Jumat, 28 Januari 2011

Tentang Jatuh Cinta :


Untuk R

R apakah kamu pernah jatuh cinta? Rasanya itu seperti tanah kering yang mengalami kemarau panjang, lalu tiba-tiba datang segerombolan awan gelap yang menjanjikan batalion air untuk merangsek ke bumi. Jatuh cinta adalah perjanjian damai antara perih dan kebahagian. Mungkin, tapi bukankah kita terlalu sering jatuh cinta, sehingga tanah yang dulunya kering kini menjadi becek dan serangkaian awan gelap hanya menjadi kutuk seru manusia yang membenci basah? Apakah kau merasakannya R?


Oh ya, apa kabar R? Apakah disana kau baik-baik? Dan apakah kau tersenyum hari ini? Dan bagaimana hari-harimu? Apakah kau isi dengan semangat menggebu untuk jadi yang terbaik? Apapun itu kuharap segala macam yang baik dan barokah menempel erat padamu. Semacam doa tapi bukan basa-basi, aku sudah terlalu banyak basa-basi sehingga seringkali aku susah membedakan mana yang tulus dan mana yang bulus. Tetapi jika kau tanyakan kabarku, ya seperti biasa, aku sedang berusaha mengembalikan semangat untuk skripsi. Kata itu sudah terlalu lama menindasku. Keparat yang tak lekang juga ingin kubuang.


Entahlah R, tiba-tiba aku ingin berbagi. Berbagi tentang bagaimana rasanya jatuh cinta serta segala sontoloyo-nya, segala tindakan kampungannya dan segala sikap kekanak-kanakannya. Ya selama jatuh cinta bukan dosa dan jatuh cinta tidak dilarang negara, boleh dong aku bercerita. Aku yakin sebenarnya kita semua adalah seorang pecinta, yang mungkin telah berpengalaman, sehingga terlalu sibuk melupakan kisah jatuh cinta lama untuk mulai segala sontoloyo baru dengan kisah jatuh cinta yang baru. Ya R, manusia cenderung gegar sejarah terhadap hal-hal yang membuat mereka bersedih.

Tentu kamu tahu dengan siapa aku jatuh cinta, karena kita mungkin sudah terlalu banyak berbagi tentang kisah-kisah, tentang cerita-cerita dan segala tetek bengek mengenai perasaan yang terlalu menye-menye untuk dibagi kepada dunia. Karena dunia, seperti yang kamu dan aku pahami. Adalah dunia yang memuja segala macam materalisme, yang mengecam rasa sentimentil, yang mengecam perasaan sendu tentang segala macam harmoni. Kamu tentu tahu, jika seorang pria berkisah tentang awan, musim semi dan hujan dengan cara indah. Maka tanpa ragu-ragu dunia dengan segala macam norma, konsensus dan taik kucingnya akan memberi stempel besar pemimpi lembek pada pria semacam itu. Dan kita sudah terlalu lama menyerah pada rasa keras hati dan melupakan cita rasa kelembutan.

Tapi seperti yang aku bilang tadi R, aku mau bercerita tentang jatuh cinta tentu saja. Bukan tentang langit sore Jember yang menjadi kelabu seperti kuas pelukis yang gagal menaati kehendak warna cerah. Bukan R, bukan itu. Aku mau bercerita tentang rasanya jatuh cinta pada kesekian kalinya dalam hidupku yang berantakan -mendekati kesia-siaan ini. Tentu kamu mau mendengar bukan? Karena seperti mendung R, kupikir kau cukup adil dalam menyikapi segala macam ceracau dan sikap sontoloyoku selama ini. Makanya hendak kubagi padamu saja perasaan ini R, karena mungkin temanku yang lain terlalu sibuk menaklukan dunia beserta segala hal-hal brengsek yang menyertainya.

R, seperti yang mungkin kau belum tahu. Ya karena aku mungkin belum bercerita. Aku sangat menyukai Soe Hok Gie, sangat menyukai keparat etnis tionghoa yang cerdas itu R. Tetapi bukan kepada dia aku jatuh cinta R, ya kuharap kamu tahu, tentu kamu tahu kepada siapa aku jatuh cinta. Tapi boleh dong aku sekedar melakukan semacam intermezzo terhadap suratku kepadamu. Nah tentang Gie, dia adalah prototipe pria romantis idaman yang hendak kutiru habis-habisan perilaku dan gayanya R. Bukan, jika kemudian kau pikir aku sedang mengalami semacam disorientasi jati diri kau salah besar R. Kau Salah. Salah besar.

Kepada Gie aku menemukan cara jatuh cinta yang tepat R, tentang bagaimana memperlakukan perasaan yang sedang tumbuh untuk dapat bertanggung jawab. Karena, seperti yang kamu tahu R, terkadang jatuh cinta adalah penistaan terhadap suatu kehormatan perempuan. Dan dalam banyak kasus, jatuh cinta adalah awal dari kehancuran cinta-cinta yang lainnya. Bukankah sudah banyak kau baca dalam kisah-kisah so called feminism literature, tentang seorang pria keparat menempatkan jatuh cinta seonggok lebih baik daripada nafsu. Nah untuk itu Raku mau berkisah tentang Gie. Tentang bagaimana Gie memperlakukan rasa jatuh cinta itu. Ya karena, sebagai manusia adalah naif menanyakan suatu hal yang tak pernah terjadi, tapi buatku meyakini hal yang telah dialami orang lain adalah sebuah pembelajaran.

Gie berucap ‘Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.’ Itulah resep Gie dalam menjaga perasaan jatuh cinta agar dapat adil dan tidak melukai R. Adalah dapat mencintai dengan iba hati dan merasai kedukaan. Adakah kita yang mungkin terlalu santun mengakui bahwa jatuh cinta adalah sikap tengik yang tidak bertanggung jawab? Bukan R, bukan bermaksud menggurui, karena jatuh cinta pada setiap manusia adalah kisah yang berbeda. Maksudku seringkali, jatuh cinta digunakan sebagai pledoi paling murahan yang membenarkan sikap konyol dan kampungan terhadap orang lain. Tentu kamu tahu, karena aku tidak jatuh cinta pada satu orang saja. Dan itulah sikap tengik yang tidak bertanggung jawab.

Siapalah manusia yang mampu mengalami jatuh cinta pada dua orang tanpa memiliki sikap berat sebelah? Atau adil dalam membagi rasa? Bukankah Rasul kita pun mengakui kefanaanya dengan memilih melabuhkan cinta yang terlalu pada salah satu istrinya? Ah R, kadang aku berpikir jatuh cinta adalah merayakan kepura-puraan yang seolah baik, tulus, bening dan suci. Padahal jatuh cinta tak lebih dari seonggok taik kucing dengan kemasan yang gegap gempita.

Jatuh cinta adalah perjuangan R, tentu kau tau, harus tahu. Karena dengan tahu manusia akan belajar untuk memahami. Mereka yang gagal memahami adalah mereka yang tidak tahu. Untuk itu aku menulis ini R. Karena seperti halnya layar kapal pinisi yang melaut, kita hanya perlu tahu kemana arah angin bergerak untuk dapat sampai ketujuan. Dan bukankah tujuan jatuh cinta adalah menunjukan rasa dan berharap mampu berbagi kebahagiaan dengan orang lain? Jatuh cinta bukan sekedar ijab sepakat kepemilikan yang mereka bilang pacaran. Bukan, bukan tentang itu. Hal ini jauh daripada itu R. Jatuh cinta adalah proses menuju kebijaksanaan, yang mungkin dilalui dengan terluka dan air mata.

Apalah arti seorang manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan, duka, airmata, kesedihan, dan penindasan dalam hidupnya? Kukira ia orang yang gagal, karena dictum homo homini lupus adalah vonis mati kehidupan. Segala macam kegagalan, duka, airmata, kesedihan, dan penindasan yang kubilang tadi karena ya, tentu saja, sering kali disebabkan oleh manusia lain R. Dan bukankah kisah manusia adalah kisah tentang kekalahan? Jatuh cinta pun tak luput dari skenario paling purba ini. Mungkin kemudian kau akan berpikir? ‘apa yang membuat kisah jatuh cintamu berbeda mas Dhani?’. Akan kujawab nanti R, tidak sekarang, karena jawaban itu hanya bisa muncul setelah jatuh cinta ini usai. Bukankah sikap adil seorang pengamat adalah saat penelitiannya usai? Dan kisah jatuh cinta ini belum menemukan endingnya R.

Aku hanya mau berbagi tentang proses Jatuh Cinta. Karena seringkali kita melupakan proses, dimana semua mata, telinga dan perhatian berpaku pada hasil. Tentu saja, manusia adalah manusia. Selamanya demikian. Hasil akhir adalah tolok ukur, dan peduli setan dengan proses. Karena proses hanya dinikmati, dialami dan dirasakan oleh si empunya hidup dan bukan orang lain. Termasuk jatuh cinta R. Bukankah jatuh cinta itu seringkali yang ditunggu adalah tentang ‘berhasilkah si fulan mendapatkan si nona?’ atau semacam ‘akhirnya si fulan berantakan setelah ditolak si nona’. Kukira hal ini karena sinetron dan film-film kitsch buatan Punjabi itu R. Karena siapapun yang menikmati sinetron tidak peduli pada proses akting, lakon, cerita atau bahkan estetika. Mereka hanya peduli ending cerita indah dari tokoh utama yang kerap kali disiksa tanpa logika. Mereka sekedar penonton.

Lalu dimana kedewasaan itu, Jika semua adalah tentang hasil akhir? Bukankah jatuh cinta adalah tentang menikmati perasaan. Tentang malu-malu yang lugu, tentang kesenangan sederhana, tentang meresapi hal-hal konyol, dan menautkan segala rindu pada bayang-bayang. Jatuh cinta itu personal R, entahlah mengapa kemudian kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta terlalu mengumbar perasaan dengan cara yang bodoh. Aku misalnya, adalah contoh orang bodoh itu. Harusnya aku paham, jatuh cinta ialah tentang kerahasiaan yang paling rahasia dari kesenyapan. Dengan pelan-pelan menikmati debar-debar jawaban atas perasaan yang meluber. Bukankah itu suatu hal yang indah R, jatuh cinta itu.

Perasaan itulah yang entah bagaimana caranya tiba-tiba tak patuh lagi pada kehendak otakku. Ia subversif, kurang ajar dan melawan dengan jalan klandestin. Perasaan jatuh cinta itu mengarak segala macam nalar dan logikaku keluar jalan. Menipunya lalu membenamkan segala macam rasa malu dalam-dalam ditengah belantara hutan yang angker dan jarang disinggahi. Jatuh cinta itu pun kurang ajar, bukankah ia seringkali menyaru pada rupa-rupa orang? Warna-warna tembok, jalanan becek berlubang, bau amis ikan, cucian kotor dan anak jalanan yang mengasong diperempatan jalan. Jatuh cinta itu yang membuatku seperti dikencingi mahluk fasis yang tidak mau tahu dengan orang lain. Jatuh cinta ini R, yang diam-diam merengut kesadaranku dan merobek pelan kendali diriku. Dalam jatuh cinta, aku kehilangan kendali diri.

Karena seperti halnya hidup, jatuh cinta adalah seringkali adalah proses kompromi diri terhadap keadaan baru. Didalamnya ada berbagai macam statuta yang berkelindan antara kepentingan satu dan yang lainnya. Bertubrukan begitu rupa dan melemahkan hal-hal yang lainnya. Itulah jatuh cinta R, itulah yang mungkin, jika boleh, kujadikan alasan untuk tidak memulai sebuah hubungan baru. Karena aku terlalu capek, bosan dan keras kepala untuk menerima yang liyan. Adakah jalan tengah untuk hal ini? Aku pikir tidak ada, tapi entahlah? Bukankah kisah hidup manusia tidak berakhir hanya pada proses jatuh cinta semata. Lebih dari itu, kisah hidup manusia seringkali berisi tentang pergolakan antara yang tebal dan yang tipis, yang wangi dan yang busuk, yang keras dan yang lembut, yang radikal dan konservatif. Mungkin semuanya berkisar tentang perbedaan-perbedaan yang berulang ulang.

Kamu masih menyimak R? Kuharap kau tidak tertidur di tengah surat, karena aku sendiri tahu, aku seringkali melantur pada hal-hal yang mungkin tidak penting. Seperti mendung kelabu yang menelan habis kepongahan warna. Seperti keharibaan mendung yang adil dalam kusam suasana. Segala macam desis umpatan kata kebun binatang pada mendung yang terlalu pekat. Segala macam remeh temeh tak penting yang membuat surat ini menjadi terlalu panjang dan dimengerti. Tapi kuharap kau mengerti R, karena aku yakin, kamu adalah salah seorang yang sedikit bisa memahami isi batok kepalaku yang tak lebih besar dari kacang kedelai.

Ah soal jatuh cinta itu, atau hampir semua jatuh cinta yang kualami R. Selalu berakhir dengan kekalahan, mungkin benar kata Chairil Anwar, ‘hidup hanya menunda kekalahan’. Tetapi mengapa kekalahanku selalu dalam jatuh cinta? Sempat kupikir demikian, tapi tak lama. Setiap orang punya kekalahannya masing-masing. Mustinya aku bersyukur karena kekalahanku adalah tentang jatuh cinta dan bukan yang lain. Sebab dalam sejarah hidupku yang tak begitu lama ini, aku melihat banyak sekali kekalahan yang lain. Mereka yang dikalahkan tuhan, mereka yang dikalahkan kedengkian, mereka yang dikalahkan dendam, mereka yang dikalahkan sekolah, mereka yang dikalahkan pemerintah, mereka yang dikalahkan kata-kata atau yang paling menggelikan mereka yang dikalahkan televisi. Sekali lagi Chairil benar, kupikir dalam kekalahan ‘ada yang tetap tidak terucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah’.

Saat aku menulis surat ini, langit sedang sibuk bergemuruh, sesekali angin mulai ribut menggoda langit untuk sekalian menurunkan hujan. Sementara diseberang rumah barisan tanaman padi bersikukuh untuk berbaris rapi menantikan hujan. Entahlah apa yang mereka pikirkan, tetapi jika Rasululah benar, mereka sedang bertasbih. Kepada yang Maha Esa atas segala kesempatan hidup. selintas dengan segera aku punya pertanyaan, ‘apakah jatuh cinta itu milik manusia saja?’ Bagaimana dengan Batu? Tanah? Langit? Awan? Hujan? Semut? Kodok? Ular? Dan sederet panjang tak terhingga benda mati dan hidup lainnya? Adakah mereka jatuh cinta? Mungkinkah mereka jatuh cinta pada sesamanya? Atau berlainan jenis? Mungkin saja langit jatuh cinta pada bulan, sementara bumi jatuh cinta pada matahari? Bukankah cocok, jika bumi tak jatuh cinta pada matahari, mengapa ia dengan tulus selama jutaan tahun begerak mengikuti poros yang ada? Lalu jika langit tak jatuh cinta pada bulan, mengapa ia membiarkan bulan bergantung mesra pada tiap malamnya?

Jika demikian, kupikir segala hal dijagat raya ini merupakan semacam pertunjukan atas jatuh cinta. Dan segalanya bukan tentang hasil, tetapi tentang proses dimana jatuh cinta tersebut menghasilkan harmoni. Sungguh, kupikir ini harus dikabarkan, pada dunia, pada semesta. Bahwa jatuh cinta bukan sekedar memiliki, tetapi tentang menunjukan perasaan, lalu jika beruntung kau bisa berbagi dengan orang yang kau cintai. Namun hidup bukan dongeng, dan kisah manusia seringkali adalah komedi satir yang jarang menuai tawa. Apakah aku sentimentil R? Atau aku mulai hiperbolis? Apapun itu tolong hentikan aku dengan segala cara, tampar mukaku, jambak rambutku atau gelitiki tubuhku agar aku bangun. Sungguh, seringkali hidup dalam mimpi buruk itu membutakan hati manusia. Dan aku tak mau kehilangan hatiku R.

Sementara langit, awan mendung dan petir bersepakat hujan. Otakku tak lepas dari jatuh cinta. Kamu tahu R? Diluar langit semakin muram, biru warna yang indah itu sudah hilang entah kemana, diganti serangkaian awan kelabu yang semakin tua, cerewet dan ringkih. Mungkin sebentar lagi hujan yang dijanjikan gelap akan datang. Apalah itu artinya jika aku sendiri tak tahu apa mauku? Tentang jatuh cinta itu mungkin seperti kehendak gelap awan yang membawa hujan. Mereka tidak pernah tahu kapan mereka akan menjauhkan air, seberapa lama dan bagaimana caranya. Jatuh cinta adalah mendung kelabu yang tidak tahu kapan akan berakhir menjadi pelangi atau malah berujung badai. Ah peduli setan pada ending, bukankah menunggu hasil yang tidak terjamin adalah sebuah kenikmatan?

Sudahlah, aku terlalu banyak meracau kali ini. Surat ini sudah terlalu banyak berisi kalimat-kalimat yang bermakna ganda, barangkali tidak penting. Kuharap kau maklum, bukankah jatuh cinta membuat orang jadi goblok? Dan kuharap kau mau membacanya juga, syukur kalo dibalas, tetapi bukan balasan yang kuharapkan. Tetapi sebuah sikap pengertian, bahwa menjadi orang yang jatuh cinta membutuhkan ruang tersendiri untuk egois dan keras kepala. Jatuh cinta membuat orang jadi berkepala batu. Seringkali malah membuat mereka buta lalu terluka. Perlahan aku mendengar, Rendra berbisik pelan ‘Semuanya akan beres. Pasti beres. Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya. Kesukaran selalu ada. Itulah namanya kehidupan’.

Tabik.

ADBH

1 komentar:

  1. yak ini skenarionya: membaca surat di layar kotak-sejuta-mimpi, afu!kok bener ya, mata berkaca-kaca, mulai membalas suratnya...*piye, wis Punjabi banget belom?

    well, jadi ini suratnya. surat pertama yang saya baca. kemaren saya baru baca Gymnastiar, dan saya suka bagian ini:
    "Memaafkan dan menerima keadaan manusia lain sebagai manusia yang bisa salah itu luar biasa sulit. Seperti melihat uang milyaran euro teronggok dijalanan, tanpa pengamanan dan kita terjebak pada dilema manusiawi. Mengambilnya atau menyerahkan kepada orang yang mungkin dianggap bertanggung jawab."

    Gie, Rendra, Chairil dan Dhani betul. Bieber, SM*SH, Endah N Rhessa, Coldplay, dan Beatles juga betul. Jatuh cinta itu kurang ajar. Sangat. Tapi saya tidak menampik bahwa jatuh cinta itu indah. Sangat. Ying dan Yang. Selalu ada dua dalam hidup ini. Dan itu proses, yang anehnya sangat saya nikmati, sampai detik ini.

    BalasHapus