Sabtu, 22 Januari 2011

Common People


It is easy to see that we are living in a time of rapid and radical social change. It is much less easy to grasp the fact that such change will inevitably affect the nature of those disciplines that both reflect our society and help to shape it. (TERENCE HAWKES)

Betapa seramnya jadi orang kebanyakan, sekolah, bekerja, menikah, beranak dan kemudian membusuk dalam kubur. Kira-kira begitulah yang saya tangkap dari Puisi Chairil Anwar dan Wiji Tukhul. Yang satu mau hidup seribu tahun lagi dan yang satunya mau jadi peluru. Apa saja boleh, asal tidak jadi manusia biasa. Bukan manusia kebanyakan, bukan manusia yang bisanya melaksanakan citra hidup mekanis dan normatif.

Manusia itu unik lho, paling unik diantara ciptaan tuhan. Itu pun kalau anda percaya ada yang namanya Tuhan. Katanya kita itu berbudaya, berakal dan berpendidikan. Anehnya, ini kebanyakan, kita itu berlaku tanpa budaya, bertindak tanpa akal, dan bertingkah seolah tak punya pendidikan. Serius ini, kalau anda tidak percaya gampang, silahkan anda liat berita setiap pukul 6 sore. Kita hitung, berapa banyak infotaiment yang disajikan, seberapa banyak sinetron yang ditayangkan, seberapa banyak so called reality show di tunjukan dan seberapa banyak talent show di peragakan?

Saya mulai dari infotaimen, apa yang salah dari infotaimen? Tidak ada, jika anda adalah seorang hipokrit. Seorang manusia yang mau tau urusan orang lain dan merasa suci setelahnya. Dan seolah-olah hidup anda lebih baik dari orang tersebut. Dalam kadar tertentu Infotaimen adalah representasi paling banal yang bisa ditunjukan manusia, sebuah monumen kegalauan manusia dalam menyikapi hidup. Sebuah eskapis yang diyakini oleh para penontonya sebagai jalan keluar paling murah dalam menghadapi kehidupan. Menonton drama dan kesuksesan hidup orang lain!

Dalam banyak hal saya meyakini bahwa penonton infotaimen adalah manusia paling kosong, karena menjadikan (sisi buruk) kehidupan orang lain sebagai perbincangan. Meminjam istilah Guy Debord Spectacle Society, masyarakat yang hanya mampu menonton dan tidak merubah sesuatu. Celakanya para penonton infotaimen adalah kebanyakan dari jumlah penduduk bangsa ini, dan kita seolah-olah menggenapi hal itu dengan menganggap fenomena ini sebagai hal biasa dan not a big deal.

Secara kebetulan sebagian besar masyarakat bangsa ini beragama, mungkin karena pancasila sila pertama mengamanatkan pada ketuhanan. Entah tuhan siapa dan apa namanya. Yang jelas bangsa ini, mengacu pada dasar negara, harus memiliki agama. Yang otomatis memiliki panduan kesalehan menurut standar agamanya masing-masing. Yang otomatis juga idealnya akan membawa bangsa ini sebagai bangsa yang beriman dan bertakwa. Yang seharusnya juga akan menciptakan surga dunia karena segalanya disandarkan pada nilai-nilai profetik ketuhanan.

Tetapi kenapa malah orang-orang yang konon beragama itu jadi matrealis, jadi kitsch, jadi cuek, jadi diam, dan jadi budek saat saudaranya yang lain ditindas. ‘sebodo teing, sodara bukan, pacar bukan, ngapain mikirin?’. Isu-isu kemanusiaan semacam pelanggaran HAM, peristiwa bencana alam, kontrol sosial wakil rakyat, korupsi, kebebasan berpendapat dan berkeyakinan. Seperti hanya angin lalu, seperti pajangan dan seperti bukan prioritas.

Saya tidak munafik. Karena Saya juga ada didalamnya, saya tidak mau tahu dengan urusan kemerdekaan Papua? Kenapa harus peduli? NKRI HARGA MATI, gak mau NKRI ya HARUS MATI. Sesederhana itu. Terjadi bencana di pantai? Kalau gak mau kenak tsunami ya jangan dipantai, gak mau kena lahar ya jangan di gunung, gak mau jalan-jalan ya jangan jadi anggota DPR. Gitu aja kok repot. Moral value itu konsep, tapi nilai duit dan pleasure itu real. Gak usah sok suci, nabi aja istrinya banyak kenapa kalian ribut saya nulis ini.

Maaf sekali lagi, saya sudah bosan retorika, sudah bosan peduli, kadang kita cuma jadi kambing congek didepan sistem, didepan actor, di depan the great architect semua hambar dan letoy. Saya sekedar manusia, cuma ingin hidup, perkara orang lain susah ya nasibnya mau gimana lagi? If you can’t kick the scumbag, be one kata Nucky Thompson bigboss nya Atlantic City. Benar juga kok, kalo gak mau ditindas ya menindas, kalo gak suka dikorupsi ya korupsi. Perkara nanti di akherat, kan bisa tobat? Maha pengasih dan pemurah kok, what past is past ya kan gusti? Bedewe sebelum mati saya juga pengenlah di jadikan pahlawan, bapak bangsa, terserah yang mana mau pembangunan boleh mau pembaharu boleh, yang penting jadi pahlawan.

Godverdamn inlander, kita ini terkutuk jadi pribumi. Jadi pribumi di negara sendiri. 350 tahun dijajah kerajaan maharatu Wilhelmina. Dijejali sikap inferior, fasis dan juga menye-menye. Bangsa yang gegar sejarah, gegar wacana dan gegar pemikiran. Gimana mau cerdas tiap hari nonton Uya Kuya. Buat saya, tidak ada penghinaan paling mutlak atas intelektual sesorang dengan menonton acara semacam orang itu. Saya pribadi melihat Uya sebagai sebuah petasan, yang ingin meledakan sebuah tontonan yang murahan namun laku demikian luar biasa. Plotnya sama, menuju keramaian, mencari orang-orang, melakukan so called hipnotis, buka rahasia yang biasanya suka tapi benci, benci tapi suka, selingkuh dan bla-bla lainnya yang bisa tertebak dengan sekali lihat.

Apakah Uya salah? Tidak dia hanya berdagang, kita para penonton, adalah konsumennya. Kita seringkali rindu tontonan slapstick yang tidak memerlukan banyak pikiran untuk mencerna maksudnya. Oleh karena itu, gedung-gedung teater jadi sepi, gerakan sastra hanya parsial dan forum-forum diskusi hanya di isi oleh 4L, lu lagi lu lagi. Apakah ini akhir dari peradaban? Oh tidak, itu terlalu jauh. Mungkin bisa dikatakan, ini adalah ambang batas kesalihan moral, ambang batas pemikiran, dan ambang batas solidaritas sosial.

Indikatornya sederhana, sangat sederhana malah. Kita cukup melihat kotak pandora bernama televisi. Setiap tayangan memang tidak merepresentasikan pribadi penontonnya, tetapi bisa menjadi sekedar indikator terhadap minat penontonnya. Apakah mereka seorang penonton yang cerdas, yang baik atau bahkan yang acuh? Ada semacam kisah, entah benar atau tidak. Emil Salim salah seorang Guru Besar ilmu Komunikasi UI kita pernah protes kepada lembaga penyiaran kita dulu, Departemen Penerangan, karena selama 2 minggu menonton televisi dia semakin bodoh. Apakah Emil Salim terlalu hiperbolis?

Kebanyakan dari kita, bangsa Indonesia, adalah masyarakat penonton. Hanya sekedar kacung, bukan pencipta, apalagi penemu. Tidak, kita hanya bisa diam dan dicekoki tontonan yang itu-itu saja. Maka jangan salahkan jika suatu saat nanti, kebodohan adalah hal jamak, karena diam-diam kita menikmatinya. Ingatkah anda kemudian pada cerita Hans Cristian Andersen yang berjudul baju baru sang Raja? Alkisah sang raja meminta 2 orang penjahit yang baru dikenal untuk membuat sebuah pakaian terbaik yang belum pernah ada, tapi sial, si penjahit ini adalah penipu. Dengan cerdas ia berkata, “paduka, kami akan membuat pakaian yang sangat indah,” dengan sangat meyakinkan ia lanjut berkata “ pakaian terindah yang pernah ada, sehingga hanya orang yang berhati bersih saja yang mampu melihatnya”.

Akhir cerita itu tentu kita semua sudah tahu, Hans sedang mengejek kita, masyarakat kita. Yang seolah olah bersih, tetapi terlalu dungu untuk mengakui ada yang salah didepan mata mereka. Karena mereka tidak mau tercerabut dalam eksistensi ‘masyarakat kebanyakan’. Menjadi wajar, normal adalah mendiamkan segala yang salah. Karena apologi selalu sama, apa kuasa seorang individu di atas sistem? Menjadi kebanyakan adalah menjadi aman, sementara mereka yang berbeda boleh berakhir menjadi tumbal atau martir.

1 komentar:

  1. Dan Teater Sastra UI mementaskan Baju Baru Sang Raja, kisah seperti yang diceritakan di atas.
    25-27 @ GBB TIM.

    BalasHapus