Kamis, 13 Januari 2011

Untuk Jim


Untuk : James Augustine Aloysius Joyce

Di Fluntern Cemetery, Zűrich, Swedia


Hai Jim, apa kabar? Aku berharap kau baik-baik saja dan kukira kini kau sudah senang kan? Berkumpul dengan Nora, kedua anakmu dan tentu saja Stephen cucumu yang keras kepala itu. Tentu saja kau bahagia, segala pencapaianmu yang luar biasa itu hanya sedikit dari kecintaanmu pada keluargamu kan? Jim, Aku ingin sekali bertukar kabar padamu, tapi tentu saja, itu sulit. Kita sama-sama sibuk dalam dunia kita masing-masing, seringkali malah kita berlagak lupa tentang keberadaan kita. Sampai pada akhirnya kepura-puraan itu menjadi kenyataan dan kita benar-benar lupa. Tetapi bukankah itu semua wajar kan Jim?

Aku baru saja menyelesaikan Dubliners Jim, sungguh buatku itu cerita yang konyol. Bukan, bukan maksudku mengejek, kau tentu saja seperti banyak diakui orang lain di dunia adalah seorang jenius. Konyol maksudku adalah, bagaimana mungkin kau menceritakan suatu kota, yang bahkan kau sendiri tidak berada dikota itu saat menulisnya. Malah kau menulisnya dengan sangat baik, lebih baik daripada Bono mengkampanyekan perdamaian dunia. Kau tentu kenal Bono kan Jim? Rocker gaek yang suka pakai kaca mata itu? Jika belum, nanti akan aku kenalkan, kau harus mendengarkan lagunya Jim. Setidaknya lagu-lagu Bono selangkah lebih dekat dengan Tuhan, meski sampai akhir hayat kau menolak mendekati segala hal yang berbau imanen kan Jim?

Jim yang baik, ingatkah kau pada Irlandia? Tanah yang kau cintai dengan cara yang tersembunyi, bahkan jauh tersembunyi sehingga Nora pun merasa kau membenci Irlandia. Tahukah kau? Jika Irlandia kini memiliki pemain sepak bola hebat, ya aku tak tahu kau suka bola atau tidak. Yang jelas, aku Suka Manchester United Jim. Kamu harus suka, cobalah untuk suka. Daripada kau sepertinya hanya diam dalam kebisuan. Kau mencintai Irlandia kan Jim? Hayo ngaku saja, aku tahu Jim. Kamu begitu mencintai negaramu dengan sangat lihai. Jika tidak kau cintai, kau tak mungkin membuat Dubliners, Potrait dan Ulysses dengan latar belakang Irlandia kan Jim? Hayo kau sudah ketauan Jim tak usah mengelak lagi.

Ya biarlah jika kau tak mau mengaku, kau terlalu keras kepala, sangat keras kepala. Tapi sudahlah Jim toh semua orang punya hal yang ingin disimpan sendiri tanpa orang lain yang tahu. Hei Jim apakah kau tahu jika dunia sudah mengingatmu, mengenangmu, menceritakanmu, menafsirkanmu dan menjadikanmu sebuah patron? Santo sastra, ya sekali lagi mungkin kau tidak tahu. Kau tertalu acuh pada hal-hal yang tak kau mengerti. Lagi pula kau hanya ingin menulis ya tho Jim?

Kemarin seorang kawan bertanya tentang apa arti tanggal 13 Januari buatku, sebenarnya kawan itu ingin mengingatkan bahwa tanggal itu aku harus bayar SPP lagi. SPP dari kuliahku yang tak kunjung selesai, Ia menyindirku. Tapi dengan mantab Kubilang bahwa tiap tanggal 13 Januari adalah hari dimana Aku berkirim surat denganmu Jim. Ya meski Aku tahu, kamu tidak akan membalas surat-suratku. Tapi tak apalah, toh kita selalu berusaha meski seringkali hasilnya tidak terduga.

Kawanku itu lanjut bertanya, memang ada apa tanggal 13 Januari. Ya Kujawab, kalo itu adalah hari dimana kau istirahat dari Jagad Pramuditha untuk selamanya. Kawanku rupanya masih penasaran. Memang siapa Kau itu, sampai tiap 13 Januari musti Kukenang. Kubilang Kau itu adalah penulis, ealah dia malah ketawa “penulis kok pakek di inget-inget”. Ya rasanya pengen sekali menyumpal mulut kawanku itu dengan sandal, tapi kok ya kasihan. Toh bukan salah dia juga kalau tidak mengenal dan menghargaimu.

Dengan perlahan kujelaskan bahwa kau itu orang hebat. Ya namanya manusia, berbeda-beda. Apa yang Aku anggap hebat ya belum tentu hebat untuk orang lain. Contohnya ya kawanku ini, standar hebatnya adalah punya motor terbaru dengan modifan paling kinclong, jago disko di kelab malam, atau lulus kuliah lantas jadi PNS. Ya biarlah Jim, orang kan bebas berpendapat. Seperti yang kau gambarkan lewat Stephen Dedalus dan Leopold Bloom yang saling bertolak belakang itu kan Jim. Seolah-olah kau hendak berkata ‘tidak ada orang yang benar-benar bersih dan tidak ada orang yang benar-benar kotor’.

Kawanku itu rupanya penasaran denganmu Jim, penasaran bagaimana Kau itu bisa mempengaruhi dunia dan Kujelaskan pula bahwa seorang manusia itu selain dikenang hidupnya juga dikenang Karyanya. Jika kamu tak bisa membuat sejarah, maka catatlah namamu dalam sejarah. Kubilang begitu pada kawanku itu Jim. Pusing sekali katanya Jim, omonganku mungkin terlalu bertele-tele dan berawang-awang. Entahlah padahal Aku bicara dengan sederhana. Kawanku itu mendesak lagi Jim. ‘ceritakan padaku tentang Joyce’ katanya. Aku jadi bingung, mau memulai darimana. Karena banyak buku yang membahas tentangmu tiap tahun terbit, ratusan skripsi atau karya ilmiah sampai sekarang, masih tak habis menjelaskanmu Jim. Lalu apalah aku ini jika dipaksa bercerita tentangmu?

Sedikit berkilah Aku bercerita tentang Homerus sang penyair The Odyssey dan The Illiad. Kuceritakan padanya tentang puisi epik panjang karya penyair buta dari Yunani itu. Karena Aku tahu Jim, kawanku yang bebal ini tergila-gila pada kisah Troy yang dimainkan oleh Brad Pitt. Ya meski Aku curiga Kawanku itu tak suka cerita Troy, tapi suka pada perut bidang Brad Pitt tapi sudahlah. Nah kubilang pada Kawanku itu tentang Odessey si cerdik yang berhasil merayu Achilles untuk perang dibawah pasukan Agamenmon. Nah tokoh cerita epik inilah yang kemudian menjadi bahan dasarmu untuk membikin Ulysses, mahakaryamu itu. Ya memang agak mbulet dan ribet, tapi terkadang susah sekali menjelaskan hal sederhana pada orang bebal.

Awalnya Kawanku itu manggut-manggut Jim, saat kutanya apa dia ngerti, ealah malah nyengir dan geleng kepala. Tiwas kataku dalam hati, manusia seringkali terlalu sombong dalam kebebalannya. Padahal ketidaktahuan adalah awal dari usaha terhadap pemahaman. Kawanku inilah contohnya, prototipe manusia dari bangsaku Jim. Manusia yang memuja citra, pecinta budaya massa dan bebal terhadap literasi. Bangsa yang seringkali lupa untuk belajar, membaca dan merenungi hidup lewat pengetahuan. Wong bagaimana mau membaca, sekolah aja maen-maen.

Dengan perlahan dan hati-hati kujelaskan pada Kawanku itu tentangmu Jim. Tentang James Joyce, pengarang hebat yang telah membuat banyak karya. Mulai dari Dubliners, A Potrait of The Artis as A Young Man, Exiles, Finegans Wake dan tentu saja Ulysses. Kubilang padanya Dubliners adalah sebuah kumpulan cerpen tentang kehidupan dan perilaku orang-orang di Dublin Irlandia. A Potrait of The Artis as A Young sendiri adalah kisah perjalanan Stephen Dedalus di Dublin juga. Dan mahakaryamu Ulysses, tentang petualangan Leopold Bloom yang menelusuri kota Dublin yang dibagi menjadi 18 bab, mirip dengan Odessey milik Homer.

Kawanku itu lantas bertanya, apa menariknya? Maka kujelaskan lagi bahwa, karyamu Ulysses memperkenalkan sebuah teknik menulis yang boleh dibilang jarang pada jaman itu. Stream of Consiussness, arus kesadaran, dimana secara menyeluruh tehnik ini mengaburkan deskripsi antara narasi, pemikiran tokoh, kesan sesaat, sensasi, dan alur cerita. Kira-kira begitu, toh aku yakin dia gak bakal paham. Kubilang metode ini kau Gunakan pada karakter Molly Bloom, istrinya Leopold, yang pada 40 halaman Ulysses meracau tentang kenikmatan senggama, pemikirannya, deskripsi fungsi kelamin dan sensasi yang ia rasakan.

Setelah kujelaskan panjang lebar Kawanku itu kemudian berdiri dan berlalu. Ia berucap ”ealah tak pikir sopo, gak penting blas, mending delo’ Uya Kuya, lucu”. Anjing, orang udah capek-capek jelasin, malah gitu komentarnya. Tapi ya sudahlah Jim, sekali lagi kubilang. Bahwa semua orang berhak memilih siapa idolanya, berhak memilih jalan hidupnya dan juga berhak menjadi siapapun yang ia kehendaki.

Mungkin Aku pribadi mesti berterima kasih pada Sylvia Beach pemilik Shakespeare and Co. Jika ia tidak iseng menawarkan diri untuk mencetak Ulysses, Aku tidak akan mengenal kau Jim. Dan dunia tidak perlu pusing memecahkan apa maksud dan teka-teki yang ada dalam Ulysses. Aku sendiri sedang menunggu Ulysses untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena sedikit sekali karya sastra bermutu yang diterjemahkan dalam bahasa kami. Tidak seperti Jepang yang setiap ada buku baru. Dalam waktu sebulan pasti ada terjemahan dalam bahasa Jepang. Ya gini nasib jadi warga negara dunia ketiga.

Maaf ya Jim, seperti yang kau tahu. Negaraku, ya negara yang banyak konter pulsa dan pedagang baksonya ini adalah negara sederhana di asia tenggara. Wuits jangan asal mengira, negaraku ini kemarin dinobatkan sebagai negara maju, bukan negara berkembang lagi. Dan tentu Kau tau Borneo kan? Itu loh pulau yang kau sebut dalam Ulysses “This sister of the wild man of Borneo has just come to town”. Nah Borneo itu adanya di Indonesia. Yap Indonesia, negeri yang pernah disinggahi Neruda dan dijajah oleh Daendlles.

Sebenarnya Aku malu mau bercerita tentang Negeriku Jim, bukan, bukan karena rakyat kami yang suka menebas leher saudaranya atas nama agama, atau sepak bola kami yang luluh lantak karena megalomaniak pemimpinya, atau karena kami memiliki badan lesgislatif setingkat dibawah septic tank. Bukan Jim, bukan karena itu semua, tapi lebih karena, kau jangan tertawa yah, ya karena bangsaku tidak suka membaca dan buku itu barang yang tidak lebih penting daripada gincu. Di negaraku, khusunya para kaum mudanya, beriman pada satu pemikiran. Boleh goblok asal Gaul. Ya silahkan tertawa, silahkan. Aku tahu selepas kau membaca ini Kau pasti akan tertawa terkencing-kencing.

Negaraku bukan Irlandia Jim, bukan pula Swiss. Disini seorang penulis, betapa pun hebatnya dia tidak akan pernah dihargai apalagi diabadikan dalam mata uang. Jangankan mata uang, perangko pun aku ragu. Ya memang penulis di Negeri kami tidak ada yang pernah mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Tidak seperti Irlandia yang memiliki William Butler Yeats atau Samuel Beckett atau Seamus Heaney. Tidak kami tidak memiliki peraih Nobel, tapi kami punya Pramoedya Ananta Toer, kami punya W.S Rendra, kami punya Chairil Anwar, Kami punya Romo Mangun, Kami punya Umar Kayam, dan kami punya sederet nama-nama penulis lain yang aku yakin bisa meraih Nobel. Ya memang gak dalam setahun dua tahun lagi, tapi nanti pasti dapatlah. Kalau sudah ada yang dapat, Kau akan Kukabari Jim

Biar kukisahkan kau sedikit tentang Pramoedya Ananta Toer. Dia itu sepertimu Jim, keras kepala, mencintai istri dengan sepenuh hati dan Ia humanis. Jika kau bisa bikin Dubliners, Pramoedya bisa bikin Cerita dari Blora, jika kau bikin a potrait of The Artist as a Young Man, Pramoedya bisa bikin Bukan Pasar Malam dan jika kau mampu membikin Ulyssys maka Pramoedya bisa bikin Tetralogi Pulau Buru. Haha! Jangan kau pikir bangsa kami yang udik ini tak bisa bikin karya sastra ya, sori-sori Jim jangan salah! Nanti liat saja, kau pasti akan liat karya dari bangsa kami. Karya orisinil yang bebas dari pertentangan kelompok. Mungkin tidak sekarang tapi entah nanti.

Ya sudahlah Jim, segini dulu Surat yang hendak kukirim padamu. Aku mau lanjut bikin skripsi, eits maaf ya. Aku gak mau dengar kuliahmu tentang pendidikan, kamu aja gak lulus kuliah mau ngajari aku yang mahasiswa ini, catat MAHASISWA, bergengsi, intelektuil dan agent of change. Ya meski belum bisa bikin karya semacam Ulysses, setidaknya Aku mau lulus kuliah dan punya gelar sarjana. Haha! Iri kan? Makanya dulu kuliah yang bener, jangan suka Mabok! Baiklah Jim, Aku pamit, salam untuk Nora dan keluargamu yang lain. Tabik.

N.B “I’ve put on so many enigmas and puzzle that it will keep the professors busy for centuries arguing over what I meant, and that’s the only way of insuring one’s immortality.

Pengantarmu dalam Ulysses ini asu sekali Jim.

Salam koprol, A.D.B.H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar