Sabtu, 22 Januari 2011

Sebuah Bangsa yang (mungkin) Gegar Sejarah *


To declare independence was a relatively easy task; to give substance to that proclamation was far harder (Colin Brown)

Sekitar tigabelas tahun lalu, ada rasa takut setiap kali saya menyambut tanggal 30 September tiba. Rasa takut yang ternyata bukan saya saja yang merasakan. Kengerian yang selalu diputar setiap dunia dalam berita pukul sembilan berakhir di TVRI. Kengerian itu adalah film “G 30 S PKI”, sebuah film sem - dokumenter yang bercerita tentang kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI). Yang konon dikisahkan melakukan coup d’état terhadap pemerintahan Soekarno.


Sejarah selalu milik penguasa, mereka bilang demikian, saya tidak tahu mana yang benar. Sejarah yang ada pada zaman saya SD selalu stagnan, repetitif dan seragam. Semua akan dimulai dengan sejarah kebangkitan bangsa, mulai dari zaman kerajaan-kerajaan macam Sriwijaya, Majapahit, Kediri, Singosari lalu zaman penjajahan, lanjut pada era Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda dan berhenti pada peristiwa G 30 S. kira-kira secara garis besar semacam itulah.


Sejarah Indonesia mencatat ada beberapa kali pemberontakan yang dilakukan oleh PKI yaitu pada tahun 1926-1927 dan 1965. Soal tujuan pemberontakan itu pun, pada saat saya masih SD selalu sama. Merongrong kedaulatan Republik Indonesia (waktu itu belum tahu apa itu NKRI). Selepas saya SD saya masuk SMP, kira-kira sejarah yang sama mengalami pengulangan, bedanya ditambahkan pelajaran tentang masa prasejarah manusia purba dan kerajaan-kerajaan dibagi periodesasinya berdasarkan masuknya agama.


Saya tidak menikmati pelajaran sejarah karena membosankan, guru-guru sejarah saya adalah tipikal ambtenaar teladan orde baru. Kaku, fasis dan menolak kritik. Beberapa pertanyaan seringkali hanya dijawab, “sudah baca bukunya?” Atau “Jawabannya ada dalam buku itu!”. Jadilah saya manusia Indonesia ideal ala orde baru. Bebal dan gegar sejarah. Sesederhana itu, padahal jelas dalam suatu pledoi Bung Karno yang terhormat pernah berkata “JASMERAH”. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, ya seperti kebanyakan dari kita. Slogan hanya akan menjadi slogan, apalagi tentang sejarah.


Masuk SMA perpektif saya soal sejarah bolehlah sedikit berganti, tapi tidak langsung. Karena pada kelas 1-2 (bukan kelas 10-11) guru saya masih kurang komunikatif dalam menyampaikan sejarah. Seperti monolog dan membosankan. Baru kelas 3 saat guru sekaligus kepala sekolah Saya mengajar tentang sejarah, saya mulai tertarik memperhatikan. Sejarah jadi semacam kapsul waktu, pintu kemana saja dan semacam parodi atas pengetahuan. Sejarah menampakan cerita masa lampau dengan perspektif kekinian.


Saya mulai menikmati pelajaran sejarah -mungkin satu-satunya pelajaran yang saya sukai- saat SMA. Karena Saya kebetulan adalah siswa jurusan IPA. Otomatis PPKN dan Sejarah adalah kanal saya untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial. Alasan sebenarnya mungkin karena saya tidak suka berhitung, dan dua pelajaran itu hampir tidak ada hitung-hitungannya. Guru SMA saya sering mengajak kami untuk studi pustaka, artinya sering mengerjakan tugas di perpustakaan. Karena ia pikir satu buku tidak cukup merepresentasikan sejarah secara utuh. Ya meski pada saat itu semua pelajaran sejarah seragam, setidaknya guru saya itu berusaha mengajarkan tentang metode cross check dan perbandingan.


Fokus sejarah yang saya sukai pada saat itu tentu saja tentang kerajaan-kerajaan jawa kuno. Tentang kejatuhan Singosari, kebangkitan Kediri dan dominasi Majapahit. Sejarah seperti kebanyakan bangsa, menanamkan kebanggan fasis masa lampau. Saat itu saya tidak menyadari, hanya bisa membayangkan asiknya hidup pada zaman itu. Menjadi bagian dari kerajaan yang hampir menguasasi seluruh Asia Tenggara! Jagoan saya tentu adalah Hayam Wuruk dan Gajah Mada, yang belakangan menginspirasi saya untuk masuk ke universitas bernama sama, namun saya urungkan karena ongkosnya gila-gilaan.


Dan yang paling membosankan pada pelajaran sejarah tentu saja tentang sejarah kebangkitan bangsa. Tentang Boedi Oetomo, tentang Indisch Partij, tentang Soempah Pemoeda, tentang Proklamasi, dan tentu saja tentang PKI. PKI adalah bad guy, Villain, antagonis dan segala macam yang buruk-buruk. Setidaknya saat itu Saya percaya dengan sejarah versi buku dan menurut film yang dibintangi oleh Umar Khayam sebagai bung Karno. Dan kebenaran mengenai sejarah tentang PKI saat itu mutlak, karena memang tidak ada literatur pembanding di sekolah-sekolah, sementara internet masih jarang di kampung saya Bondowoso.


Soal PKI Guru SMA saya, hanya menjelaskan tentang garis besar sejarah PKI. Tentang tanggal, lokasi, tokoh dan tidak menyentuh substansi tentang maksud, kebenaran dan kronik Peristiwa PKI. Guru saya mungkin cari aman, dia tidak mau menjadi korban dari Fasis berlabel agama atau paramiliter telat puber yang menganggap sejarah soal PKI sudah final dan tamat.


Selepas SMA dan masuk Universitas Jember pada tahun 2005, kecintaan saya pada sejarah berlanjut. Awal masuk kuliah saya sering nongkrong di perpustakaan, selain ingin pamer dan dibilang mahasiswa pelahap buku, saya juga berburu mencari buku-buku tentang sejarah Jawa. Buruan saya tentu saja adalah buku Denis Lombard, tetapi kemudian merepet pada buku esai tentang masyarakat Jawa oleh Umar Khayam. Sejarah selalu punya sisi konyol untuk diingat, itu menurut saya pada saat membaca “Persekutuan Aneh” karangan Léonard Blussé.


Konsentrasi Saya soal sejarah agak terpecah, hal ini karena buntut ulah Mira Lesmana yang membuat Film tentang Soe Hok Gie, pemuda Hokian, penulis yang sempat bikin bandot tua macam Ibnu Sutowo pada zamannya gigit jari karena geram dituduh korup. Sebagai anak muda gaul dan eksism tentu saja saya tidak melepaskan kesempatan untuk melihat film tersebut. Apalagi yang main adalah Nikolas Saputra, idola baru saya sejak nonton Ada Apa Dengan Cinta. Sesederhana dan sejujur itulah alasan saya nonton Gie.


Film itu akan jadi sangat biasa jika tidak menceritakan fragmen dimana Gie memprotes dan hendak memukul guru yang dianggapnya tidak tahan kritik. Buat saya itu kejujuran yang paling manis, kemarahan, apapun labelnya harus dilampiaskan, namun dengan cerdas Gie hanya muntab dalam kata-kata, dalam tulisan, dan bukan dengan kekerasan. Sejak saat itulah saya mencintai Gie (bukan Nikolas Saputra), yang sampai saat ini suka cengeng mengingat Gie sebagai seorang wali yang bukan Islam.


Gara-gara film itu saya –seperti kebanyakan mahasiswa labil idealis kelas tahi kucing- sibuk mencari buku “Catatan Harian Seorang Demonstran” terbitan LP3ES. Alasannya tentu anda bisa membayangkan, cuma berharap bisa lebih paham mengenai sosok Gie.


Petualangan saya tentang Gie, tidak hanya berhenti pada buku catatan hariannya saja. Saya mulai rajin berburu buku semacam “Dibawah Lentera Merah”, “Orang-orang dipersimpangan Kiri Jalan”, dan “Zaman Peralihan”, yang terakhir saya sebutkan –secara ironis- saya baca di sebuah persewaan komik. “Kan (film) Gie lagi ngetop” kata penjaga rental komik tersebut, perihal kenapa dia memiliki buku itu. Dalam buku itu Gie secara nyalang-jalang-dan terang mengungkapkan pemikriannya mengenai orang-orang PKI paska peristiwa “G30S PKI”. Semacam counter-narrative atas pembacaan orang banyak mengenai PKI.


Mungkin sebab Gie pula, saya yang tidak suka cerita konspirasi, seperti dibisiki untuk mencari tahu tentang kisah ‘beneran’ dari PKI. Dengan semanngat saya mulai melacak beberapa literatur yang sempat ramai dilarang oleh pemerintah Orba. Semacam buku-buku milik Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka dan Rivai Apin. Saya sendiri menjadi heran, karena saya tidak menemukan fragmen atau bagian-bagian propaganda PKI yang konon menjadi alasan pelarangan beredarnya buku-buku tersebut. Jadilah pemahaman saya mengenai PKI hanya bersandar dari buku sejarah sekolah dulu dan catatan dari Gie. Sedang dari perpustakaan kampus saya sudah terlanjur curiga dan tidak percaya lagi.


Beberapa tahun setelah Saya masuk Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Tegalboto. Saya baru menemukan sedikit titik terang mengenai PKI. Buku pertama yang secara tak sengaja saya baca adalah buku Firman Lubis, Jakarta 1960-an. Didalamnya ada fragmen dimana Firman memandang perisiwa G30S PKI sebagai suatu tindakan makar yang memang seharusnya diganyang dengan pembubaran organisasi tersebut. Namun yang kemudian Ia sesalkan adalah mengapa kemudian pemimpin militer berkuasa saat itu menjadikan peristiwa G30S PKI sebagai dalih pembunuhan masal. “kejadian ini (pembantaian) menimbulkan rasa antipati saya terhadap penguasa militer an barisan rakyat yang terlibat dalam pembunuhan massal” ujarnya dalam buku tersebut, yang kemudian secara sinis ia sebut sebagai ‘naluri doktrin perang kill or be killed’.


Gie sendiri pernah menulis hal itu dalam “Disekitar peristiwa pembunuhan besar-besaran di Pulau Bali” dimana ia menulis dengn sangat cerdas ‘pasukan-pasukan partikelir mulai berkeliaran… dengan persenjataan dari pedang, pisau, pentungan…”. Teror tersebut oleh Gie dengan jelas diutarakan dengan ’selama tiga bulan, Bali yang indah, menjadi neraka penyembelihan’. Tujuan Gie jelas, ia ingin konsisten membela rakyat Indonesia yang juga kebetulan PKI. Hal ini ia maksudkan karena ia membenci kekerasan, apalagi pembunuhan.


Dalam surat kepada Herbert Feith tanggal 18 Februari 1968 Gie berkata mengenai tulisan itu untuk ‘saya berharap orang-orang indonesia mulai berani untuk mengutik-utik soal pembunuhan massal dan keadaan kamp-kamp konsentrasi…untuk membantu puluhan ribu penghuni kamp yang hanya ikut-ikutan komunis’. Paska G30S PKI banyak sekali gejolak rakyat –entah siapa yang memulai- yang berujung pada tindakan kesewenang-wenangan pada orang yang dituduh eks PKI. Herbert Feith sendiri adalah seorang kenalan Gie yang menulis tentang “the Fate of 80.000 political prisoners in Indonesia”, yang sebagian besar datanya saya yakin berasal dari investigasi Gie.


Dalam kesempatan lain Gie menulis lebih keras lagi kepada pemerintah tentang kematian Prof. Dr Sukirno seorang guru besar FKUI yang kebetulan menjadi ketua HSI. Organisasi kesarjanaan yang berafiliasi PKI. Dalam artikel yang berjudul “Sebuah Prinsip dan Kematian Profesor Tua”. Gie menuliskan bahwa “Kemerdekaan manusia dirampas begitu saja seperti seorang pencopet menjambret arloji mangsanya” dengan penekanan bahwa pemerintah sudah sangat begitu kejam dengan para tahanan politik yang dianggap dan belum terbukti bersalah dengan afiliasi PKI. Dengan sinis ia menyindir pemerintah kala itu dengan “Tahanan-tahanan ini mati dalam penjara tanpa diperdulikan oleh ‘negara’ kita yang konon berperikemanusiaan dan berketuhanan yang maha esa


Naluri membunuh dan prasangka semacam itu sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia yang hidup dan lahir sezaman dengan peristiwa G30S PKI. Buat sebagian warga negara Indonesia, label komunis adalah lisensi untuk melakukan pembunuhan. Bahkan pada tahun 1965 salah satu ormas Islam pernah memberlakukan fatwa halal untuk membunuh orang yang dianggap, (catat dianggap, bukan terbukti) sebagai PKI. Naluri semacam itu melekat erat dan menimbulkan paranoia tersendiri.


Pada tanggal 14 Desember 2006 misalnya, delapan tahun paska kejatuhan Soeharto. Pada sebuah diskusi mengenai Marxisme di toko buku Ultimus Bandung. Terjadi peristiwa pembubaran paksa terhadap diskusi tersebut. Korlap massa yang membubarkan diskusi tersebut berdalih bahwa Ajaran komunis sudah tidak relevan lagi dibicarakan!” Hal ini dikarenakan orang tua dari korlap aksi tersebut orang tuanya dibunuh oleh PKI. Alamak lalu bagaimana nasib anak dari dua juta orang mayat yang dianggap PKI pada tahun 1965? Apakah mereka punya hak untuk melakukan hal yang serupa?


Usaha untuk menarasikan suara-suara tertindas kobran PKI bukannya tidak pernah dilakukan. Sering malah, tetapi sebagian tidak dilakukan oleh orang Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah orang dari luar Indonesia. John Rosa misalnya, yang menuliskan Dalih Pembunuhan Massal yang bukunya pernah dilarang oleh kejaksaan tinggi Indonesia. Adalah salah satu dari sekian banyak yang mencoba memberikan perspektif baru tentang PKI. Dalam buku itu John Rosa banyak menguliti alasan pembunuhan massal orang-orang yang dituduh PKI seringkali karena prasangka, persaingan bisnis dan dendam. Boleh jadi John Rosa benar dan jika demikian maka bangsa kita berutang darah pada korban pembantaian tersebut.


Secara sadar saya mengakui bahwa tulisan ini bukan tentang PKI secara An Sich, tetapi lebih semacam panduan mengenai peta memahami permasalahan PKI dari seorang yang awam sejarah. Dengan jalan mencari, membaca dan membandingkan literatur-literatur yang ada. Baik secara resmi dikeluarkan oleh pemerintahan orde baru maupun yang lahir dari para penulis di luar negeri. Karena buat saya, mempelajari sejarah adalah mempelajari watak penguasa. Dimana para penulis mengambil posisi dalam dua kubu, mereka yang menentang dan mereka yang membangkang. Tinggal bagaimana anda berpihak saja, tentang Stigma dan Paranoia yang melekat, biar kedewasaan anda dalam membaca yang akan memberi jalan keluarnya.



*Naskah lomba mengobati luka sejarah yang gak lolos. Yang setelah saya baca memang ngelantur. Daripada mubanjir lebih baik di uplot. Bukankah demikian?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar