Minggu, 30 Januari 2011

Mantra Lambe Lamis

Langit sore itu seperti habis berkelahi dengan hujan. Sisa-sisa awan mendung pekat gelap masih asik menggantung diujung cakrawala. Sinar matahari yang bersembunyi dibalik awan-awan itu semakin usang. Cahaya matahari yang sendu, yang resah, karena segala pesonanya habis ditelan awan gelap, awan mendung yang senantiasa berdiri paling depan saat hujan akan datang. Sementara sinar matahari sore, selalu saja muncul malu-malu, tekun dan tak berubah sejak awal waktu diciptakan.

Kota Bleketek masih saja gugup atas basah yang diberikan hujan sebelumnya. Masih banyak sisa genangan air disana sini. Diujung jalan menuju gedung DPR, di tengah jalan menuju pasar, di pinggir jalan menuju pabrik, pokokny disegala jalan yang hendak menuju suatu tempat pasti ada lubang air yang menggenang. Pemerataan pembolongan jalan sudah menampakan hasilnya. Dimana-mana di kota Bleketek jalan pasti ada yang bolong. Dan masyarakatnya asik-asik aja dengan kondisi ini.

Perlahan-lahan awan mendung yang tadinya pekat itu membubarkan diri. Mereka seperti sudah puas melaksanakan aksi pembasahan bumi. Sudah tuntas menyuarakan kebasahan di bumi. Sudah lega menuntaskan hajat mereka untuk memberikan tetes air kepada bumi. Lalu dengan damai tanpa ribut-ribut kumpulan awan pekat itu menghilang. Diganti bias sinar sore yang sepertinya sudah mulai pasang aksi. Sudah berani muncul sendiri, dengan garang melukis warna di atap-atap bumi. Senja telah tiba, senja emas yang membawa cahaya malas telah datang.

Sementara langit sedang sibuk menyambut datangnya senja, dibumi, dibawah mereka. Ada sebuah pertigaan yang paling ramai di kota Bleketek. Pertigaan paling prestisius yang ada di kota Bleketek. Karena hanya pertigaan itu, lubang air paling sedikit berada. Pertigaan kebanggaan kota Bleketek. Dipertigaan itu tampak seorang pemuda yang gendut, duduk, kepalanya mendongak menantang langit. Sendiri, ditengah buas ramai kota yang tak pernah ramah.

Sudah dua hari dua malam Mamadd tidak tidur barang semenit. Konon katanya ia sedang belajar ilmu kebatinan yang haibat betul. Ilmu yang konon bisa membuat orang-orang hanya bisa berkata-kata manis. Dari mana ceritanya Mamadd bisa memperoleh pengetahuan ilmu ini juga menjadi misteri. Konon dari salah satu surat kabar ternama ibu kotaSililit-sebanyak selulit”, Mamadd mendapatkan cerita Ilmu itu saat sedang mengembara di negeri Kutang. Mana yang benar orang-orang dikota Bleketek tidak ada yang tahu.

Mamadd duduk di bawah lampu merah pertigaan pasar dan gedung DPR yang terhormat. Sepanjang jalan sebelum lampu merah, orang berhenti beramai-ramai memandang Mamadd, ada pak tua diatas becak, ada bini muda pejabat dalam mobil Ferari, ada mahasiswa cabul diatas motor bahkan pengemis musiman berhenti barang sebentar untuk melihat kejaiban Mamadd.

“ngapain orang itu?” kata salah seorang oknum Ambtenaar yang bolos kerja.

“Mamadd dengan dua de pak” kata pedagang Aqua.

“Mamadd dengan dua de? Mamadd siapa?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“itu pak, Mamadd yang suka kencing berdiri di pinggir kali, aqua pak? ” kata pedagang Aqua .

“oh Mamadd yang suka makan di ke ef si itu?” Ambtenaar itu tanya lagi.

“iya pak dia, Tisu pak?” kata pedagang Aqua.

“kenapa dia?” Ambtenaar itu tanya terus.

“katanya kumat gilanya, rokok pak?” kata pedagang Aqua.

“wah Bahaya! Nanti aku ketularan gila! Gak dapat gaji ke 16! Cilakak! Harus cepat-cepat pergi dari sini!” kata Ambtenaar itu bergegas pergi menjauh.

“wooh Ambtenaar keree! Tanyak doang! Cupu lu” kata pedagang Aqua.

Ambtenaar itu pergi ngebut naek Ducati Multistrada full custom dengan kecepatan yang wus wus wus nyaris tiada henti, hampir menabrak bakul rujak, tapi dengan sigap berhasil menghindar. Saat Ambtenaar itu pergi, orang-orang yang lain berdatangan, semakin ramai mendekat. Malah ada ibu-ibu yang membuka warung dadakan, fans dadakan, guide dadakan, ojek dadakan, copet dadakan, dan penggalangan koin peduli Mamadd dadakan. Pokoknya pertigaan itu ramai sekali. Kota Bleketek jadi ramai, ramai pertunjukan.

Tapi Mamadd tetap cuek, tetap sontoloyo, tetap cool abies. Mamadd masih duduk sendiri dengan mulut mangap dan kepala mengadah ke atas langit. Tangannya terlipat didada, matanya tertutup, mukanya kumuh, pakaiannya compang-camping, badannya bau. Pokoknya Mamadd sudah sah seperti para penganut ilmu hitam di film-film sinetron indosiar jaman dulu. Mamadd sepertinya tidak peduli dia tetap saja melanjutkan diamnya. Seolah-olah dipertigaan itu hanya ada dirinya sendiri dan segala ramai riuh orang-orang itu tidak ada. Mamadd mengamini kesunyian yang gaib.

Seorang gadis datang tergopoh-gopoh, ia datang dengan pria berseragam. Menunjuk-nunjuk tubuh Mamadd. Orang-orang diminta minggir oleh orang berseragam itu, minta diberi jalan. Tapi pertigaan itu sudah terlalu ramai, sudah terlali sesak, sudah terlalu banyak orang-orang. Mungkin ada puluhan ribu, ratusan ribu entahlah. Awalnya mereka hanya datang untuk melihat Mamadd. Tetapi karena disekitar pertigaan jalan itu muncul warung-warung dadakan. Orang jadi lupa pulang, mereka semua nongkrong menunggu aksi Mamadd selanjutnya.

“heh minggir! Petugas mau lewat” kata pria berseragam itu.

“dih enak aja! Antri dong emang ente pikir ane kagak ngantri pengen liat”

“saya ini petugas, kamu mau ditindak karena menghalangi tugas petugas yang sedang bertugas?” kata pria berseragam itu.

“emang ente pikir ane siapa? Saya ini pengantri yang sedang mengantri dalam antrian! Jangan maen-maen! Mentang-mentang petugas ente bisa seenaknya?” kata orang itu.

Gadis yang tadi ada dibelakang petugas itu kemudian maju. “maaf pak, saya ini pacar orang itu, orang yang sedang ngelmu itu”. Awalnya orang yang berdebat dengan petugas berseragam itu tidak peduli, tetapi orang-orang didepan antrean berteriak teriak. Membenarkan perihal hubungan si gadis dengan Mamadd.

“oi! Itu R! pacarnya si Mamadd” kata orang dikejauhan.

“R? lha R yang katanya ninggalin Mamadd pergi ke planet Mars itu?” jawab orang dibelakang.

“iya itu!, kasih jalan! Kasih jalan!” kata orang dikejauhan.

Akhirnya R dan pria berseragam melalui jalan sempit di sekitar orang-orang itu. Jalanan yang dipenuhi oleh ratusan ribu orang. Yang panjang melingkar seperti antrean tiket sepak bola. R dan pria berseragam terus melaju melalui jalan sempit itu. Setelah tiga jam yang melelahkan R akhirnya sampai di tempat Mamadd. R heran mengapa sampai selama itu untuk berjalan melalui jalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi bukankah di kota itu kemacetan adalah hal biasa, apalagi didekat pertigaan. Kota selalu punya apologi terhadap kemacetan.

Setibanya di dekat Mamadd, R terkejut bukan kepalang. Mulut Mamadd jadi sangat lebar, penuh dengan air, mungkin air hujan yang datang terus-menerus dua hari terakhir. Didalam mulut Mamadd bahkan ada jentik-jentik nyamuk, telur kecoak dan alahmak sandal bekas. Mungkin ada orang iseng yang melempar sandal kemulut Mamadd. Tapi bukan hanya itu yang membuat R terkejut, muka Mamadd menjadi terang bersinar meski kotor dan kusam, rambutnya putih gondrong, janggutnya lebat memutih, padahal Mamadd baru dua hari di pertigaan itu.

“Mad, Mamadd bangunlah sayang, ini aku R, bangunlah sayang” kata R seraya membersihkan muka Mamadd dengan tisu basah.

“hei sodara, dengar kata nona ini, sodara harus bangun, sodara telah melanggar ketertiban umum, sudah mengganggu stabilitas negara, sudah merusak tatanan umum” kata pria berseragam itu.

“Mamadd sayang ayolah bangun, lihatlah, ini aku gadismu, aku tak akan pergi ke Mars, aku akan berada disampingmu, tidak akan meninggalkanmu” kata R mengiba. Matanya yang indah mulai basah. Dengan sekuat tenaga ia berusaha nampak tegar, tapi sekuat-kuatnya ia menahan, toh ia terlihat sangat khawatir.

“heh Sodara! Ayo bangun berhenti bercanda, yang anda lakukan ini adalah pelanggaran hukum berat. Semacam penistaan konstitusi” kata pria berseragam itu.

“apanya yang melanggar pak?” kata seorang penonton dibelakang.

“ya ini, mengganggu kenyamanan publik, meresahkan warga masyarakat, menggunakan fasilitas umum, membuat macet dan sebagainya dan sebagainya” sahut pria berseragam itu mantab.

“ah bapak lebih mengganggu, lebih meresahkan, seenaknya aja maen peluit suit suit” jawab sebuah suara.

“heh siapa itu? Hayoh maju! Ini pencemaran nama baik petugas! Biar jelek-jelek gini saya gak punya rekening gendut! Saya gak bisa disuap untuk jalan-jalan ke akherat! Saya ini petugas bersih! Jangan maen slonong boy gitu kalok bicara. Sontoloyo!” teriak pria berseragam itu.

Syahdan bahkan R dan petugas berseragam itu pun tidak mampu membuat Mamadd bangun dan berhenti bertapa. Waktu berjalan dengan cepat, kerumunan yang tadinya ratusan ribu itu berubah jadi jutaan orang, yang awalnya hanya dua hari berlalu sekarang sudah menjadi tiga tahun, Mamadd dengan tabah berlaku tapa selama itu tanpa makan dan minum. Kelakuan Mamadd menjadi berita umum diseluruh dunia. Mengalahkan insureksi yang terjadi di Tunisia, revolusi di Mesir, Banjir bandang di Australia, terpilihnya kembali Nurdin Halid, bahkan mengalahkan berita konser Justien Bieber di negara itu. Pokoknya Mamadd jadi semacam pemberitaan yang mahadaya. Luarbiasa.

Tepat setelah tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit berlalu sejak Mamadd melakukan tapa brata itu. Mamadd akhirnya membuka mata, menundukan kepala, membuang isi mulutnya yang kini bertambah banyak. Ada sandal bekas, tiket sepak bola, celana dalam, botol aqua, majalah bekas dan masih banyak yang lainnya. Mulut yang lebarnya seluas lapangan kasti itu, perlahan-lahan mengecil, dan kembali keukuran semula.

Para penonton yang berjuta-juta itu ramai sendiri, riuh dengan pertanyaan yang terpendam, penasaran dengan Mamadd. Dalam riuh keramaian yang seperti dengung suara lebah itu. Ukuran mulut Mamadd kembali menjadi normal, ia berdiri tegak, membersihkan tubuhnya yang penuh sarang laba-laba, bekas kencing, grafitti dan selebaran sedot WC. Melihat itu semua, para wartawan lokal dan interlokal semua merangsek maju dan berusaha berbicara dengan Mamadd. Termasuk juga R dan petugas berseragam yang sudah menunggu selama tiga hari, tiga bulan, tiga jam dan tiga puluh menit sejak Mamadd melakukan tapa brata itu.

“sabar sodara-sodara sekalian” ujar Mamadd kalem. “biarkan saya minum dulu dan bicara sama saya punya pacar”.

“halo sayang, apa kabar? Katanya mau ke Mars? Gak jadi?” kata Mamadd bertanya.

“jadi-jadi gundulmu! Gak lihat apa aku khawatir! Huuu uuu uu” jawab R sambil menangis.

“lho kok gitu, kan kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu ingin kesana” kata Mamadd. “bukankah kamu sendir yang bilang, aku ini goblok, tengik, keparat, jancuk, asu dan sebagainya dan sebagainya”

“ya itu kan dulu, kan aku gak nyadar kalo ngomong gitu sama kamu huuu uuu uu “ jawab R.

“nah itulah, bukankah kata-kata seringkali meluncur tanpa kendali?” jawab Mamadd. “ yang seringkali tidak disadari menyakiti orang lain”.

“untuk itulah sodara-sodara sekalian” lanjut Mamadd dengan bergaya “melakukan tapa mantra lambe lamis ini

“what is tapa mantra lambe lamis mister Mamadd?” tanya seorang wartawan asing.

“ you know lah, tapa mantra lambe lamis, is somekind of laku sepi ing pamrih untuk getting some wisdom dalam keadaan tiada bicara and yet open his cangkem” kata Mamadd.

“untuk apa?” tanya wartawan yang lainnya.

“seringkali kita, atau saya, atau anda, atau siapapun yang kebetulan punya mulut. Terlalu banyak bicara, terlalu banyak bersuara, terlalu banyak ngomong, terlalu banyak berdebat, terlalu banyak mengumpat, terlalu banyak bergunjing, terlalu banyak berencana dan terlau banyak dan sebagainya dan sebagainya” Mamadd diam sebentar, menggaruk pantat dengan tangan, lalu mencium tangan yang menggaruknya tadi.

“bau, and yet, kita seringkali lupa untuk mendengar! Dan yang paling penting! Kita seringkali lupa untuk berkata baik! Berkata benar! Berkata jujur! Berkata Tulus! Berkata Sederhana! Berkata lurus! Berkata jelas! Dan sebagainya dan sebagainya!” jawab Mamadd.

“dan untuk itu tapa mantra lambe lamis, dilakukan untuk memberikan semacam pengetahuan, semacam kedigdayaan, semacam pencerahan dan semacam macam lainnya” kata Mamadd semakin pelan.

“minta aer, saya haus” ujar Mamadd lalu lanjut. “tapa mantra lambe lamis akan membuat pemiliknya hanya berkata yang benar, hanya berkata jujur, hanya berkata santun, hanya berkata tulus, hanya berkata sopan, hanya berkata lurus, hanya berkata kebenaran, dan hanya berkata kesederhanaan!”

“it is posible mister Mamadd?” kata seorang wartawan.

Sure! In your dream” kata Mamadd lalu pergi minggat.

Meninggalkan penonton yang berjuta-juta itu kebingungan di pertigaan paling ramai di kota Bleketek.

Bondowoso, 30 Januari 2011.

2 komentar:

  1. ngapain ya si R pengen ke Mars..?
    di Bumi lho dah enak banget gini :D

    BalasHapus
  2. kan dibumi segala ingatan lama hilang? :D

    BalasHapus