah ada sebuah kesepakatan pada imaji yang tak terbentuk nyata. Seperti juga pernikahan bagi saya, yang tak menikah. Untuk itu saya mengagumi orang-orang yang berani menikah meski mereka tahu ada banyak hal yang tak cocok dari pasangan mereka. Seperti yang dilakukan dua sahabat saya beberapa bulan lalu.

Mereka adalah pasangan yang kerap putus nyambung dan hampir merasakan semua pahit getir sebuah komitmen mini bernama pacaran. Mulai dari selingkuh, pengkhianatan, cemburu, pasangan yang tak sensitif dan sebagainya. Toh itu tak menghentikan mereka menikah. "Karena memang tak ada yang sempurna. Tapi menerima apa yang ada dan belajar dari kesalahan tentu lebih baik," kata teman wanita saya yang menikah itu.

Saya kira saya, mungkin juga kalian, takut pada imaji pernikahan. Takut pada banyak hal yang mesti hilang dan banyak hal yang mesti jadi tanggung jawab saat menikah nanti. Bahwa kemerdekaan kita terebut dan kita tak bisa jatuh cinta lantas secara impulsif mengejar orang lain. Kita takut pada sesuatu yang tak pernah kita jalani.

Harusnya saya tak mendengarkan Maliq malam ini.

3 komentar:

  1. hahhahha, ya ampuuun, aku senyum2 sndiri baca tulisanmu. well kalo gtu, am brave enaf utk memasung kemerdekaanku ya :D

    BalasHapus
  2. udah lah. idup ini guyonanan kok :D

    BalasHapus