Sabtu, 22 Januari 2011

Quasimodo

Dalam sebuah catatan kecil, sebenarnya Victor Hugo memberikan peringatan mengenai Notre-Dame De Paris, kira-kira isinya adalah Hugo hendak memberikan perspektif baru tentang pesona. Bahwa tak melulu penampilan dan harta yang membuat sesorang terpikat. Anda boleh menyebut Hugo sebagai orang romantis, tetapi kata ‘naif’ adalah padan kata yang paling tepat untuk menggambarkan catatan Hugo tersebut.

Notre-Dame De Paris adalah kisah paling ‘Disney’ yang pernah dibuat oleh Hugo, dan kebetulan juga pada tahun 1998 Disney memutuskan membuat kartun dengan dasar novel tersebut. Alasan Disney pictures mungkin sederhana, meminjam nama besar Hugo untuk membuat versi anak-anak kisah roman paling sukses di Perancis pada masanya. Notre-Dame De Paris sendiri berkisah tentang gadis gipsi Esmeralda yang terjebak pada arus cinta empat pria pada abad XIX di Perancis. Dan tidak seperti kebanyakan ending roman cinta pada saat itu, Hugo memilihkan akhir cerita yang buat saya kelewat naif.

Beberapa abad setelah kelahiran Notre-Dame De Paris, dibelahan dunia lain tepatnya Di Slovakia, lahir seorang pria yang kelak akan menjadi pemikir paling ‘jalang’ pada abad XXI. Slavoj Zizek namanya, ia dilahirkan dari keluarga menengah terdidik yang juga atheist. Dimana keluarga itu mengilhaminya untuk bekerja keras dan membaca banyak buku dengan tekun. Kehidupan Zizek boleh anda bilang keras, jauh dari hingar bingar gejolak kaula muda, dan yang jelas bukan tipikal remaja gaul yang memiliki pesona. Semasa remaja ia terkenal angkuh dan tidak menarik. Dan yang jelas ia bukan representasi pria ideal dimata gadis-gadis usia sebayanya.

Zizek mencurahkan seluruh hidupnya untuk membaca buku dan akhirnya jatuh cinta pada dua hal ; Hegel dan Lenin. Yang mengantarkannya sebagai ‘pemikir paruh waktu dunia’. Tak kurang dari 30 buku sudah ia tulis. Mulai dari film-film holywood, filantropisme dan filsafat. Semuanya ditulis dengan sangat satir dan menohok. Ia seolah-olah ingin mengejek dunia dengan segala pengetahuan yang dimilikinya. Hingga pada suatu saat ia menikahi salah seorang playmates dari Hugh Hefner tuan tanah pemilik playboy mansion. Dan sekali lagi ia mengejek segala macam tatanan masyarakat dengan cerdas.

Jauh kembali mundur kebelakang awal mula peradaban, bangsa Yunani menciptakan dewa-dewi yang mewakili alam. Zeuz dewa petir, Hades Dewa kematian dan Hepaesteus dewa pertukangan. Homer dalam epos nya Odessey menggambarkan perangai dan citra para dewa tersebut dengan sarkastik. Zeus dewa tampan yang doyan maen perempuan ciptaannya sendiri, Hades dewa cerdas yang dikadalin kakaknya Zeus untuk menjaga akhirat. Dan Hepaesteus dewa pertukangan yang buruk rupa tapi cerdas tak terkira.

Entah kenapa orang-orang tadi tiba-tiba nongol dalam pikiran saya pagi ini. Quasimodo, Zizek dan Hepaesteus. Mereka orang-orang yang memiliki tampang minus, tetapi kelebihan lain yang luarbiasa. Secara akal tentunya. Mungkin saya sedang berargumen pada dunia, bahwa ini semua bukan tentang tampang, tetapi isi batok kepala dibalik tampang orang tersebut.

Suatu hari seorang kawan pernah meminta saya untuk jadi penulis tamu di web yang diasuhnya. Dengan senang hati saya menuliskan cara pandang saya memaknai sebuah karir. Buat saya pekerjaan, akan jauh lebih bermanfaat jika dilakukan dengan sepenuh hati. Namun bukan itu yang mendasari saya menulis hal itu, tetapi karena percakapan 3 gadis di ruang rektorat kampus saya. Mereka tergesa-gesa untuk segera lulus dan menikah dengan laki-laki yang mapan secara finanisal. Klasik memang, wanita membutuhkan kepastian hidup. Hanya laki-laki yang bekerja mapan dan mungkin kaya yang bisa memenuhi keriteria itu.

Dunia bukan disney dan saya bukan Zizek, lalu sendirian saya membayangkan diri saya kedepan. Bah macammana pulak? Pintar tidak, kaya tidak, cakep tidak. Mau bagaimana nasib saya nanti? Aish! Dalam abad media citra adalah segalanya. Bangsa dimana televisi adalah tuhan dan sinetron adalah sabda rasul-rasul ilahi, apaguna kecerdasan otak? Semua tak lebih dari onggokan sampah. Kira-kira semacam itulah ketakutan saya.

Tentunya saya tidak asal bicara, bukan sekali ini saja kemudian saya dihadapkan pada realitas keras tentang teori penampilan berbanding lurus dengan karir (dan cinta). Cobalah lihat kisah Hepaesteus yang diacuhkan Zeus, diasingkan karena wajahnya yang buruk. Ia menerima segala takdirnya dalam diam, membuat karya dalam keterasingan. Toh akhirnya, Hepaesteus lah yang membuatkan Zeus senjata petir andalannya itu. Apakah ia menuntut? Tidak. Hepaesteus – seperti halnya Quasimodo- terlalu sadar diri untuk tidak menuntut. Dunia nyata adalah dunia yang mengagungkan penampilan luar, yang meski seringkali salah, lebih daripada kemampuan otak seseorang.

Tetapi bukan berarti mereka yang buruk rupa akan selalu diam jika tertindas, saat Aphrodite, istri Hespaesteus yang sekaligus dewi kecantikan itu berselingkuh. Hepaesteus membalas dengan membuat jala besi yang menghilangkan kekuatan para dewa. Terkutuklah Aphrodite kemudian, yang karena kecantikan berakhir dalam kenistaan yang tak terucap. Demikian pula dengan Quasimodo saat dunia menghalangi cintanya pada Esmeralda, Quasimodo memutuskan untuk menghancurkan bala tentara yang coba mengeksekusi Esmeralda. Mereka si buruk rupa, seringkali, punya cara paling keji untuk membalas ketidakadilan.

Jika anda berpikir saya menjadi sentimentil dan lebay, boleh jadi, tapi hal itu bukan tidak mungkin. Meninjau masyarakat yang menjadikan gosip, uang dan feodalisme sebagai landasan berpikir. Penampilan dan rupa adalah berhala kedua. Seringkali malah saya mengalami prasangka terlebih dahulu daripada ujian kemampuan. Ketakutan saya tadi menjadi beralasan, bukan tidak mungkin saya akan berakhir sebagai renik yang tidak mampu bertahan. Hidup memang tidak seindah ending disney dan Victor Hugo adalah seorang pemimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar