Jumat, 28 Januari 2011

Untuk R yang Telah Memilih

R apa kabar? Apakah Kamu sudah tersenyum hari ini? Aku harap demikian, karena Aku percaya, selalu percaya, mendung kelam yang menimpa hari-hari belakangan. Adalah karena Kamu menyembunyikan sinar matahari hangat itu dalam cemberut wajahmu yang teduh itu.

Tahukah kamu R? Seperti halnya hari-hari dalam bulan Desember, hujan tak lagi datang dengan menyapa. Ia datang datang tiba-tiba, tanpa pamit, kurang ajar dan seringkali diam diam. Serupa kentut yang tak tertahan, berhembus diantara barisan awan mendung yang kelam itu. Karena entah mengapa, mungkin langit dan seluruh umat manusianya lupa akan indahnya senyum yang mampu kamu buat itu.

Mendung itu seringkali datang bersama hujan, bersama desir angin, dan tak jarang merusuh bersama badai. Tetapi seperti yang telah biasa terjadi, Aku tak pernah belajar untuk mengerti, untuk paham dan untuk bersiap. Aku selalu menyambut mendung dengan kesigapan satpam siskamling. Tiba-tiba dan terburu-buru, tanpa rencana, tanpa peduli nasib-nasib yang bergantung pada rasa kering dan hangat. Mungkin seperti itulah perasaanku padamu.

Adakah Kamu senang hari ini R? Apakah Kamu sudah tamat melihat Gossip Girl? Apakah kamu sedang berjalan diantara riuh ramai Sriwedari? Atau sedang duduk tenang menikmati concerto tembang nada karawitan di Kraton? Menikmati galeri seni? Entahlah, apapun itu kuharap akan membuat bahagia. Bahagia dalam arti sebenarnya R, bukan mengembangkan senyum tertahan untuk menjaga perasaan orang lain. Sesekali kita harus egois, mencari kesenangan dan meletakan rasa sentimentil pada tempatnya.

Aku mencintai mendung R, mendung yang gelap, mendung yang muram dan mendung yang lelet. Entah mengapa mendung itu selalu syahdu buatku, selalu tenang, dan selalu lekat. Seolah olah segala waktu itu melambat dalam segala keabu-abuan. Dan segala ego seperti luntur, seperti lenyap, seperti hampa dan seperti sepi. Semuanya meleleh dalam satu keadaan yang tidak memihak pada warna apapun.

Mendung melalaikan segala hal R, semacam ruang gelap yang tidak selesai. Tertahan dengan segala macam bahasa yang bisu. Entahlah R, mungkin kecintaanku pada mendung seperti rasa suka padamu. Terjadi tanpa perlu alasan, tiba-tiba dan sederhana. Ah ya, akhirnya kamu memutuskan untuk tidak memilih. Aku ingat, tapi bukan itu alasanku menulis R. Aku hanya ingin bertukar kabar. Seperti sahabat lama yang dipisahkan jarak, yang memang demikian adanya, lalu berbasa-basi secara sederhana dalam kata-kata.

R yang baik, R yang sebening embun.

Kamu tahu R? Seringkali Aku merasa tersesat dalam hidup ini, sebenarnya, tentang apa Aku ini hidup dan mau kemana? Hal-hal remeh temeh mengenai aliran sungai, warna angin dan kelepak burung belibis yang ritmis. Segalanya berpusat pada rasa ingin tahu. Tetapi kemudian rasa itu yang membuatku tersesat R. Seperti kanak-kanak yang terlalu asik bermain ditepi hutan lalu tanpa sadar melangkah terlalu jauh dan lupa jalan pulang.

Kita semua adalah anak-anak zaman yang dibaptis keraguan R. Seperti hujan saat mendung yang ragu-ragu jatuh menetes, yang ragu-ragu jatuh beramai-ramai, yang ragu-ragu menjadi basah. Semua serba ragu-ragu dan lelah menunggu. Barangkali dalam hidup, hanya keraguanlah yang paling pasti, bahkan dari kepastian itu sendiri. Lalu kita menunggu, mencari dan berusaha menetapkan segala kepastian dengan kadar ragu-ragu. Kita semua pernah mengalaminya R. Mungkin juga kamu, tetapi mari kita rayakan kepastian yang kamu tetapkan itu R. Tanpa hingar bingar dan tanpa tetabuhan ramai, cukup merayakan dalam kesenyapan.

Sejenak Aku keluar memandang kejalanan R, melihat jalanan, lampu kota, saluran got dan sawah-sawah yang berseteru dengan warna kelam. Kusam yang dihadirkan mendung, yang seolah olah menelan segala warna dalam suatu ruang sempit dan temaram. Mendung bukan Senja R, mendung tidak menghadirkan warna keemasan yang disambut suka cita segala hal di bumi ini. Mendung menerapkan satu tatanan otoriter tentang reduksi segala yang menyala terang. Buat mendung ketetapan adalah warna gelap dan pucat.

Mendung membagi adil ketetapan itu R, pada langit yang biru, pada pohon yang hijau, mawar yang merah, comberan yang hitam dan matahari yang terang. Dalam mendung tidak ada strata R, segalanya seragam dan tidak menonjol. Mungkin karena itu, mendung jarang disambut hangat. Hanya serangkaian umpatan dalam bau tengik kemarahan.

Mendung adalah musuh besar cucian R, musuh sejati kaktus-kaktus kering, dan musuh sejati jalanan landai, got buntu dan musuh besar Jakarta R. Mendung menghalangi cahaya, menghalangi panas, dan menghalangi semangat terang warna-warna hari. Tapi tahukah kamu R? Mereka hanya marah, buatku Mendung adalah perlindungan, mendung adalah tenang, mendung adalah sejuk dan mendung adalah kesederhanaan.

Mendung itu dicintai para demonstran R, mereka menjanjikan perlindungan dari terik matahari yang bersinar garang. Mendung itu dicintai hutan R, mereka menjanjikan basah air hujan dalam bilik-biliknya. Mendung itu dicintai hujan, mereka menjanjikan perjalanan menuju bumi. Mendung itu dicintai tanah, mereka menjanjikan kehidupan. Manusia seringkali tertipu pada rupa, pada jasad dan menisbikan apa yang dikandung. Dan Aku tahu kamu tidak begitu R.

Akhirnya hujan turun juga selepas dibuka oleh gelegar petir di kejauhan. Hujan yang deras, basah, lembab dan ramai. Tapi kenapa hatiku tak juga dingin R? Apakah itu kekecewaan? Tetapi kecewa karena apa? Apakah karena penolakan yang tersirat? Beban yang terhunus kelemahan yang teramat sangat? Entahlah R, seperti alasan langit muram, kamu pun tahu bukan? Mungkin karena angin menyapu musim, gerimis melintas pada senja selintas. Kita terlalu sering terjebak pada kata-kata sehingga seringkali kita lupa maknanya.

Diluar Angin basah sore ini menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman. Dan secara tak sengaja Seekor katak lewat, menghindar. Sementara Aku mungkin masih tidur –entah melamun atau bukan- dijerat sengau yang tertahan. Bermimpi tentang perigi tua yang tertutup ilalang panjang di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali. Dan berisi ikan mas yang entah apa warnanya. Tetapi bukankah itu hanya gumam yang tak begitu berarti bagimu R?

Bersama hujan dan mendung pekat Aku membayangkan. Hujan inilah yang sama yang pernah dirasakan dinginnya oleh Adam dimana ia tersesat diseparuh dunia mencari tulang rusuknya. Yang mungkin ia lupa telah menjadi sesosok Hawa. Yang mungkin secara alpa ia lemparkan entah kemana dibagian bumi yang beranjak gelap. Aku sadar R, dalam keraguan, dalam kekecewaan, Aku hanya bingung mencari tulang rusukku yang entah menjelma menjadi siapa -dimana dulu kukira itu Kamu- dan lambat lambat menjadi sesak.

Andai saja kita bisa menyederhanakan rasa suka seperti menikmati secangkir coklat panas tanpa perlu memikirkan pusing memikirkan nampan yang membawanya. Menikmati segelas coklat secara apa adanya, tentang rasanya, tentang warnanyanya, tentang wanginya dan segala hal sederhana mengenai segelas coklat. Tanpa perlu pusing berdebat. Tetapi bukankah perasaan selalu begitu? Ia selalu merumitkan hal-hal sederhana, sehingga kadang kita terjebak pada segala macam tetek bengek analisis, variabel dan metode yang sebenarnya tak penting. Namun apalah daya nalar didepan perasaan? Ia tak berarti apa-apa R.

Apakah Kamu masih menyimak R? Serangkaian kata dalam pesan yang mungkin tidak penting ini. Tentang gumam dan rasa cemas yang berhulu pada ketakutan, mungkin, ketakutan yang dilahirkan dari tindakan tolol. Bukankah semua manusia pernah tolol R? Seperti Aku yang selalu lupa dimana letak dompet dan kunci motorku, seperti Aku yang selalu lupa menaruh buku dan marah-marah karena seringkali Aku tidak mau menerima keadaan itu dengan lapang dada.

Aku masih berharap kamu sudi membaca pesan ini dan tidak berhenti ditengah jalan, atau malah Kamu menghapusnya. Mungkin Kamu membacanya kini disela-sela waktu padat menulis paper, merawat kaktus, mendengar Coldplay, atau bahkan dalam perjalanan pulang menuju rumah. Entahlah R, Aku mungkin tak akan pernah tahu bagaimana nasip pesanku ini kelak.

Mungkin bagimu ini adalah sekedar sampah, seperti kerak diperut wajan penggorengan, bungkus permen karet, atau kulit kenari. Semuanya terlalu melenakan, terlalu menyesatkan, terlalu basa-basi, sedang Aku kira Kamu tak butuh semua itu R. Karena disini Aku hanya bisa menulis R, karena hanya dalam kata-kata Aku berani bersikap, berani berulah dan berani berdiri dengan gagah. Dunia selain kata-kata terlalu asing bagiku R.

R yang baik, R yang galak.

Hujan deras dan barisan mendung diluar sana melenakan waktuku R, yang tanpa sadar membuatku lupa akan detik yang berlalu. Aku telah melewatkan separuh hari hanya menulis pesan yang mungkin bodoh bagimu. Tetapi bukankah kita semua berhak menjadi bodoh, berhak menjadi kanak-kanak, dan berhak bertingkah konyol? Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang. Sedangkan ditanganku, kata-kata menjadi sebaris pasukan yang siap menukik jatuhkan seorang tiran atau menyaru gombal dalam ratapan. Semuanya mungkin dalam kebodohan R.

Geletar petir, suara angin, tetes hujan, warna awan, simfoni kodok dan cicit tikus semua bersatu R. Mereka berbahasa, yang tidak kita pahami, namun kita pahami. Mereka bilang itu adalah Dzikir terhadap kuasa para pencipta R. Dan memang semua puja-puji hanya untuk-Nya R. Seperti halnya saat Kamu bilang “Tuhan Hebat yah menciptakan senja” namun jauh dalam hatiku Aku bertakbir “Tuhan jauh lebih hebat karena nyiptain kamu, meski bukan buat Aku”. Dalam bisik lirih Aku selalu berujar itu R. Semoga Kamu tidak keberatan.

Seringkali Aku takut untuk berkata “suatu hari kita akan bertemu, berjabat tangan sekali lagi dan menikmati hari yang beranjak tua”. Aku takut untuk percaya pada kata ‘suatu hari’, karena dalam banyak kisah hidup kita. Suatu hari adalah kata lain untuk ‘tidak akan pernah’, seperti kita terjebak dalam rasa ‘nanti’ sehingga menunda segala hal penting yang membuat kita merasa hidup. Penundaan adalah sikap tamak pada waktu R, Kamu tentu tahu itu, karena Kamulah yang mengajarkan Aku tentang itu.

Aku tahu, sangat tahu dan paham ini adalah waktu yang tepat untuk pasrah, untuk menyerah dan merayakan rasa kalah. Apakah Aku kecewa? Pasti R, tapi bukankah kubilang untuk tidak memilih, untuk tidak peduli dan untuk tidak menjawab. Karena sedikit saja reaksi darimu adalah harapan R. Dan tahukah Kamu apa siksaan paling pedih dari sakit gigi? Adalah harapan yang tak berbalas R. Dalam remang sudut paling jarang disinggahi, kulambai dirimu dengan perlahan R. Sekedar merayakan kenangan singkat tentang senyum yang sederhana.

Kukirim pesan singkat ini menjelang senja R, sesaat setelah hujan datang menerjang, dan mendung paling kelabu memayungi semua warna emas senja. Untuk bilang, Aku akan berjaga-jaga di sudut lengang dimana keramaian telah lama hilang. Untuk bilang, Aku berharap saat kamu lewat ada Aku disitu tapi tak Kamu tahu. Untuk bilang, bahwa kebebalan dari orang yang kasmaran adalah dedikasi. Untuk bilang, Aku akan menunggu sebuah jendela terbuka, yang itu entah kapan. Dan Mungkin jika Aku beruntung, kamu mau buka sedikiit kaca jendela agar bisa kulihat walau sekelebat. Wajah yang tak pernah Aku bosan bayangkan tersenyum. Bahkan pada hari paling gelap yang bisa ditawarkan mendung. Mungkin Aku hanya rindu, rindu yang terlalu.

2 komentar:

  1. whoever R is... menurutku tulisanmu tentang R selalu bagus, dhan. ini surat berikutnya yang kubaca. Ah, kalo bicara tentang R, ga berasa 'dhani-belagu-songong-si-mulut-dan-perut-besar'-nya ya...:p

    kamu tahu dhan? kalo kamu suka mendung. aku suka hujan. karena saat hujan aku merasa tidak sendirian. sesederhana itu.

    BalasHapus