Minggu, 30 Januari 2011

Tiga Puluh

Hari ini Mamadd dengan dua de berulah lagi. Kemarin dulu dia sibuk bertapa dibawah pertigaan lampu merah. Sekarang dia jalan-jalan di depan Gedung Perwalian Ingatan (DPI). Mamadd berjalan layaknya pragawan yang sedang membawakan pakaian mahal nan megah. Bedanya, Mamadd hanya pakai celana cutbray warna hijau terang, kemeja safari warna biru tanpa dikancing, tubuhnya yang tambun berlemak penuh selulit bergelambir kemana-mana. Mamadd sedang kumat.

Konon katanya Mamadd datang ke DPI untuk mengajukan semacam hal yang namanya protes. Ya seperti biasa, hidup Mamadd yang kacau balau, sontoloyo, kuper, sengit itu seperti kurang greget kalo gak pake sensasi.

“hari ini aku mau protes pada DPI” kata Mamadd dengan gagah “agar tanggal tigapuluh dihapus saja dari semua kalender!” lanjutnya lagi. Ada apa ini? Mamadd selalu saja begitu, selalu gemebyar rame padahal kosong. Dipinggir jalan orang-orang ramai berkumpul. Senang melihat Mamadd, senang melihat orang mempermalukan dirinya sendiri, padahal orang-orang yang menonton itu sebenarnya tak punya malu.

“ealah, kenapa Madd?” kata bakul rokok.

“ya agar dicapai suatu kesepakatan dimana orang-orang tidak perlu mengingat tanggal tiga puluh” kata Mamadd acuh.

“wo gendeng! Masak tanggal tigapuluh mau dihapus?” kata hansip.

“kamu yang gendeng, kok mau-maunya ada tanggal tiga puluh” kata Mamadd teriak teriak. “Cuma orang goblok yang suka tigapuluh, tiga puluh itu tanggung jawab, dewasa, hutang, janji” kata Mamadd bersikeras “life begin at thirty?, mblegedes! Sontoloyo! Siapa yang berhak menentukan itu semua?”

“semua orang wajib dewasa Madd” kata guru PMP

“semua orang kecuali Aku!” kata Mamadd.

“semua orang pasti akan berumur tigapuluh Madd” kata guru ngaji.

“tidak, aku akan langsung berumur tigapuluh satu”. Kata Mamadd.

“hah bertele-tele, kutu kupret, babi gendeng! Hayoh jelaskan kenapa harus tiga puluh” kata seorang preman.

“wealah! Dasar! Orang egois, manusia tengik, gegar sejarah! Pasti dulu tiap pelajaran sejarah tidur! Tiap ada tragedi liat sinetron! Jadi nya gini, tengik culas dan gak mau tau!” kata Mamadd.

“siapa yang tengik dan culas Madd, gak usah banyak bacot!” kata tukang becak.

“heh kalian manusia tengik” ujar Mamadd, lalu berdiri diatas tugu gedung DPI. “kalian tahu? Pada tanggal 30 Mei 1619 VOC merebut pelabuhan Jakatra di pantai utara Pulau Jawa.”

“gak penting! Gak bikin kenyang!” kata calo tiket berteriak.

“gak penting gundulmu!” teriak seorang kakek tua. “anak muda tolol macam kamu, tahu apa soal sejarah? Soal membela tanah air? Soal memperjuangkan kemerdekaan!” jawab kakek yang ternyata pensiunan veteran yang sudah kecewa nasibnya dikadali pemerintah gak tau diri.

“pak’e sabar! Sabar! Nanti jantungnya kumat!” ujar seorang anak perempuan yang mungkin cucunya. “jangan sakit dulu Pak’e, rumah sakit masih mahal, biaya pengobatan masih selangit, kakek jangan mati dulu, setidaknya sampai nanti, pemerintah memberikan tunjangan pahlawan ke tiga belas” ujar si gadis kalem.

“DIAAAM! DIAAAM SEMUA! Dasar semua kafir! Semua sesat! Pemuja setan! Syahwat! Bisa-bisanya kumpul disini semua! Kapitalis! Yahudi! Ini pasti ingin merongrong agama dan sunah!” teriak orang bersorban dengan janggut lebat. “jadi ada apa disini, tolong saya dikasih tahu, sebelum menebas leher orang kafir. Lanjutnya singkat.

“wooo sok alim lu!”

“sok beragama koe”

“sok tauuu!”

Kondisi makin ricuh. Makin ramai, para bakul makanan, tukang copet, hansip dan perangkat negara saling berdebat. Saling teriak. Saling bicara. Ingin pendapatnya diperhatikan. Ingin suaranya didengar. Semua ramai, semua sontoloyo, dan semuanya seperti binatang.

“hehe hehe hehe hehe he he”

“oi Madd! Kenapa ketawa! Dasar wong gendeng!”

“ya lucu! Liat kalian”

“ini kan gara-gara kamu, ngomong gak penting”

“apanya gak penting?”

“ya omonganmu soal tanggal tiga puluh!”

“kenapa gak penting?”

“lhaaaa! Kenapa juga kami harus ingat ada apa tanggal 30 Mei 1619?” ujar orang itu. “padahal sekarang kan tiga puluh januari duaribu sebelas!”

“emang benar! Bukan masalah tanggal berapa, tapi apa yang terjadi tanggal segitu!”

kan sudah kami bilang, gak penting!”

“buatku penting! Saat itu pasukan kompeni datang ke Indonesia dan menaklukan batavia, membunuh banyak bangsa kita dan mengambil alih tanah bangsa kita”

“buat kami tidak penting”

“sapa suruh kalian mikir itu penting”

Orang-orang jadi pada ribut sendiri, mulai berpikir, memang benar. Mamadd tidak menyuruh mereka untuk mementingkan tanggal tiga puluh. Sama saja seperti tanggal duabelas, tanggal duasatu. Orang-orang mulai pusing, mulai gerah, mulai panas. Lalu tiba-tiba dari gedung DPI yang terhormat tergopoh-gopoh dua orang yang tak kalah gendud dari Mamadd. Tak kalah tengik dari Mamadd. Dan yang jelas lebih kaya dari Mamadd.

“sodara-sodara, tenang, sebagai anggota dewan yang terhormat” kata orang itu. “semua masalah pasti bisa diselesaikan seara konstitusional, secara beradap, kalo perlu kami akan menggunakan hak poling kami” kata anggota dewan tersebut.

“buuuuuuh! Telat!”

“sok pinter!”

“sok penting”

“sok peduli, padahal rapat kerjaannya tidur!”

“sok! Waktu kerja malah studi banding, maling lu!”

Orang orang malah menumpahkan kekesalan kepada Anggota dewan tersebut. Mukanya merah. Takut. Berkeringat. “tenang sodara-sodara sekalian, kami dari Dewan Perwalian Ingatan akan membentuk Satgas Kenduri” kata anggota dewan tersebut. “kami akan mengusut tuntas segala permasalahaan ini. Soal apa tadi? Oh iya, soal tanggal tigapuluh”

“boros gak guna!”

“satgas memble!”

Tiba-tiba Mamadd yang berada di atas tugu DPI meloncat dan salto diudara. Mendarat tepat didepan anggota dewan yang sekarang sama sekali tidak terhormat itu. Semua orang terpukau, semua orang diam, semua orang memperhatikan Mamadd.

“hei kamu kacung!” kata Mamadd menunjuk muka anggota dewan tersebut. “iya kamu, kacungku kan? Babu? Pembantu? Pelayan?”

“heh! Jangan kurang ajar! Saya ini anggota dewan yang terhormat!” kata nya “jelek-jelek gini saya sudah habis sawah 800 hektar supaya terpilih jadi anggota dewan, enak aja situ panggil saya”

“lho, kerjaanku kan mewakili aku di sana, di DPI, ya kamu jadi kacung dong! Hayo jongkok!”

“iya jongkok!”

“pelayan!”

“kacung”

“babu”

Melihat kondisi massa yang makin tak terkendali. Si anggota dewan terpaksa jongkok. Memang benar mungkin, hanya dalam keadan marah, dalam keadaan tertekan dan melawan. Masyarakat akan didengar oleh wakilnya.

“dengar ya? Titahku ini, titah dari rakyatmu, rajamu, yang kamu wakili, yang sering kamu lupakan, yang sering kamu tinggal tidur, yang sering kamu tinggal reses” uajar Mamadd sambil menunjukan jari telunjuk ke muka anggota dewan tersebut.

“kamu, babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Sekarang ini tanggal tigapuluh, persetan bulan apa. Kamu ingat? Tanggal tiga puluh Mei 2007 ada penembakan di Alastlogo, Pasuruan” mata Mamadd merah menahan marah, perutnya yang gendut menegang, dan badanya tegak berdiri.

“kalo dulu kompeni rebut tanah milik pribumi, kini militer yang bunuh rakyat sendiri. Dimana keadlian itu? Hah?” kata Mamadd teriak. “ ah jangankan peduli, ingat pun kau tak mungkin!”

“kamu tahu? Kerjamu yang gak becus sebagai Dewan Perwalian Ingatan! Yang mustinya ingat, yang mustinya tidak lalai, yang mustinya tidak lupa, gagal kamu laksanakan.”

“Empat orang yang mati tanggal tiga puluh itu akan terus menunggu keadilan!, akan terus menunggu pertanggung jawaban!” ujar Mamadd berapi-api.

“kalo kamu tidak bisa menuntaskan permasalahan ini, kalo kamu tidak kuasa menyelesaikan masalah ini! Kamu punya dua jalan! Satu kamu harus mundur!”

“tapi.. tapi.. tapi..” ujar anggota dewan itu mengiba. Mukanya melas.

“ya ya ya, saya tau, saya paham, orang tengik, gak tau diri macam kamu mana berani mundur untuk sebuah tanggung jawab?” kata Mamadd tegas. “oleh karena daripada itu, maka Kamu babuku, pelayanku, kacungku! Dengar! Harus menghapus tanggal tiga puluh disemua bulan, disemua kalender, agar tidak ada tanggal tigapuluh, agar tidak ada yang ingat, agar tidak ada yang mengenang, dan yang jelas! Tidak perlu ada hutang! Cukup sekian terima kasih.”

Setelah mengucap itu Mamadd, mundur, kabur, hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar