Sabtu, 22 Januari 2011

Dengki

Soal dengki, Rasullulah Muhammad SAW punya gambaran paling pas soal perasaan saya saat ini. Seperti bara api yang perlahan membakar habis amalanmu. Saya sedang sangat dengki, iri dan marah pada teman saya yang dalam waktu dekat hendak berangkat ke Jerman. Sebelumnya saya juga sudah menyimpan dengki dan iri karena cecunguk ini diam-diam sudah membuat 3 buku dan merekam 2 lagu yang kick ass. Atawa dalam kata sederhana, kreatif tanpa banyak bicara.

Berbeda dengan saya yang punya banyak sekali rencana, mimpi, cita-cita dan omongan. Banyak bicara dan nihil pencapaian. Atawa dalam bahasa sederhana, tong kosong nyaring bunyinya.

Soal dengki itu rasanya seperti perasaan diremas-remas, perlahan, dengan menggunakan kawat berduri pada bagian tubuh yang luka. Perih mengiris-iris. Tapi itu dalam perspektif kebanyakan. Buat saya dengki itu bahan bakar, soal pencapaian yang tidak perlu dipusingkan dengan melankolia. Semacam isyarat, lakukan yang lebih baik, lebih keras dan lebih tekun.

Seperti hidup, kita selalu naik turun, kadang beruntung, sangat beruntung lalu kemudian kembali sekedar untung. Disisi lain ada yang bekerja keras mengalami kesialan, sangat sial lalu jadi sialan. Hidup kok, sudah ada nasibnya masing masing. Tidak ada rezeki yang tertukar. Semua akan memanen buah kerja masing masing. Ya mungkin ini adalah kesempatan si cunguk ini untuk menikmati hasil kerja kerasnya.

Tapi kok rasanya sakit ya, tapi kok juga senang, tapi kok iri ya, tapi kok juga bangga, tapi kok dengki ya, tapi kok juga kagum. Semuanya jadi satu dalam liang lahat perasaan bernama hati. Konyol memang, tapi apa yang lebih tidak konyol dari perasaan culas yang senang melihat orang lain menderita? Untungnya rem saya soal perasaan itu masih pakem. Biar kata cunguk ini membuat saya iri, saya tidak berencana meracunnya dengan obat kuat. Tidak, pikiran saya masih cukup waras, cukup sehat dan cukup tau diri.

Saya benci orang ini, cunguk ini, semacam duri dalam daging, semacam ambeyen dalam di pantat, semacam upil dalam hidung, semacam jerawat dimuka, semacam Nurdin Halid di PSSI. Tapi mungkin Cuma orang ini yang bisa membuat saya bekerja sangat keras dalam menulis, mengajarkan saya soal dedikasi, soal orisinalitas, soal jadi diri sendiri, soal phone seks, soal jujur pada sekitar dan yang paling penting soal jadi kawan yang baik. Ya keparat ini memang istimewa, se istimewa martabak dengan telor onta. Salah satu dari beberapa sahabat yang mengubah hidup saya.

Saya pernah melihat dia dihantam jatuh keadaan, dihantam jatuh kehilangan dan dihantam jatuh kematian. Semacam nasib sial yang datang tiba-tiba. Tapi dasar memang cecunguk yang kepalanya batu. Dia menghadapinya dengan santai, dengan senyum, dengan guyonan dan tentu saja optimisme kelas wahid. Ya serupa dengan yang diperlihatkan oleh Canddce nya Voltaire. Biar kata hidup semuram malam, setidaknya hitam itu warna yang paling terang dikegelapan. Optimis.

Ah saya selalu yakin, dibalik kehilangan dan kesedihan yang teramat sangat, dibalik melodrama paling melankolis, dibalik histeria paling sinis. Akan selalu ada kehidupan yang lebih baik. Yang lebih terang. Yang lebih indah. Yang lebih asoy. Dan tentu saja yang lebih bahagia. Hidup itu siklus dan kebetulan Tuhan tidak pernah tidur. Tinggal bagaimana mengembangkan diri saja. Ini bukan fatalis, semacam rumus kehidupan yang standar disediakan motivator-motivator.

Ah Jerman, tempat kehaliran filsafat idealis, Jerman adalah Marx, Jerman adalah Kant, Jerman adalah Hegel, Jerman adalah Marcuse, Jerman adalah Nietzche, Jerman adalah Adorno, Jerman adalah Mazhab Frankfurt, Jerman adalah Goethe, Jerman adalah Heidegger, Jerman adalah Ballack, Jerman adalah Bavaria dan Jerman adalah Hitler. Selalu seksi, selalu bahenol, selalu intelektuil dan akan selalu fasis.

Saya masih dengki, masih iri, masih pengen, tapi sudah tidak separah tadi. Sudah sedikit lebih baik. Sudah sedikit lebih tenang. What a friend need is a friend indeed. Taik kucing! Saya pengen ke Jerman! Tidak sekarang, nanti akan ada jalan lain. Anggap saja cunguk ini bersihin jalan buat saya, anggap saja cunguk ini buka jalan buat saya, anggap saja cunguk ini mempersiapkan keberangkatan saya. Entah kapan, mungkin dalam beberapa tahun kedepan. Who knows?

Alahmak, rasanya itu loh. Masih melekat, masih pekat, masih tertinggal, masih diam. Seperti kentut maunya hinggap tak mau hilang. Aih dengki-dengki, kemana kamu harus saya buang? Ke kolong jembatan? Dibawah kasur? Kakus? Atau balai-balai? Cepat pergi, ini sudah malam, saya mau tidur. Kalau kamu masih tinggal dada saya sesak, dan sepertinya akan sangat menyakitkan untuk dibawa mimpi.

Sekarang yang musti saya lakukan adalah menulis lebih baik, membaca lebih tekun dan berusaha lebih keras. Tidak, jangan mabok. Tidak perlulah itu, buat apa? Menjadi busuk karena kesuksesan orang lain? Bah memang saya Nurdin Halid? Sori sori jek saya lebih baik dari itu, dari Nurdin Halid maksudnya. Saya harus jadi lebih baik, lebih dari yang telah ada sekarang. Sesederhana itu dan tidak perlu menjadi culas karenanya. Karena nasib adalah kesunyian masing-masing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar