Minggu, 30 Januari 2011

Bátard Eifel

Paris masih tetap malam saat kamu tiba dengan serangkaian marah yang ditahan. Matamu merah, tapi tak nampak barang sebiji airmata. Itulah kamu, terlalu angkuh pada dunia. Bahkan pada dirimu sendiri. Bukankah tangis adalah sebuah eskapis luka-luka yang tak bersembuh? Kamu duduk menghadap jendela. diam, diam dan diam. Kamu memang tidak suka ditanyai perihal warna merah matamu. dan aku tahu itu, terlalu banyak mata-mata merah yang kamu tunjukan padaku.

"Aku ingin jadi pawang hujan"

"Buat apa?"

"Aku mau bikin hujan besar, terus sungai Seine meluap dan meruntuhkan Eifel jahat itu!"

“kenapa jahat?”

“pokoknya jahat”

“kamu kekanak-kanakan”

“memang, aku masih muda, lalu kenapa? Selama muda hak ku untuk berbuat seenaknya”

“ya ya ya”

Ucapanmu menghamburkan lamunan tentang tugas akhir yang akan selesai. Apalagi ini? Kamu selalu saja begitu, datang serupa petasan yang merepet, keras, dan bising lalu kemudian menyisakan kesunyian serupa kuburan. Mengisi kesunyian itu dengan hela napas yang tertahan. Dan seringkali aku yang musti kerja keras menghiburmu dengan coklat panas.

Kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Bahkan pada musuh paling keji yang bisa dikenal sejarah. Orang yang selama hidupnya hanya mengenal dua jenis manusia, orang yang baik hati dan orang yang sangat baik hati. Aku percaya kamu diciptakan dari embun pertama bulan januari.

Dan disinilah, di flat murah hati di pinggir sungai Seine kamu duduk termanggu. Murung, manyun dan menggerutu. Kamu masih memakai syal warna hijau kesukaanmu itu. Syal butut yang kamu dapat dari pasar Senen. Yang kamu curigai milik Audrey Tautou. Menghela napas setarikan, meletakan segenap penat yang kukira masi tersimpan separuh itu.

"ada apa lagi dengan Eifel?"

"tahu gak? aku apa sih pikiran orang-orang Perancis tentang kerinduan, romantisme, revolusi dan bohemian-nitas!, yang jelas Eifel itu merusak pemandangan langit yang mendung saat mau malam, mestinya besi itu di kilokan saja"

"kan kasian orang-orang yang mencintai Eifel?"

"huh, biar mereka tahu diatas Eifel itu ada hamparan biru kelabu yang lebih indah dari seonggok besi angkuh"

“kenapa angkuh?’

“ya angkuh, besi sebanyak itu dibuang percuma atas nama estetika?”

“memang indah kok”

“masih lebih indah langit, liat juga gak bayar”

“kenapa musti marah sama eifel? Kan benda mati”

“ya pokoknya Eifel yang salah!”

wooo ngotot gak jelas”

“biarin!”

Mau tidak mau aku harus tertawa mendengar ucapanmu. Sebuah ucapan paling tolol atau paling jujur yang bisa kamu ucapkan tentang langit. Aku melihat matamu mendelik, lalu acuh memandang ke arah jendela sekali lagi. Kamu sadar, Cuma aku, dan mungkin hanya aku yang boleh dan bisa melihat serta menerima kemarahanmu. Gadis yang dicintai matahari.

Aku menghela napas, menggaruk rambut yang tak gatal. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk dihadapanmu dan mulai bicara. Aku tak tahu harus memulai bicara darimana. Karena kamu bukan pelajaran fisika nuklir yang dengan mudah aku kerjakan dengan bantuan rumus dan buku. Kamu jauh lebih kompleks dari itu. Butuh gabungan fenomenologi, psikoanalisa, linguistik dan hermenutika untuk sekedar mentafsirkan bibir monyong serupa cemberutmu saat ini. Dan aku tak mampu, karena aku hanya seorang mahasiswa fisika biasa.

Ada apa wahai Reene Luna d’Angelis lova beud” ujarku sambil nyengir.

“jangan panggil aku pake namaaa ituuu MaMadd jeleeeek!” teriaknya sambil melempar bantal kemukaku.

“lho itu kan namamu sendiri? Friendster punya, 6969 teman”

“yang kukenal bahkan tidak sepersepuluhnya”

“lalu kenapa diterima?”

“aku baik, malas nge reject. Kok kamu masih inget saja nama konyol itu?”

“kamu mungkin lupa, tapi aku selalu ingat, apalagi tentang kamu”

Momen banal, artifisal dan romantis mulai cair diruangan ini. Kamu menyunggingkan senyum, senyum yang dicintai matahari. Karena aku tahu, selalu tahu, bahkan jauh sebelum Musa mengenal sepuluh perintah. Kamu akan tertawa dengan sebuah panggilan sederhana dari nama absurd buatanmu saat masih sekolah menengah dulu. Nama yang mengharap pencitraan imut, lucu dan menggemaskan. Artifisial, namun siapa yang tak pernah mengalami pubertas selain adam dan hawa?

“MaMadd, Eifel itu untuk apa sih? Kenapa orang begitu menyukainya?”

“Eifel adalah Paris, dan Paris adalah Perancis dan Perancis adalah segudang bla-bla-bla yang tadi kamu sebutkan”

“Aku kangen rumah Madd, disana sawahnya lebar, langitnya luas, dan menara besi paling tinggi Cuma punya RRI”

“kenapa harus di Rumah? Di Paris kan banyak langit yang luas?”

emoh! Pokoknya aku mau langit tanpa ada yang nantang!”

Aku mengamini permintaanmu, percuma mendebat permintaan gadis yang mempunyai keinginan sekeras cadas. Aku akan selalu kalah pamor dan hanya akan kalah wibawa. Kamu sekali lagi terdiam, menunduk dengan mata tetap terpaku pada jendela. Dan jauh disana sungai Seine meliuk seperti ular kawin.

Aku tahu pembicaraan tentang Eifel ini hanya pelarian, yah seperti appetizer sebelum main course. Dan aku tahu, aku harus sabar menunggu sampai kamu sendiri yang mengantarkan makanan utama itu. Tak perlu lama, aku tahu, setelah sebuah tangis yang disertai sesengukan yang panjang. Kamu akan bercerita, semuanya, karena Cuma padaku, air bah kegalauanmu bisa dicurahkan. Aneh memang, aku yang hanya teman sekolah, tidak terlalu akrab, bisa menjadi sebuah spons besar yang melingkupi semua perasaanmu.

Tangismu perlahan pecah, tangisan yang terlalu angkuh kamu tunjukan pada dunia, kamu hujamkan padaku. Ya hanya padaku seorang, seorang laki-laki yang bercita-cita jadi astronot. Hanya karena kamu bilang akan menikahi laki-laki yang membawakanmu batu dari bulan. Tapi kamu tak pernah sadar, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

Aku tahu ini saatnya aku membuat coklat panas. Setelah kamu menangis dan sesenggukan panjang. Hanya coklat panas obat mujarab yang memberimu ketenangan. Aku berdiri, membiarkanmu sendiri di kursi panjang dekat jendela. Kearah dapur dan membuat coklat panas. Aku tak tahu minuman macam apa ini, aku hanya membuat, tak pernah mencoba menikmatinya.

“Madd, bisa gak kalo malam ini gak usah ada coklat?”

“lho kenapa?”

“aku gak ingin tenang, aku ingin menangis sepuasnya”

“aneh”

“gak seaneh namamu. Mamadd dengan dua de”

“mulai lagi deh”

“kamu duluan, banyak nanya, kayak hansip”

Itu ucapan paling aneh, lebih aneh dari keinginanmu menjadi mentri Agama atau pawang Hujan. Kamu yang tak suka menangis, kenapa malam ini jadi sangat sentimentil? Aku tahu ada yang tak benar, namun belum bisa meraba apa itu. Ah kamu, gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Ada apa sebenarnya?

“R, aku mencintaimu” kataku tiba-tiba.

“oh Madd? Haruskah sekarang kita berdebat lagi? Bukankah sudah kubilang, kita lebih dari itu semua. Aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki, tetapi sebagai kekasih? Kamu sudah tahu jawabannya”

“ya, tapi kamu tak pernah bilang kenapa?”

Kuputuskan untuk berdiri, memutar sebuah lagu, Paris Combo, Fibre de vere. Lantunan lagu jazz lembut itu mulai merambati dinding flat murah hati ini. Diseberang lampu-lampu kota Paris sepertinya ikut menikmati deru saksofon ini. Semuanya terasa lekas temaram.

“sederhana saja, apa yang bisa kamu berikan Madd? Cinta? Puisi? Kata-kata? Hanya itu yang bisa kudapatkan darimu.”

“bukankah semua butuh cinta R? dan puisi salah satu cara menunjukannya”

“jangan melawak Madd, kamu itu mahasiswa jurusan astrofisika, bukan sastra!”

“bukankah kamu cerita ingin menikahi astronout?”

“tentu Madd, astronout, yang mampu memberikanku gaun Versace, parfum Calvin Klein, mobil Bentley dan sebuah vila di Monaco. Apa kamu sanggup Madd?”

“tidak”

“oh Madd, tolong, aku butuh kamu, MaMadd, seorang pria romantis yang bisa memberikanku semangat kapan saja. Please? Aku butuh laki-laki itu sekarang”

“ya ya ya ya, baiklah-baiklah”

Aku tidak tahu hubungan macam apa kami ini, seperti sepasang sahabat? Bukan, kami jauh lebih dari itu? Bersaudara? Aku harap tidak, setidaknya bukan anak bapaknya. Entahlah, semacam friend with benefit. Minus hubungan badan kami, adalah sepasang kekasih. Setidaknya begitu kupikir. Kemudian aku alihkan semua pikiranku keluar jendela. Memandang langit paris yang mendung dalam kegelapan. Menelan semua warna bintang. Sementara dikejauhan kelap-kelip Eifell merayap pelan. Tetapi tak ada yang lebih indah dari kamu. Dan kamu tak pernah sadar itu, karena kamu gadis luarbiasa polos, yang diciptakan Tuhan dari embun.

“kamu marah?”

“gak, kenapa harus?”

“maaf Madd, aku perempuan biasa, aku mencintai dunia, sedangkan kamu hidup dalam angan-angan”

“bisa kita tidak membahas ini?”

ojo nesu” wajahmu merajuk.

Aku benci wajahmu yang merajuk itu, sungguh benci setengah mati. Wajah itu yang membuatku pecah berantakan dulu. Yang membuatku pontang-panting kerja keras sampai akhirnya aku berakhir disini. Di Prancis. Hanya untuk melihatmu merajuk sekali lagi.

“ya ya ya, lalu kenapa kamu menangis?”

“Piere mencampakanku”

“lagi?”

“ya, demi gadis kurus kering bodoh kurang gizi itu Madd!”

“maksudmu gadis kurus kering bodoh kurang gizi yang jadi model majalah Vogue itu?”

“bisa tidak kamu mendukung aku malam ini Madd?”

“aku hanya bicara tentang kenyataan R”

“arggghh! Kamu itu”

Entah kenapa kamu menangis lagi, kini lebih sesak, lebih tertahan dan aku tahu lebih perih.

“aku mencintaimu R”

“maMadd, please. Kita berdua tau kemana hubungan ini akan berakhir”

“aku tahu, dan aku akan selalu mencoba”

“kamu bodoh, pemimpi dan keras kepala”

“karena kamu”

“bukan, kamu hanya mencintai ide tentang ku Madd. Tentang R yang kamu sukai.”

“apa bedanya?”

“R mu adalah ia yang mau menerimamu tanpa syarat, mencintaimu dengan ikhlas”

“kamu tidak?”

“tidak Madd, aku hanya gadis biasa, aku tidak mungkin mencintaimu, aku mencintai dunia dan segala kerakusannya. Sementara kamu hidup dalam bayang-bayang”.

“bukankah hidup ini sekedar bayang-bayang”

“ tidak bagiku”

Kita sebenarnya sama-sama hidup dalam bayangan R. Kita sama-sama dibayangi pilihan dan logika masing-masing. Kamu hanya gadis sederhana yang merindukan kemapanan hidup, kepastian, sesederhana itu. Bukan yang lainnya. Sedangkan aku adalah pemimpi, tololnya masuk ilmu sains, untuk percaya ada dunia yang lebih ideal tanpa bom atom dan alkohol. Kamu dan aku, terjebak dalam ruang sempit di tepi sungai Seine, memandang mendung yang mulai bergulung. Meski dalam gelap malam, kita masih bisa merasai keangkuhan warna kelam mendung yang tak pandang bulu itu. Kusam dan muram.

“apakah kamu mencintaiku Madd? Maksudku benar-benar mencintaiku?”

“ya”

“dengan sepenuh hati?”

“tidak, itu konyol. Aku mencintaimu secara sederhana tanpa embel-embel”

“Kupikir Piere mencintaiku sepenuh hati, tapi kemudian dia menyakiti”

“dia menggigitmu?”

“tidak, diam-nya lebih kejam”

“lalu bagaimana kamu tau dia mencintaimu?”

“pokoknya tau saja, sikapnya, pandangan matanya”

Kamu diam, aku diam, kita semua diam. Menunggu datangnya suara. Paris Combo sudah lama usai bernyanyi, dalam kesederhanaan Aku mendengar Sia melantunkan Soon We’ll be Found.

Let’s not fight I’m tired can’t we just sleep tonight

Turn away it’s just there’s nothing left here to say

Turn around I know we’re lost but soon we’ll be found

Bukankah begitu R? Sebenarnya kita adalah orang-orang yang tersesat dan lupa jalan pulang. Kita tidak pulang bukan karena tidak bisa, tapi kita hanya terlalu malas dan mencari jalan kembali. Kita sudah duduk terlalu nyaman dalam ketersesatan, kita sudah hidup terlalu enak dalam tempat yang entah ada dimana lalu meyakinkan diri sendiri seolah-olah kita sudah dirumah. Padahal kita tersesat. Tetapi kamu adalah gadis yang dicintai matahari. Gadis periang yang begitu murah hati memberikan senyum. Tentu kamu tidak peduli dengan semua itu bukan?

“Madd, terima kasih ya?”

“untuk?”

“semuanya, selalu ada buat aku, dengerin aku”

“makasih doang, duit dong! Minimal terima cintaku kek ato ajak nikah gitu”

“Mamadd jelek” katamu sambil tersenyum.

Dan akhirnya kaupun tersenyum. Memberikan senyum yang dirindukan dunia, yang dirindukan malam, dan yang pasti kurindukan. Kita duduk berdua, tertawa, menikmati momen yang mahal ini. Tapi tidak lama. Karena setelah kau tertawa, pintu flat murah ini diketuk. Terdengar tok tok yang ritmis. Yang dinamis. Semacam perayaan atas sebuah keakraban. Siapa?

Kuputuskan untuk berdiri. Meninggalkanmu sendiri dengan semacam muka yang bertanya. Aku berjalan menuju pintu. Saat pintu kubuka sesosok tubuh berlari menuju kearahmu. Sementara di balik pintu berdiri sesosok wanita bertubuh tinggi kurus. Kau pun berlari bergegas menghampiri tubuh kecil yang juga bergerak menyongsongmu. Akhirnya sosok yang kau cintai itu muncul juga. Sosok yang kau cintai lebih dari aku. Muncul dan menjanjikanmu kedamaian. Aku diam, berpikir harus bersikap bagaimana.

“Piereeeeeeeeeeeee sayank, maafkan aku sayang, jangan pergi lagi aku mencintaimu” jawabmu sambil menangis. Kamu memeluk Piere erat, seolah-olah hanya kau dan dia di jagat raya.

“guk” Piere menjawab pelan.

1 komentar: