Kamis, 03 Mei 2012

Indonesia dalam Sepotong Arsip Sejarah


Salah satu contoh model interpertasi Digital Hermeneutics


Sejarah adalah perkara kedaulatan menentukan masa lalu kita sendiri. Tetapi seringkali untuk mempelajari sejarah kita harus meminta bantuan pada orang lain .Seperti saat saya ingin belajar tentang sejarah Indonesia. Terus terang ada rasa amuk amarah yang melekat saat saya mengorek masa lalu bangsa ini. Karena banyak dari arsip sejarah kita tak lengkap atau tak berada di Indonesia.

            Namun hal ini tak perlu jadi masalah lagi. Karena Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD, Institut dokumentasi perang Belanda) pada 22 Januari lalu telah membuka akses terhadap delapan puluh meter bahan arsip sejarah dunia yang diantaranya ada sejarah mengenai Indonesia.

            Tentu ini merupakan kabar yang menggembirakan. Mengingat hanya sedikit kronikus di Indonesia  yang punya keinginan kuat dalam proses dokumentasi. Kabarnya lagi arsip-arsip yang dikeluarkan tersebut terdapat lukisan, koran Indonesia, dokumentasi pemerintah Belanda, buku harian dan catatan perkara.

Sebelumnya Arsip Nasional Belanda telah membuka lebih dari 110 kilometer bahan arsip yang menjadi koleksinya. Arsip yang berasal dari bentang waktu 1.000 tahun sebelum masehi sampai 20 tahun yang lalu. Hal ini melengkapi akses terhadap 4.954 gambar dan 4.000 eksemplar asli dari arsip museum Museon di Den Haag dan kira-kira seribu eksemplar lainnya disimpan di NIOD di Amsterdam.

            Adalah Martin Berendse, direktur Arsip Nasional Belanda, yang pernah menjelaskan tentang arsip sejarah yang dimiliki lembaganya. Dimana dalam koleksi yang diperlihatkan terdapat keistimewaan, yaitu arsip-arsip itu belum ada orang yang pernah melihat atau membacanya. Artinya segala fakta-fakta baru dari suatu peristiwa atau kejadian bisa diperoleh para peneliti, sejarawan dan wartawan.

            Belum lagi teknologi baru Digital Hermeneutics, yang diperkenalkan oleh Chiel van den Akker cumsuis dari Faculty of Arts - History Department University Amsterdam. Di mana arsip-arsip dalam bentuk karya seni seperti lukisan dan foto akan ditambah perangkat penerjemah maya. Ini adalah sebuah teknologi baru yang masih dalam proses pengembangan.

            Digital Hermeneutics sebenarnya adalah gabungan antara hermeneutika sebuah ilmu kajian mengenai interpertasi kemanusiaan. Hal ini digabungkan dengan elemen digital dan semiotika lanjut. Sehingga karya seni seperti lukisan bisa dimaknai dengan mudah oleh mereka yang tak memiliki basis pengetahuan filsafat dan sejarah. Sehingga teknologi ini sangat membantu pemahaman terhadap sejarah yang terkandung dalam karya seni.

            Melalui teknologi ini variabel seperti kondisi sosial sejarah, latar belakang penyusun dan data-data primer sebuah arsip seni akan digabungkan. Karena memang sejatinya Digital Hermeneutics adalah penemuan interdisipliner yang menggabungkan berbagai studi keilmuan yang berbeda.

            Interpertasi lukisan dari Mohamad Toha misalnya yang diberi tajuk a child in war. Dimaknai  sebagai sebuah kritik terhadap kondisi perang saat itu. Mengenai keikutsertaan anak-anak dalam perang. Dan bagaimana ia bisa menerjemahkan kebrutalan di atas kanvas.

          Saya kira teknologi ini penting untuk memudahkan pembacaan sejarah. Mengingat tak semua orang mau ambil pusing belajar mengenai sejarahnya sendiri. Toh sejarah, meminjam kata-kata Kurt Vonnegut "is merely a list of surprises," dimana ia melanjutkan "It can only prepare us to be surprised yet again."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar